Cerita Perjuangan Eks Buruh Migran Menuju Jambore

 

Yogyakarta (KBK) – Jarum jam baru menunjukan pukul tujuh malam. Meski masih sore namun kegelapan sudah mengepung Dusun Garongan, Turi, Slemen, DIY. Di tengah kegelapan tersebut tiba-tiba cahaya kuning terpancar dari kejauhan, sorotannya membelah barisan pohon salak pondoh yang rapat. Dibarengi deru suara mesin, sumber cahaya itu mendekat.

“Sugeng rawuh bapak ibu, monggo diparkirkan kijangnya,” tutur Agus Sugiarto Kepala Desa Wisata Garongan ketika menyambut kedatangan Edi beserta keluarga.

Malam itu Edi datang bersama Bilqis dan ketiga buah hatinya. Kendati kawasan Jogjakarta merupakan wilayah yang asing bagi pasutri asal Subang, Jawa Barat itu namun mereka tetap gigih terdorong rasa persatuan sesama buruh migran.

Edi dan Bilqis merupakan peserta pertama yang datang ke Desa Wisata Garongan guna mengikuti Jambore Keluarga Migran Indonesia pada tanggal 4 hingga 6 Febuari 2018.

“Wah saya yang pertama ya. Lokasinya agak gelap saya kira akan nyasar ke kuburan,” ujar Bilqis mantan TKI asal Negri Jiran sambil menenangkan anaknya yang nangis akibat kelelahan usai menempuh perjalanan selama 12 jam.

Bagi pasangan Edi dan Bilqis mengikuti Jambore merupakan suatu hal yang penting karena dari sana ia yakin bakal bisa mengantongi ilmu saat pulang kelak.

“Saya dapat undangan dari Pusat Bantuan Hukum Dompet Dhuafa selaku siempunya acara,” kata Bilqis.

Lain lagi dengan Fatimah mantan pekerja migran asal Mataram, NTB yang sengaja datang jauh-jauh menuju Jogja untuk ikut Jambore. Ketika undangan diterima olehnya 2 minggu sebelum hari H, ibu dua orang anak ini langsung registrasi via online supaya dirinya bisa mengikuti kelas pemberdayaan saat Jambore.

“Saya ingin kembangkan ekonmi kreatif di kampung. Sekalian mau silahturahmi sesama mantan TKi di sini,” ungkapnya.

Koordinator sekaligus panitia acara Jambore, Agus Salim menuturkan Jambore eks Keluarga Migran Indonesia yang baru pertama kali digelar ini diikuti oleh ratusan peserta dari segela pelosok Tanah Air. Selama Jambore tambah Agus, para peserta juga akan mengukuti kelas-kelas motivasi.

“Ada kelas pemberdayaan, pertanian, motivasi, kelas anak dan lain sebagainya,” ungkapnya

Advertisement