Damai di Korea: Serius kah?

Ujaran kebencian dan saling ancam antara pemimpin Korut dan Korsel reda, berganti "PDKT" menjelang KTT kedua negara yang akan digelar di kawasan bebas militer di Panmunyom, April

RENCANA penyelenggaraan KTT Korea Selatan dan Korea Utara di zona bebas militer (DMZ) Panmunyom, April nanti diharapkan mengawali proses menuju perdamaian di Semenanjung Korea yang didambakan masyarakat internasional selama ini.

Namun di balik sambutan positif sejumlah pihak mengenai asa terwujudnya perdamaian, Presiden Korsel Moon Jae-in mengingatkan, kesepakatan yang dicapai tidak membuat sanksi embargo terhadap Korut dicabut.

Presiden AS Donald Trump yang negerinya adalah mitra dan pendukung utama Korsel juga menghargai rencana pertemuan antara dua tetangga dan bangsa serumpun tersebut yang sekaligus juga seteru “bebuyutan”.

Kedua negara terlibat perang terbuka antara 1951 – 1953 yang menyeret keterlibatan sejumlah negara seperti Uni Soviet dan China yang berada di belakang Korut dan AS bersama sejumlah negara Barat lainnya yang tergabung dalam koalisi internasional untuk membantu Korsel.

Sampai kini, kedua negara yang masih dalam status perang diwarnai saling ancam dan gertak oleh kedua pemimpin dan unjuk gigi kekuatan militer masing-masing.

Korut meneruskan program ujicoba nuklir dan rudal-rudal balistik, begeming atas kecaman internasional dan sanksi embargo PBB, sedangkan Korsel bersama mitranya, AS terus memperkuat diri, juga secara berkala melakukan latihan-latihan militer bersama yang membuat geram lawannya.

Ketegangan mereda, setelah Korut besedia mengirimkan kontingen, grup kesenian dan pejabat pendamping dipimpin Yo Jong, adik tiri perempuan Presiden Kim Jong Un, Yo Jong di Olimpiade Musim Dingin di PyeongChang, Korsel Februari lalu.

Walau masih dalam tataran retorika, saling puji antara pemimpin dua negara serumpun Korsel dan Korut yang masih berstatus perang, jauh lebih baik ketimbang hujat-menghujat, dan saling ancam yang terjadi selama ini.

Jong Un yang biasanya melontarkan kata-kata keras terhadap Korsel, agaknya terkesan atas sambutan hangat dan pelayanan istimewa yang diberikan tuan rumah olimpiade musim dingin PyeongChang pada kontingen negaranya.

Presiden Korsel Moon Jae-in menerima delegasi Korut di Istana Biru. Mereka diinapkan di hotel bintang lima – kemewahan luar biasa di tengah kesederhanaan Korut – ia juga mendampingi Yo Jong, menyaksikan event-event olimpiade dan pegelaran okestra.

“PDKT” berlanjut
“PDKT” terus berlanjut dengan kunjungan delegasi Korsel ke Korut, dan kemudian membuahkan kesepakatan untuk menggelar KTT antara Presiden Jae-in dan Presiden Jong-un di wilayah bebas militer (DMZ) Panmunyom, April nanti.

China, konco utama Korut memuji kesepakatan tersebut dan berharap keduanya memanfatkan peluang yang muncul untuk melakukan denuklirisasi di Semenenjung Korea.

Senada dengan respons pemerintah China, Sekjen PBB Antonio Guterres juga men desak agar kedua belah pihak tidak menyia-nyiakan peluang emas untuk bergerak bersama-sama menuju perdamaian dan denuklirisasi di wilayah itu.

Sebaliknya, Jepang yang juga dalam jarak jangkau rudal-rudal balistik Korut bersikap skeptis atas perkembangan yang terjadi dan menyatakan tidak ada perubahan kebijakan negara matahari terbit itu untuk mengenakan sanksi maksimal terhadap Korut.

“Sikap Korut tidak jelas, diperlukan analisis cermat untuk menilai situasi terakhir ini, “ kata Menhan Jepang Itunori Onodera, sedangkan Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga meminta Korut membuktikan komitmen nyata untuk menghentikan program nuklir secara lengkap, terbuka bagi verifikasi dan tidak dibatalkan lagi.

Perang Korea yang dimulai dengan serangan mendadak Korut ke ibukota Korsel, Seoul yang hanya berjarak puluhan Km dari tapal batas kedua negara menewaskan ratusan ribu korban militer dan sipil kedua negara serta pasukan negara-negara yang terlibat.

Perdamaian, tentu saja didambakan dan disambut baik oleh seluruh umat manusia.

Semoga damai di Semenanjung Korea bisa terwujud.
(AFP/Reuters/NS).

Advertisement