SEBELUM Indonesia merdeka bangsa Indonesia sudah menunggu datangnya Ratu Adil, yang dalam Islam dikenal sebagai Imam Mahdi. Sesuai Ramalan Jayabaya Orang Jawa menyebutnya sebagai Satria Piningit, ada pula yang mengistilahkan Sabda Palon. Katanya, itu tanda datangnya kemakmuran. Tapi yang terjadi sekarang; Ratu Adil tak kunjung tiba, yang ada justru Ratu Atut diadili. Bahkan kini “ratu” Daerah yang namanya bupati,walikota, sampai gubernur banyak yang diadili.
Generasi muda jaman now, sudah tidak tahu, apa lagi percaya Ramalan Jayabaya. Kebanyakan orang Jakarta, tahunya malah Universitas Jayabaya, perguruan tinggi swasta yang didirikan oleh almarhum Prof. Dr. Muslim Taher. Atau juga KA Jayabaya Jakarta-Surabaya-Malang. Kaum urban asal Jatim, pasti mengenal KA legendaris ini.
Bung Karno sendiri sebagai bapak pendiri bangsa, juga sangat mempercayai ramalan tersebut. Dalam sidang pengadilan di landrad Bandung, Bung Karno memberikan pembelaan dalam naskah yang berjudul “Indonesia menggugat”. Di sana Bung Karno menulis, “Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ?”
Orang Jawa jaman old, pasti lebih tahu tentang ramalan Jaya Baya. Raja Kediri di abad 12 itu menjanjikan dan meramalkan Indonesia pada saatnya nanti akan mengalami zaman keemasan. Apa itu zaman keemasan? Maksudnya tentu saja, ketika rakyatnya hidup dalam negara yang adil dan makmur. Bukan dalam arti di mana-mana orang pakai gigi emas.
Berpuluh-puluh tahun setelah Bung Karno wafat, paranormal seperti Permadi SH mulai menebak-nebak, siapa gerangan Ratu Adil dimaksud. Ratu Adil itu adalah “Satriya Piningit”, yang akan akan “na-ta-na-go-ro” (menata negara) setelah terjadi goro-goro.
Istilah “Notonagoro” misalnya, dikotak-katik bahwa No itu adalah presiden yang bernama Sukarno, To adalah Soeharto. Tapi ke sononya kok tidak lagi cocok? Sebab presiden ke-3 BJ Habibibie, ke-4 Gus Dur, ke-5 Megawati.
Lalu ada juga yang menduga, “Ratu Adil” itu mungkin SBY, atau mungkin juga Jokowi sekarang. Tapi yang jelas, di era SBY maupun Jokowi kini, negeri yang adil dan makmur itu belum juga tercapai. Kalaupun ada yang makmur, hanyalah para konglomerat, pejabat dan politisi Senayan.
Dalam Islam merujuk hadits Nabi, Ratu Adil yang disebut sebagai Imam Mahdi itu akan datang pada saatnya nanti, meski masa pemerintahannya hanya sekitar 7 tahun. Dajjal pun kemudian turun ke bumi untuk memusuhi Iman Mahdi, sehingga Allah Swt kemudian membangkitkan kembali Nabi Isa, turun ke bumi, untuk membantu Imam Mahdi melawan Dajjal. Di situlah tiba kiamat, ketika malaikat Israfil meniup sangsakala. Dunia hancur lebur dan manusia tinggal di dua tempat, yang banyak amal di surga, yang banyak dosa di neraka.
Paling ironis dan tragis, di kala rakyat menunggu datangnya Ratu Adil yang hadir justru “Bupati atau gubernur diadili”, termasuk Ratu Atut gubernur Banten tempo hari. Ini terjadi di mana-mana. Para gubernur dan bupati setelah dikejar-kejar KPK, akhirnya masuk sidang Tipikor dan berakhir di LP Sukamiskin Bandung.
Mendagri Tjahjo Kumolo pernah mengatakan, sejak 2004 hingga 2017, terdapat 313 Kepala Daerah yang terlibat korupsi, umumnya penyuapan. Mereka terdiri dari bupati, walikota dan gubernur. “Satriya piningit” ternyata malah Kepala Daerah yang “dipingit” di sel KPK atau penjara Sukamiskin. (CantrikMetaram)





