
TIDAK keliru agaknya jika industri atau bisnis persenjataan disebut sebagai “merchant of death” atau pedagang maut karena produk yang dihasilkan atau diperjual-belikan digunakan untuk saling membunuh.
Pasokan persenjataan berat bernilai milyaran rupiah dari AS, Inggeris, Perancis, Spanyol dan Italia pada koalisi pimpinan Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab yang sedang memerangi milisi Houthi di Yaman, menurut Direktur Penelitian Timur tengah Amnesty Internasional (AI) Lynn Maalouf adalah perbuatan tidak bertanggungjawab.
Sekitar 10.000 korban tewas sejak Arab Saudi bersama koalisinya menggempur posisi milisi Houthi dukungan Iran dari darat dan udara di Yaman pada 26 Maret 2015 yang mengawali tragedi kemanusiaan terburuk di dunia di wilayah itu.
Serangan terhadap rumah sakit, sekolah-sekolah dan kawasan permukiman, menurut AI, menciptakan jutaan pengungsi, sementara perang yang sudah berkecamuk selama tiga tahun itu menghancurkan prasarana dan sarana publik, melumpuhkan sistem kesehatan dan memicu kelaparan.
AI menyebutkan, paling tidak serangan terhadap warga sipil yang dilancarkan Arab Saudi pada Agustus 2017 dan Februari 2018 menggunakan bom pintar (smart bom) berdaya ledak sangat tinggi buatan Lockheed Martin dan Raytheon, AS termasuk bom GBU-12 yang berbobot 226,7 kg.
Akibat perang berkepanjangan di Yaman, 22 juta penduduknya didera berbagai persoalan termasuk kelaparan dan terkena wabah kolera.
AI juga mengecam milisi Houthi dukungan Iran yang bersama kelompok-kelompok lain melakukan pembunuhan dengan mengarahkan tembakan artileri berat menyasar rumah-rumah warga.
Milisi Houthi, menurut AI juga melakukan penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, melakukan penculikan dan penyiksaan serta kekerasan lain yang bisa dimasukkan dalam kategori kejahatan perang.
Awal malapetaka
Eskalasi konflik meluas setelah koalisi Arab Saudi dan UEA)turun tangan sejak Maret 2015 guna membantu Presiden Mansour Hadi yang digulingkan lawannya, Abdullah Ali dukungan milisi suku Houthi yang berada di belakang Iran.
Tak ayal lagi, konflik Yaman yang semula sebatas antara elite lokal, meluas menjadi perang proksi, perebutan hegemoni kawasan antara Iran dan Arab Saudi yang juga dipicu persoalan sektarian antara aliran Syiah (Iran) dan Sunni (Saudi).
Iran juga diduga memasok rudal pada milisi Houthi di Yaman yang beberapa kali diluncurkan ke kota-kota di Arab Saudi termasuk menyasar Istana al-Yamana di Riyadh 19 Desember 2017.
Pasca kematian Abdullah Saleh 4 Desember 2017, Arab Saudi dan UEA pun pecah kongsi, dimana sebagian loyalisnya membentuk Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA dan sebagian lain memihak pada Arab Saudi.
Yaman sempat bersatu pada 1990 di bawah Presiden Abdullah Saleh yang semula menjabat presiden Yaman Utara dan Wapres Ali Salim al-Beidh selaku presiden Yaman Selatan.
Saleh dan al-Beidh “pecah kongsi” pada 1994 dan terlibat konflik yang dimenangkan Saleh, sehingga ia menjadi penguasa tunggal sampai dilengserkan di tengah Revolusi Arab 2011.
Saleh menyerahkan kepemimpinan Yaman pada Wapres Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab Saudi dan al-Qaeda, namun berkat dukungan Houthi (dan Iran) ia kemudian berhasil mengambil alih kembali Sana’a.
Elit Yaman bertempur didukung kekuatan regional yang berambisi menciptakan hegemoni kawasan, dan juga industri senjata yang diuntungkan, sementara korbannya, rakyat Yaman. (AFP/Reuters/ns)




