Turki, Rusia dan Iran Galang Perdamaian Suriah

Ilustrasi Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin usai KTT Ankara (4/4) untuk menggalang proses damai Suriah.

TURKI, salah satu negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan Amerika Serikat, justeru merapat ke Rusia dan Iran untuk mengupayakan perdamaian di Suriah yang telah tercabik-cabik dalam perang saudara sejak 2011.

Ketiga pemimpin negara tersebut dalam komunike bersama yang dikeluarkan setelah pertemuan di Ankara, Turki, Rabu (4/4) bertekad untuk mewujudkan gencatan senjata abadi di Suriah.

Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Hassan Rouhani dan tuan rumah, Presiden Recep Tayyip Erdogan berupaya mempercepat proses solusi politik di Suriah yang merupakan bagian proses damai yang digelar di Astana, tahun 2017.

Pertemuan tripartit di Turki sendiri merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang diselar di kota peristirahatan Souchi di Laut Hitam, Rusia, November lalu.

Terkait konflik Suriah, Iran, Rusia dan Turki memang berada dalam satu kubu yakni mendukung rezim petahana pimpinan Presiden Bashar al-Assad, berbeda dengan AS dan negara-negara Barat lain yang menganggap al-Assad sebagai bagian dari persoalan.

Turki melancarkan operasi militer bersandi “Ranting Zaitun” ke wilayah Afrin, Suriah utara sejak 20 Januari lalu, Iran juga menempatkan milisi Hesbollah untuk membantu rezim al-Assad melawan pasukan perlawanan, sedangkan Rusia dengan kekuatan udaranya, aktif menyerang posisi lawan-lawan al-Assad.

Kelanjutan Perundingan Astana
Erdogan mengemukakan, pertemuan Ankara sebagai kelanjutan pertemuan Astana hanya merupakan inisiatif internasional untuk membantu meredakan kekerasan di seluruh Suriah, bukan alternatif solusi proses perundingan Jenewa yang didukung PBB.

“Proses Astana menambah daya dorong proses Jenewa guna menemukan solusi politik yang abadi konflik Suriah. Tujuan utamanya untuk meraih hasil agar tidak ada lagi penundaan (penyelesaian konflik-red). Korban sudah berjatuhan, “ tutur Erdogan kepada wartawan) seusai pertemuan.

Isu lain yang dibahas dalam pertemuan Ankara terkait jutaan pengungsi Suriah yang berada di sejumlah negara tetangganya dan juga di negara-negara di kawasan Eropa setelah bertarung dengan maut mengarungi laut.

Perang Suriah bermula dari perang saudara melawan rezim al-Assad, berkembang menjadi perang proksi dan perebutan pengaruh kekuatan regional (Iran, Irak, Turki) dan global (AS dan Barat serta Rusia) dan perang internasional melawan NIIS telah menewaskan sekitar setengah juta warganya.

Di medan tempur, posisi rezim al-Assad agaknya berada di atas angin dengan berhasil direbutnya Ghouta timur yang berada dekat ibukota, Damaskus berkat dukungan serangan udara pesawat-pesawat tempur Rusia.

Meski berbeda posisi, peran trio Turki-Iran-Rusia dianggap penting bagi proses perdamaian di Suriah, khususnya terkait rencana penarikan pasukan AS dari Suriah yang diumumkan Presiden Donald Trump, dengan alasan, misi mereka menaklukkan NIIS sudah rampung.

Saat ini pasukan pemerintah Suriah didukung militer Rusia, memberikan kesempatan pada pasukan perlawanan untuk hengkang dari Ghouta timur bersama keluarga, namun meninggalkan peralatan tempur berat mereka.

Rakyat Suriah sudah lelah terjebak dalam konflik berkepanjangan dan di hadapan mata menyaksikan kekejaman, kehilangan anak, istri, suami dan orang orang yang mereka sayangi.

Siapa pun juru damainya, rakyat Suriah yang mendambakan perdamaian pasti menyambutnya dengan sukacita. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement