PENDAWA BOYONG

Kasihan Aswatama; sudah tewas terkena keris Pulanggeni, masih terinjak pula oleh Werkudara.

SESUAI perjanjian perang yang diketahui oleh penguasa Jonggring Salaka, setelah Kurawa 100 binasa dalam Perang Baratayuda, secara defakto dan deyure negeri Ngastina kembali pada keluarga Pendawa Lima. Semua aset menjadi milik Ngamarta. Termasuk jika ada janda-janda cantik bekas para petinggi Ngastina. Sayang, semuanya ikut binasa. Bahkan janda Banowati mantan istri Prabu Duryudana pun juga lari masuk hutan di hari-hari akhir Baratayuda.

Begitu pula jika ada beban utang yang pernah dibuat rezim Duryudana, Pendawa lah yang harus bertanggungjawab membayar. Kini bendahara negara Ngamarta sibuk mengumpulkan data, seberapa banyak utang-utang luar negeri yang dibuat rezim Duryudana.

“Menurut laporan akuntan publik, Prabu Duryudana selaku raja pernah pinjam ke Bank Dunia 1 juta dolar, tapi baru nyicil 3 kali. Ini menjadi tanggungjawab kita, bagaimana kangmas Prabu Kresna?” kata Prabu Puntadewa.

“Ya itu sudah menjadi resiko. Sayang ya, chanel kita Dewi Sri Mulyani di sana, sudah kembali ke Indonesia. Jika masih dia, mungkin bisa menjadwalkan kembali utang-utang itu.” Saran raja Dwarawati itu.

Tapi Prabu Kresna memang diplomat ulung, ahli lobi-lobi politik termasuk utang-piutang. Maka hanya mengirim Harjuna yang notabene jadi mantunya segenap dewa di Kahyangan, penguasa baru Ngastina dapat keringanan. Kini Prabu Puntadewa tinggal memikirkan, kapan bisa boyongan ke Ngastina. Jangan sampai negeri itu terlalu lama vacum tanpa penguasa, salah-salah nanti malah dikuasai para preman dan PKL.

Untuk mengurangi kepadatan penduduk negeri Ngamarta, Prabu Puntadewa memang ingin memindahkan sebagian rakyatnya ke Ngastina, khususnya PNS-PNS yang sudah punya pekerjaan jelas. Bagi yang masih lontang-lantung, dilarang ikut urbanisasi sebab justru akan menjadi beban sosial negeri yang baru kalah perang tersebut.

“Dimas Sencaki, kebetulan ini berbarengan dengan arus balik Liburan Imlek. Kamu harus waspada, jangan sampai rakyat Ngamarta yang tak jelas pekerjaannya ikut nimbrung jadi “wajah baru” di Ngastina.”

“Siap boss. Aku sudah siapkan puluhan truk Satpol PP, untuk memulangkan kembali wajah-wajah baru yang nekad masuk Ngastina baru.” Lapor Setyaki.

“Tapi ada info, banyak juga yang bawa becak ke sini tuh,” kata Betara Kresna.

“Nanti saya kirim saja ke DKI Jakarta. Di sana gubernurnya sangat ramah tukang becak….,” jawab Sencaki tak kehabisan akal.

Sementara itu di pertapan Grojogan Sewu Prabu Baladewa sedang ngopi pagi ditemani Sencaka, ponakan dari Prabu Kresna. Mereka berdua sambil ngemil kue-kue. Ada biskuit Kong Guan, lanting Kebumen, intip goreng ala Solo. Masih kuat makan yang keras-keras? Kuat saja, wong Prabu Baladewa pakai gigi palsu.

“Sencaka, suara warr werrr…. dan dentuman meriam seminggu lalu itu suara apa sih?” Prabu Baladewa bertanya sambil mengunyah kacang bawang.

“Oo itu latihan menjinakkan bom dan Prabu Duryudana memantau lewat helikopter.” Jawab Sencaka berbohong.

Prabu Baladewa manggut-manggut kayak Pak Harto. Dia tak sadar bahwa telah dikempongi (dibohongi). Suara itu sebetulnya suara pertempuan dari Tegal Kurusetra, antara Pendawa lawan Kurawa. Baladewa sengaja dikucilkan oleh Betara Kresna ke sini, agar tidak menyaksikan Perang Baratayuda. Sencaka sebagai ajudan harus mengawasi Prabu Baladewa. Tak boleh pegang HP, baca koran dan nonton TV. Beruntung Baladewa juga buta internet, sehingga meski kehilangan informasi tak merasa rugi benar.

Baru saja Prabu Baladewa menghirup kopi yang aman di lambung dan tidak bikin deg-degan, mendadak masuk tamu tak diundang. Dia ternyata Kartomarmo dalam kondisi luka parah. Prabu Baladewa segera menghampiri menanyakan gerangan apa yang terjadi.

“Kangmas Baladewa ketinggalan informasi. Perang Baratayuda telah…..”, kata Kartomarmo, tapi belum selesai ngomong langsung ditembak kepalanya oleh Sencaka dan wasalam.

“Hai Sencaka, kenapa Kartomarmo kamu bunuh? Kurang ajar kamu. Informasi saja kamu korupsi, apalagi bisnis minyak…..!” maki Prabu Baladewa, dan pistol di tangan Sencaka direbut dan langsung ditembakkan ke kepala sang ponakan, jedorrr dan Sencaka pun mati di tempat.

Sadar apa yang telah terjadi, Prabu Baladewa segera tinggalkan Grojogan Sewu, membiarkan mayat Kartomarmo dan Sencaka dimakan belatung. Kasihan sungguh Kartomarmo ini. Beberapa jam sebelumnya di hutan dia ketemu Banowati yang cantik dan siap nembaknya pakai “pistol gombyok”, tapi gagal. Giliran kesasar sampai Grojogan Sewu malah mati ditembak pistol beneran.

Tiba di jalan raya jalur pantura, Prabu Baladewa melihat iring-iringan kendaraan dari arah barat. Melihat wajah-wajah yang ada di dalamnya, sepertinya dia banyak yang kenal. Maka langsung saja Prabu Baladewa berlari-lari kecil menghampiri.

“Dimas Kresna, aku ikuuuuut….!” Teriak Prabu Baladewa setelah mendekati iring-iringan kendaraan. Dia memang melihat iring-iringan bis keluarga Pendawa terjebak macet bareng arus balik liburan Imlek.

“Lho, kangmas Baladewa kok ada di sini?”

“Jangan belagak pilon, lu ah. Kenapa aku kamu kucilkan dari Perang Baratayuda?” sergah Prabu Baladewa. Untung saja segera dilerai Sencaki, sehingga kakak beradik ini tak jadi bertikai di jalan raya.

Dua hari kemudian rombongan Pendawa boyongan tiba di Ngastina. Semua tokoh penting masuk Istana Gajahoya, sedangkan Sencaki sibuk mengawasi siapa saja “wajah baru” tak berkompeten yang sengaja ikut-ikutan masuk  Ngastina. KTP dan surat jalan diperiksa dengan seksama dalam tempoh sesingkat-singkatnya.

“Kalau tak punya pekerjaan jelas, jangan coba-coba masuk Ngastina.” Ancam Sencaki yang kumisnya tebal, sehingga layak jadi Kepala Polisi.

Sangat kebetulan sekali, begitu sampai istana Ngastina, Dewi Utari yang hamil tua langsung mbrojoli (melahirkan) dan bayi lelaki itu diberi nama Parikesit.  Untung saja sudah tiba di Istana Ngastina. Jika lahiran di jalan, pasti diberi nama Jonatan alias: brojol nang ratan (melahirkan di jalan).

Malam harinya, karena semua kecapekan baru pukul 20:00 sudah masuk ke kamar masing-masing. Paling asyik tentu saja Harjuna, siang tadi dia berhasil menemukan Banowati yang terlunta-lunta, sehingga malam harinya pun tidur bareng dengan segala aktivitasnya.

Di tempat yang sama tapi beda ruangan, ada bayangan sosok manusia yang mengendap-endap masuk dalam Istana. Dialah Aswatama, prajurit tersisa dari Ngastina. Di pojok ruangan dia melihat seseorang tidur ngorok dengan posisi miring. Begitu didekati, ternyata itu Trustajumena putra bungsu Prabu Drupada, sekaligus adik kandung Srikandi. Amarahnya langsung membara. Dia ingat, sang ayah Begawan Durna mati karena dipenggal olehnya.

“Terimalah pembalasanku sekarang juga.” Kata Aswatama, dan Trustajumena pun mati digoroknya. Potongan kepala itu kemudian ditendang-tendang, seperti bola Piala Presiden, Persija – Bali United di GBK Senayan.

Legalah Aswatama, karena berhasil menuntut balas. Dia terus mencari sesuatu, yakni ruang bayi tempat di mana Parikesit dirawat. Aswatama harus membunuh bayi itu, agar dinasti Ngastina tak berlanjut. Siapa tahu dengan kematian bayi Parikesit, nantinya justru dinasti Sokalima yang berkuasa. Dalam politik semuanya bisa terjadi, apa lagi bila diperkuat UU MD3.

Tiba-tiba Aswatama melihat boks bayi, dengan diterangi lilin. Ini dia! Dia pun segera mendekati boks itu, dan tangan siap mencekiknya. Tapi tiba-tiba bayi menangis, kaki menendang keris Pulanggeni dan mencelat mengenani dada Aswatama. Ini sungguh di luar dugaan, dan Aswatama pun terjengkang mandi darah.

“Maling-maliiiing…..!” tiba-tiba terdengar suara orang berteriak di kamar bayi Parikesit.

Harjuna yang baru saja menyelesaikan pertandingan 2-0 lawan Banowati, segera bergegas keluar. Dia mendapatkan Aswatama anak Pendita Durna almarhum, mati kena keris Pulanggeni. Lebih tragis, dalam kondisi demikian dia masih diinjak-injak pula oleh Werkudara. Di ruangan yang lain juga terjadi tragedi mengerikan. Gara-gara teriakan “maling” tadi, semua menjadi panik, berlarian saling tabrak. Sencaki mati tertimpa pintu, begitu pula Sembadra. Bahkan Banowati yang usai berkencan dengan Harjuna, ternyata juga tewas dibunuh Aswatama sebelumnya. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement