Jangan Makan Iwak Tempe

Budidaya ikan lele, dipasok untuk para pedagang pecel lele di Ibukota.

SAAT mengunjungi unit pembenihan ikan nila kelompok “Mina Ngremboko”, di Dusun Bokesan, Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman (DIY), Mentri Kelautan & Perikanan Susi Pudjiastuti mengingatkan, diperbanyak makan ikan. “ Ikan sungguhan, jangan hanya makan iwak tempe dan iwak tahu!” pesan Bu Mentri beberapa hari lalu.

Pesan Bu Mentri ini sangat bisa dimaklumi. Sebab bagi orang Yogyakarta termasuk Jawa Tengah, memang beda dengan orang Jatim khususnya Surabaya, dalam mengartikan iwak. Iwak-nya orang Jateng-DIY, adalah ikan yang hidup di laut dan air tawar, termasuk juga iwak dalam pengertian daging, seperti iwak kebo, iwak sapi, dan sebagainya lagi.

Berbeda bagi orang Surabaya termasuk Jatim keseluruhan, iwak di sana mengandung makna lauk, bukan ikan maupun daging. Jadi jika Anda di Surabaya atau Malang diajak makan pakai iwak tempe atau iwak tahu, yang terhidang di depan kita hanyalah tempe yang digoreng atau tahu yang dibacem. Dalam pengertian masyarakat Jatim umumnya, iwak adalah lauk bagi orang DIY dan Jateng.

Maka sungguh luar biasa orang Jatim ini. Dalam  masa sulit harga-harga mahal,  di sana penduduknya tetap makan pakai iwak. Tapi ya itu tadi, bukan iwak kebo atau iwak gurame, melainkan iwak tahu, iwak tempe, iwak peyek, dan sebagainya. Ini iwak yang dihasilkan dari kacang-kacangan, yang bebas kolestrol dan kaya akan protein.

Meski kacang-kacangan kelihatannya sepele, tapi sangat berguna bagi pembangunan tubuh. Para ahli gizi mengatakan, kacang-kacangan dan biji-bijian itu sangat membantu pencernaan dan membersihkan saluran pencernaan, sekaligus juga membantu tubuh untuk membangun otot dan mencegah diabates. Maka lihat burung puter itu, karena banyak makan biji kacang ijo, dia betah manggung sepanjang hari dan tak pernah terkena kencing manis.

Kacang-kacangan sebagai bahan utama iwak tempe dan iwak tahu, memang banyak mengandung protein dan carbohidrat. Kata ahli gizi pula, kedelai mengandung protein 35 % sampai 40 – 43 %, ikan  20-35 gr,  dada ayam  28 gr,  daging domba muda ~30 gr, daging sapi 25 – 36 gr, Telur  12.6 gr/100gr, keju ( 21 gr/100gr ), dan gandum 16.9g/100 gr.

Tempe itu makanan lezat yang enak dibacem dan perlu! Tapi ironisnya, meski begitu banyak manfaat tempe-tahu untuk pertumbuhan tubuh, kenapa untuk pembinaan karakter bangsa tempe dan tahu justru diremehkan. Lihat saja pidato Bung Karno ketika melawan imperialis tahun 1960-an, beliau selalu mengatakan, “Kita bangsa besar, bukan bangsa tempe. Lebih baik makan gaplek  tapi merdeka ketimbang makan bistik tapi jadi budak!”

Gaplek yang tahun 1960-1980-an masih jadi menu sehari-hari di daerah Gunung Kidul, kini sudah mulai ditinggalkan. Mereka kini sudah makan nasi putih rajalele Delangggu atau beras menthik Nganjuk. Tapi lagi-lagi tempe dan tahu tetap menjadi lauk atau iwaknya.

Paralel dengan seruan Mentri Susi Pudjiastuti, Gubernur Ahok dulu juga sering menegaskan perlunya rakyat Jakarta banyak makan ikan. Sebab ikan menjadikan otak cerdas dan memperkuat ketahanan tubuh. Secara umum, rata-rata orang Indonesia setahun hanya makan ikan sebanyak 41 Kg, Malaysia 70 Kg, Singapura 80 Kg, bahkan Jepang sampai 100 Kg setahun. Orang Indonesia paling banyak justru makan ikan asin, karena harganya murah meriah. (Cantrik Metaram)

Advertisement