WARA Sembadra yang telah diperistri Harjuna, konon merupakan titisan Dewi Widowati. Siapakah Widowati itu, apakah masih keluarga bintang film Wieke Widowati? Bukan, tapi namanya sangat ngetop dalam dunia perwayangan. Dia adalah bidadari jenis super, yang menjadi idola setiap wayang dalam kotak. Bukan saja karena kecantikannya, tapi juga sangat pintar membahagiakan suami di atas ranjang. Maka siapapun berhasil menikahi dirinya, bakal bahagia dunia akhirat.
Tapi sebagai bidadari Widowati hanya dialokasikan bagi kalangan dewa semata. Wayang ngercapada hanya sekedar dapat duplikat atawa titisannya. Itupun tak semua wayang kebagian. Kata mereka yang telah berhasil mendapatkannya, setiap wanita yang titisan Widowati akan membuat kaum lelaki gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng (menggeliat ketagihan).
“Dewi Sinta memang oye….,” kata Prabu Rama yang mendapatkan istri juga titisan Widowati.
“Wara Sembadra memang beda,” kata Harjuna yang juga beristrikan wanita titisan Widowati.
Gara-gara terlalu fanatik pada titisan Widowati, makanya Burisrawa dari kesatrian Cindekembang, memilih tidak kawin seumur hidup jika bukan diladeni (beristrikan) putri bungsu Prabu Basudewa dari negri Mandura itu. Karenanya meski umur sudah kepala empat, dia masih seperti Rinso: mencuci sendiri. Di rumahnya yang besar dan indah di Cindekembang Regency, dia hanya ditemani pembantu. Jadi sejak Burisrawa sunat usia 14 tahun, dia belum pernah mbelah duren!
“Sudahlah Buris, kamu jangan menunggu godot. Mending ambil perempuan yang lain saja. Ada janda cantik lagi ngetop, namanya Ayu Tingting, mau? Nanti Oom siap ngelamar buat kamu.” Bujuk Patih Sengkuni.
“Nggak ah, dia kan sudah dinikahi Boy Wlilliam. Pokoknya kalau bukan Sembadra, enggaklah..!” jawab Burisrawa tak berubah.
“O lha cah edan. Geyong-geyong woh kuweni, bojone uwong kok dienteni (bini orang kok ditunggui),” gerutu Patih Sengkuni.
Demikianlah, karena kesibukan sebagai pejabat negara Patih Sengkuni tak sempat lagi mengarahkan masa depan Burisrawa. Kabar terakhir bujang lapok dari Mandaraka itu pengin jadi politisi, tapi gagal nyaleg karena partai Idaman yang jadi idam-idamannya tak lolos ferivikasi di KPU. Jadi lebai malang sekarang Burisrawa.
Tiba-tiba ada laporan mengejutkan yang diterima Prabu Duryudana. Berdasarkan data-data dari PPATK diketahui bahwa Burisrawa memarkir uangnya di BCA (Bank Central Astina) sebanyak Rp 90 miliar. Sebagai pejabat golongan III-c di Ngastina yang gajinya tak sampai Rp 10 juta, punya asset sebanyak itu sungguh tak masuk akal. Lalu disposisi laporan itu menulis: patut diduga itu hasil korupsi.
“Paman Sengkuni, cek laporan itu dan segera kirim hasilnya ke saya. Saya saja yang raja tak punya rekening sebanyak itu.” Perintah Prabu Duryudana.
“Kalau Burisrawa bisnis, ya wajar saja dong. Saya sendiri kalau ngandelin gaji, mana cukup.” Jawab Patih Sengkuni, seperti Gubernur Sulut Olly Dondokambey.
Koran dan TV pun meramaikan pekabaran itu, di antaranya diberi judul: Burisrawa, gendut orangnya gendut pula rekeningnya. PPATK juga menemukan data, duit itu sebagian mengalir ke wayang kelompok radikal yang hobinya demo. Bahkan di Youtube ada video Burisrawa berjubah ikut demo, bolehnya pinjam Betara Yamadipati.
Tapi hanya seminggu saja berita rekening gendut Buriswara menghangat, tapi setelahnya adem ayem saja. Bahkan Prabu Duryudana kemudian mengaku, tidak dalam posisi untuk membuka rekening tersebut, karena itu merupakan rahasia bank. Jadi meski Prabu Duryudana berkumis tebal macam Gatutkaca, tapi tak punya nyali. Kemungkinan, karena Burisrawa adalah adik iparnya.
“Di Ngastina PNS boleh jadi pengusaha, sepanjang tidak mengganggu jam kerja. Jangankan jadi pengusaha, mimpin partai juga tak dilarang. Hak politik setiap warga negara dijamin.” Kata Prabu Duryudana.
“Itu namanya keberpihakan, ya Pak ya….?” tambah pers dan Prabu Duryudana mengangguk-angguk puas, karena berhasil belokkan masalah pada pers.
Sementara rakyat Ngastina bingung dengan hilangnya keterbukaan informasi, di negeri Ngamarta keluarga besar kerajaan tengah dilanda prihatin. Sebab tak ada angin tak ada hujan Wara Sembadra mendadak sakit stress. Satpol PP di Madukara menjaga dengan ketat, takut keluar rumah dan menyerang pondok pesantren atau mengintimidasi ustadz.
Sudah dibawa ke paranormal Ki Jaka Bodo segala, tapi tidak ada perubahan. Bahkan belakangan ngomyang (ngomong sendiri) dan menyebut-nyebut nama Burisrawa sebagai may darling. Paling celaka, setiap Harjuna suaminya mendekat malah didorong-dorong supaya pergi.
“Jangan lagi sentuh diriku. Cintaku hanya untuk Mas Burisrawa. Oh mama, aku minta kawin. Kawin dengan siapa, dengan mas Burisrawa…..,” begitu kata Sembadra menirukan lagunya Oslan Husein tahun 1970-an.
“Nyebut, nyebut ……dhiajeng. Kamu adalah istriku tersayang dari istri-istriku yang lain,” ujar Harjuna merajuk.
Mungkinkah Wara Sembadra ngengleng (edan) karena kena guna-guna Burisrawa itu sendiri? Dugaan ke sana memang ada, tapi Harjuna dan keluarga besar Ngamarta tak berani menuduh sembarangan, karena sekedar kata-kata pun bisa dijadikan bukti. Dituntut di pengadilan pun sangat mungkin. Sebab merendahkan martabat wakil rakyat bisa dipidana, apa lagi merendahkan rakyat itu sendiri.
Gara-gara Sembadra jadi edan, keluarga Pandawa dan Dwarawati jadi sibuk. Apa sesungguhnya yang telah terjadi? Mana mungkin Sembadra yang dulu benci setengah mati kini balik tergila-gila pada Burisrawa. Paling konyol, Pendita Durna dan Patih Sengkuni justru menyarankan, biar cepat sembuh kasih saja Wara Sembadra pada Burisrawa. Soal janda atau bekas orang, baginya nggak masalah. Lalu bagaimana dengan Harjuna suaminya? Soal Harjuna, kan stok bininya masih banyak.
“Dimas Harjuna, bagaimana jika Sembadra dinikahi Burisrawa, yang penting selamatkan nyawa dulu.” Saran Prabu Kresna selaku kakak kandung Sembadra.
“Sampeyan ini Kresna cap apa, saran gila kok dilayani. Nggak bisa, nggak bakalan Sembadra kuserahkan pada Burisrawa.” Jawab Harjuna ketus, karena tersinggung.
Soal dugaan Burisrawa mengguna-guna istrinya, dia tak marah benar, karena sulit dibuktikan. Tapi ketika di tempat terpisah kesatria Cindekembang itu bikin konperensi pers bahwa siap menerima transveran Wara Sembadra dengan harga Rp 50 miliar, Harjuna marah besar. Memangnya pemain bola, sehingga ditransver dengan uang sebagai tolok ukurnya.
Harjuna menjadi demikian penasaran, kenapa Burisrawa bisa menjadi begitu kaya raya. Dia mengumpulkan informasi, dari mana asal usul uang yang tanpa batas itu. Sebagai kesatria yang banyak chanel di Jonggring Salaka, dia segera dapat data akurat dari Betara Brama, mertua Harjuna dari Dewi Dresanala.
“Dia kerja sama dengan Betari Durga, jual beli BBM dan kayu gelap. Tapi ingat, jangan bilang dari ulun lho ya?”
“Terima kasih pukulun. Akan saya habisi dia…..”
Melabrak Betari Durga ke Pasetran Gandamayit? Bukan! Jusru Harjuna langsung sowan ke Jonggring Salaka menghadap Betara Guru, membeberkan segala kejahatan Burisrawa dari soal rekening gendut sampai masalah Wara Sembadra yang stress dan menyebut-nyebut nama Burisrawa. Bagi Bethara Guru, ini laporan kesekian kalinya bahwa Betari Durga–Burisrawa berkoalisi dalam kesesatan. Maka hari itu huga keduanya dipanggil harus menghadap ke Bale Marcakunda.
“Benar kalian berkoalisi dalam kesesatan. Punya rekening gendut dan masih juga mengguna-guna Sembadra? Jawab!” hardik Betara Guru.
“Aku hanya disuruh Burisrawa kok pukulun” Betari Durga mencoba berkelit.
Berdasarkan bukti-bukti yang ada, keduanya memang bersekongkol. Praktek illegal loging dan penimbunan minyak menyebabkan Burisrawa kaya raya, dan sebagian mengalir ke Betari Durga. Keduanya kini diancam, jika tak kembalikan Wara Sembadra menjadi sehat, keduanya akan dimasukkan ke kawah Candradimuka. Sedangkan harta rekening gendut milikya disita untuk kahyangan.
“Ya kami nurut pukulun. Tapi harta jangan disita dong, nanti keluarga saya makan apa?” keluh Betari Durga mirip terdakwa oknum BPK. (Ki Guna Watoncarita)



