NGASTINA adalah negeri yang tak pernah sepi dari sorotan internasional. Semua warga dunia perwayangan tahu bahwa negara tersebut adalah hasil pembajakan hak orang lain. Prabu Duryudana penguasa sekarang, atau Destarata penguasa sebelumnya, adalah tokoh-tokoh yang sebetulnya tak berhak menduduki singgasana pemerintahan Ngastina. Surat wasiat Prabu Pandu yang bernama Surat Perintah Tujuh Januari (Super Tujan) mereka manipulasi seenaknya. Naskah aslinya adalah pelimpahan sementara, tapi diubah menjadi pelimpahan selamanya.
Super Tujan yang aspal itulah yang selalu dipertunjukkan pada rakyat, sementara yang asli entah dibuang ke mana. Celakanya, mantan raja Ngastina Destarata, asal akan diperiksa masalah itu oleh pejabat kahyangan Jonggring Salaka, mendadak pura-pura sakit atau mengaku lupa.
“Selama Destarata berdalih itu-itu saja, pertikaian dengan Pendawa kapan selesai?” keluh Betara Guru di Bale Marcakunda.
“Biarkan saja Adi Guru. Tunggu saja sampai Perang Baratayuda terjadi, di situ akan terbukti, siapa salah bakal seleh…”, jawab Patih Narada.
Mungkin karena para pemimpinnya pada doyan manipulasi, negeri Ngastina tak pernah sepi dirundung masalah. Semakin lengkap penderitaan negeri itu, ketiba tiba-tiba muncul umbul (mata air) baru di Cindereja, wilayah perbatasan antara Ngastina dan Mandaraka, kira-kira sebelah utara stasiun Mbalapan Solo. Secara geografis, lokasinya masuk kapanewon (kecamatan) Cindekembang, yang selama ini menjadi kesatrian Burisrawa putra Prabu Salya, raja Mandaraka.
Yang jadi masalah, umbul itu bukan berupa air bersih siap minum, melainkan lumpur pekat campur sampah plastik, mirip Teluk Jakarta, Indonesia. Padahal asal muasalnya hanya sepele. Ada warga Perumnas Cindereja hendak bikin pompa kodok. Tapi saat dibor oleh Bang Sanip, air langsung muncrat dan ngocor tanpa henti dari perut bumi. Awalnya bening nyuntring, terus butek dan campur sampah plastik. Baunya minta ampun, mirip air comberan.
“Lapor Raden Burisrawa segera, agar segera ditangani.” Kata Pak Lurah.
“Lapor ke mana, Burisrawa-nya malah ngilang begitu kok.” Jawab Hansip setempat.
Warga Perumnas Cindereja berharap umbul hitam full sampah plastik itu akan berhenti dengan sendirinya. Tapi justru semakin membesar dan melebar. Pemulung berbondong-bondong hendak cari plastik yang bisa dimanfaatkan, tapi ditolak warga karena dikhawatirkan merembet ambil barang-barang lain.
Wilayah Cinderejo sudah banjir lumpur campur plastik, kemudian menyusul segenap areal Cindekembang. Tambah celaka lagi, luapan itu telah melebar ke negeri Ngastina, Ngamarta, Mandura dan juga Dwarawati. Secara pukul rata, kedalaman mencapai 1 meter. Banyak sekolah yang tutup, pabrik bangkrut, kantor-kantor juga ditinggal karyawannya ngungsi.
Semua pemimpin negeri itu segera berkordinasi. Prabu Salyo, Prabu Duryudana, Prabu Puntadewa, Prabu Baladewa dan Prabu Kresna berunding mencari solusi. Opsinya adalah, luapan lumpur tersebut dialirkan ke kali dan langsung ke Samudra Hindia, sedangkan sampah plastiknya dikelola BUMN bentukan barui, namanya PT. Pemulung Sejahtera. Tetapi LSM penyelamat lingkungan memprotes, karena itu bisa mematikan biota laut. Sarannya, lumpur dilokalisir dalam sebuah waduk atau bendung buatan.
“Masak keselamatan masyarakat wayang dikalahkan demi ikan?” protes Prabu Kresna.
“Kita bakal jadi Sidoarjo kedua….”, protes wayang akar rumput.
“LSM memang Lembaga Suara Miring…”, omel Prabu Baladewa, emosi.
Herannya, semua tunduk pada tuntutan dan saran LSM. Walhasail bendungan raksasa segera dibangun di seputar Cindereja atas dana Prabu Salyo raja Mandaraka. Tapi tak menampung juga, bahkan jebol dan melebar ke mana-mana. Prabu Salyo pun tambah pusing, karena segenap penduduk sejumlah negeri menuntut ganti rugi padanya. Mestinya tanggungjawab Burisrawa, tapi karena wayangnya minggat, terpaksa sang ayah yang ketiban pulung. Anak polah bapak kepradah.
Negeri kecil dengan PAD (Pendapatan Asli Daerah) kecil, sudah barang tentu Prabu Salyo tidak sanggup. Terpaksa dia minta tolong pada sang menantu, Prabu Duryudana. Dialah yang diminta memberi santunan pada para pengungsi, minimal Bantuan Langsung Sementara (Balsem). Jika tak mau memberi dana talangan, tahu rasa. Banowati ditarik kembali, begitu saja kok repot.
“Maaf rama, itu kan bukan wilayah negeri kami, dan juga bukan kesalahan kami. Kenapa dibebankan kepada Ngastina?” protes Duryudana dalam sidang tertutup.
“Saya tahu. Tapi tunjukkan dong solidaritasmu pada mertua dan adik ipar.” Jawab Prabu Salyo memojokkan.
Embargo sang mertua sungguh bikin mati kutu Prabu Duryudana. Jika Banowati benar-benar ditarik, malam hari tidur bersama siapa, lalu kalau kedinginan kemul-nya apa? Akhirnya ya sudah, meski itu bukan kesalahan negeri Gajahoya, dibantulah sebanyak Rp 15 trilyun dari APBN Perubahan 2018. Tentu saja rakyat Ngastina banyak yang protes, tapi Prabu Duryudana tutup kuping rapat-rapat.
Santunan, ganti rugi para korban Umbul Cindereja segera dibayarkan, meski banyak yang dicatut di sana sini. Tapi paling konyol adalah, oknum-oknum Ngastina sebagaimana Dursasono, Durmagati dan Kartomarmo, malah bermain. Diam-diam mereka mendatangi sejumlah negara tetangga, minta dana partisipasi dan empati pada korban Umbul Cindereja.
“Mestinya kami yang menuntut ganti rugi pada Mandaraka, bukannya malah dimintai dana partisipasi. Logikanya di mana sampeyan-sampeyan ini?” protes Prabu Kresna marah sekali.
“Mestinya memang begitu. Tapi kalau nggak “cari kesempatan” kan bukan wayang Ngastina namanya.” Jawab Dursasono seenaknya, tanpa ragu dan malu.
Sementara itu kepergian Burisrawa yang bersamaan dengan musibah Umbul Cinderaja, jadi sorotan dan kecurigaan kalangan wayang. Kenapa di kala ada musibah, negara kok tidak hadir? Lalu ke mana pula dia menghilang? Ssst, takbilangi ya, Burisrawa saat ini justru berada di Pasetran Gandamayit. Wajahnya ceria, penuh kemenangan.
“Kenapa kamu jail atas kampung sendiri?” tegur Betari Durga.
“Balas dendam, Eyang. Dulu saat aku naksir Sembadra, mesin politik tak jalan, karena kangmas Duryudana tak mendukungku. Sekarang tahu rasa, ha ha ha….” Jawab Burisrawa sekenanya.
Teguran Betari Durga sebenarnya hanya basa-basi politik. Sebab yang penting, ada uang jasa atas teror yang sukses berkat bantuan anak buah Betari Durga sebagaimana Jayamaya dan Jarameya. Maka setelah Burisrawa memberikan fee secukupnya, segeralah diusir itu putra Mandaraka, karena Betari Durga mau tidur siang.
Baru saja Burisrawa turun dari kahyangan Pasetran Gandamayit, mendadak kepergok Prabu Kresna. Buru-buru dia sembunyi di balik lumpur Umbul Cindereja. Tapi raja Dwarawati yang waspada tingal (penuh kewaspadaan), tak mungkin dibohongi. Tahu aktor intelektualnya ada di sini, langsung saja Prabu Kresna melepaskan senjata andalannya, Cakra Baskara. Jlebbbb…..
Burisrawa terpental jauh entah ke mana. Namun yang ajaib, mendadak lumpur Umbul Cindereja surut dan mengering. Semua negeri seputar Mandaraka kembali normal, terbebas dari lumpur menyengsarakan. Prabu Duryudana bersuka cita, karena tak perlu lagi rogoh anggaran semakin dalam, demi nomboki keluarga mertua. (Ki Guna Watoncarita).



