
JAKARTA – (KBKNEWS) – 4/10 – SEBAGAI ganti agar harga jual tahu dan tempe tidak dinaikkan akibat melonjaknya harga kedelai, para perajin menyiasatinya dengan memperkecil ukuran.
Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Kusnoto mengatakan, harga kedelai yang sebelumnya Rp 9.500/kilogram (kg) kini menjadi Rp 11.600/kg, bahkan ada yang mencapai Rp 12.000/kg di beberapa daerah.
Tekanan lonjakan harga pada 2026, menurut Kusnoto  dinilai lebih berat dibandingkan 2022 karena terjadi pada kedelai. Perajin juga menghadapi kenaikan berbagai biaya mulai dari BBM, plastik kemasan, hingga ongkos angkutan.
“Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini,” kata Kusnoto kepada detikcom, Sabtu (3/10).
Karena alasan itulah ukuran tahu dan tempe diperkecil. Dia mencontohkan, satu papan tempe yang sebelumya dipotong menjadi enam bagian, kini dijadikan tuujuh bagian dengan harga jual yang sama.
Kusnoto menjelaskan, misalnya dalam sehari perajin yang menggunakan 1 kuintal kedelai bisa menghasilkan 22 papan tempe. Jika satu batang dijual Rp 10.000 dan dipotong menjadi tujuh bagian, omzet kotornya Rp 1,54 juta. Namun, setelah dikurangi berbagai biaya produksi, keuntungan yang tersisa sangat tipis.
Berdasarkan data Gakoptindo harga jual tempe 250 gram dan tahu 500 gram dalam perbandingan tersebut masih tercatat Rp 5.000.Harga tahu dan tempe tidak naik karena perajin khawatir kehilangan pelanggan.
“Harga jual tahu dan tempe belum naik, alhasil disiasati mengecilkan ukuran. Sebagian besar mengurangi produksi, satu dua sudah mulai ada yang menghentikan produksinya karena dampak kedelai mahal,” lanjutnya.
Tak hanya tekanan harga kedelai yang naik. Berbagai komponen biaya produksi juga meningkat. Kurs dolar AS yang berada di kisaran Rp 14.500-15.500 pada 2022 kini diperkirakan Rp 18.000. Harga plastik juga meningkat dari sekitar Rp 20.000-25.000/kg pada 2022 menjadi Rp 35.000-45.000/kg pada 2026.
Stabilisasi harga kedelai
Di tengah tekanan biaya tersebut, perajin juga berharap pemerintah segera memperkuat kebijakan stabilisasi harga kedelai.
Kusnoto menyebut dirinya mendapat informasi mengenai program subsidi kedelai sebanyak sekitar 250 ribu ton dengan nilai sekitar Rp 500 miliar. Namun, ia mengatakan manfaat kebijakan tersebut belum dirasakan perajin.
Ia juga menyebut skema tersebut hanya dapat digunakan ketika harga kedelai di pasar sudah menembus sekitar Rp 12.500-13.000/kg. Kusnoto menyayangkan kebijakan ini, karena biaya produksi tahu tempe bukan hanya kedelai.
“Kalau harga terus naik yang pasti bagi mereka yang punya modal akan tetap berproduksi walaupun katakanlah kedelai sampai harga Rp 15.000/kg, karena orang punya duit berapapun tempe harganya pasti di beli, namun juga nggak sedikit perajin yang bisa bertahan produksi, alias ya akan gulung tikar,” pungkasnya.
Tahu-tempe adalah panganan utama sebagai teman lauk-pauk segala strata masyrakat di negeri ini, sehingga selayaknya pemerintah, dengan segala otoritas yang dimilikinya, perlu menjaga stabilitas harga komoditas ini. (CNNI/detik.com/ns)




