Terkait dengan fenomena cuaca belakangan. Tentu saja yang dilakukan DMC adalah melakukan pemantauan keadaan dan penyiagaan simpul-simpul relawan dan stakeholder lain (misalnya aparat dari instansi pemerintah) dari wilayah-wilayah yang berpotensi terlanda banjir.
Dalam konteks lingkungan Dompet Dhuafa, DMC juga membangun komunikasi aktif dengan pimpinan-pimpinan cabang DD untuk membantu penyiapan kesiapsiagaan dan jika dibutuhkan, diharapkan bisa turut serta dalam upaya penanganan.
Dalam pemantauan itu, minimalnya, DMC mengoptimalkan kanal-kanal media sosial, khususnya twitter (@DMCDompetDhaufa) untuk menyebarluaskan informasi-informasi tersaring mengenai situasi-situasi yang berpotensi menimbulkan bahaya banjir atau menginformasikan kejadian-kejadian yang terjadi.
Berdasarkan pemantauan kami, meski beberapa kali mendapatkan laporan banjir, namun kejadian-kejadian banjir yang membutuhkan penanganan darurat itu masih belum terlalu banyak. Hanya saja memang, sebaran kejadian yang cukup luas kadang menyulitkan upaya pemantauan keadaan. Sementara, pemantauan inilah yang menjadi penentu apakah perlu dikirim tenaga bantuan atau tidak.
Dari sisi sumberdaya, kami kira saat ini pemerintah, khususnya BNPB/BPBD, dinas sosial, dinas kesehatan, sudah sama-sama paham jika memasuki puncak musim penghujan pasti akan disertai dengan kejadian-kejadian seperti banjir dan pergerakan tanah (longsor).
Kami melihat, adanya upaya kesiapsiagaan dari pemerintah. Hanya saja memang, seperti yang kami sampaikan, karena sebaran kejadian yang luas, menyebabkan tidak semua wilayah dapat dijangkau dalam waktu cepat.
Kami memang prihatin karena masih belum bisa mancapai target “zero death” dalam kasus banjir. Terakhir informasi kematian akibat banjir kami dengar dari Brebes yang menginformasikan ada dua warga yang meninggal dunia karena terseret dan tenggelam arus banjir.
Kami juga mendengar ada warga Jakarta yang meninggal karena tersengat aliran listrik saat banjir melanda Jakarta Oktober tahun lalu.
Oleh karenanya, “zero death” masih menjadi target kami selaku salah-satu stakeholder dalam penanganan bencana, khususnya dalam penanganan bencana banjir pada saat ini. Kami berupaya sebisa mungkin untuk bisa membantu pemerintah menekan angka kematian akibat banjir melalui beberapa cara, mulai dari sosialisasi ke publik tentang langkah-langkah pengamanan dan penyelamatan diri pada saat banjir, hingga menyiagakan tim respon cepat yang memiliki kapasitas untuk membantu penanganan kedaruratan dan penyelamatan di atas air (water rescue).
Selain mengurangi potensi kematian akibat banjir, hal lain yang menjadi perhatian kami adalah mengurangi jumlah warga terdampak, khususnya warga terdampak yang mengalami kesakitan akibat bencana banjir. Di wilayah-wilayah yang sering terlanda banjir, kami meminta rekan-rekan relawan untuk membuat semacam pemetaan sederhana mengenai kelompok-kelompok warga yang tergolong sebagai kelompok rentan (bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan warga yang memiliki kebutuhan khusus). Penanganan terhadap mereka akan diprioritaskan, agar banjir tidak menambah kerentanan mereka.
Hal berikutnya membantu pengurangan kerusakan dan kerugian serta membantu percepatan pemulihan sosial-ekonomi. Hal ini relatif baru bagi karena biasanya penanganan sosial ekonomi dilakukan pada saat masa pemulihan. Dengan dinamika banjir yang dinamis, cepat datang dan cepat pergi, dan karakteristik masyarakat khususnya di kawasan perkotaan yang sebagian besar mengandalkan pemasukan sektor informal (daily income), kami melihat respon pada sektor mata-pencaharian harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan upaya penyelamatan jiwa dan pengurangan kerentanan.
Jika saat bencana, sektor mata pencahariannya tidak terganggu, maka masyarakat terdampak bisa melakukan pemulihan secara swadaya dalam waktu yang lebih cepat.





