Saling Sanjung di Semenanjung Korea

Olimpiade Musim Dingin, PyeongChang, Korsel, 9 - 25 Feb. melupakan sejenak ketegangan antara dua negara serumpun yang masih berstatus perang, Korsel dan Korut

WALAU masih dalam tataran retorika, saling puji antara pemimpin dua negara serumpun Korea Selatan dan Korea Utara yang masih berstatus perang, jauh lebih baik ketimbang hujat-menghujat, dan saling ancam yang terjadi selama ini.

Pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un menurut Kantor Berita KCNA (13/2), menyampaikan pesannya untuk mempererat hubungan kedua negara dengan dialog dan rekonsiliasi.

Jong In kali ini agaknya terkesan atas sambutan hangat dan pelayanan istimewa yang diberikan tuan rumah olimpiade musim dingin 2018 di PyeongChang ,Korsel pada kontingen negaranya.

Pernyataan simpatik tersebut disampaikan Jong Un setelah rombongan delegasi termasuk sejumlah pejabat tinggi dipimpin saudara tiri perempuannya, Kim Yo Jong yang hadir di ajang pesta olahraga tersebut Korut kembali ke negaranya.

“Sangat mengesankan, “ tutur Jong Un seraya memuji penguasa di Seoul yang telah memprioritaskan kunjungan delegasi negaranya dan memberikan sambutan yang dinilainya menampilkan sikap “tulus dan iklas”.

Selain diterima langsung oleh Presiden Korsel Moon Jae-in di Istana Biru, delegasi Korut diinapkan di sebuah hotel bintang lima – kemewahan luar biasa di tengah kesederhanaan di negerinya – bahkan Presiden Jae-in mendampingi Yo Jong menyaksikan sejumlah event olimpiade dan pegelaran musik orkestra.

Ratusan anggota tim kesenian, grup orkestra dan pemandu sorak tetap tinggal di PyeongChang karena masih akan tampil di sejumlah acara, juga tim hoki es puteri gabungan kedua negara yang akan bertanding di final melawan tim Jepang.

Peredaan ketegangan dilaporkan pula berlangsung di tapal batas kedua negara yang kesehariannya diwarnai adu propaganda yang disuarakan melalui pengeras-pengeras suara berukuran raksasa dari masing-masing wilayah.

Sementara pihak Amerika Serikat, sekutu utama Korsel, menurut Presiden Korsel Jae-in, juga menyambut positif pendekatan kedua negara, bahkan juga dimungkinkan untuk ikut membuka dialog.

Namun mengingat fokus kebijakan AS adalah perlucutan senjata nuklir di Semenanjung Korea, diragukan apakah negara adi daya itu bersedia menggeser posisinya untuk berdialog sebelum Korut mematuhi larangan PBB terkait penghentian ujicoba rudal balistik dan nuklir.

Perang Korea antara 1951 – 1953 antara Korut didukung Uni Soviet dan China melawan Korsel yang didukung koalisi sejumlah negara pimpinan AS, merenggut jutaan nyawa kedua belah pihak.

OLimpiade PyeongChang yang berlangsung 9 sampai 25 Februari diikuti sekitar 2.900 atlit dari 92 negara dengan 102 pertandingan yang digelar di tujuh cabang olahraga. (Reuters/AFP/NS)

Advertisement