Mossad kah di Balik Pembunuhan al-Batsh?

Kematian Dr. Fadi Moh. al-Batsh, dosen tehnik di Kuala Lumpur berkebangsaan Palestina masih diselimuti kabut misteri walau sejumlah pihak , menduga, pelakunya mengarah pada agen rahasia Israel, Mossad.

KEMATIAN insinyur elektro asal Palestina, Fadi Mohammad al-Batsh (35) di Kuala Lumpur, Senin lalu (21/4) masih diselimuti tabir misteri, walau tudingan sejumlah pihak terkait pelakunya mengarah pada dinas intelijen Israel (Mossad).

Polisi Malaysia sudah menyebar sketsa wajah dua pria dengan postur dan wajah mirip orang Timur Tengah atau Eropa yang diduga telah menghabisi al-Batsh, anggota kelompok Hamas, Palestina yang sering merepotkan Israel dengan aksi-aksi perlawanannya.

Berdasarkan perkembangan terbaru, polisi Malaysia juga sudah memperoleh salah satu foto pelaku dan memampangnya di pintu-pintu masuk udara, darat dan laut, begitu pula sepeda motor pelaku yang ditinggalkan beberapa Km dari TKP.

Jasad al-Batsh sudah diterbangkan dari Kuala Lumpur, Rabu (25/4) setelah dishalatkan di masjid yang dituju almarhum menjelang akhir hayatnya untuk shalat subuh di kawasan Medan Idaman, pinggiran ibukota negara jiran itu.

Dari Mesir, jenasah al-Batsh akan dibawa ke kampung halamannya di wilayah Gaza, Palestina dengan jalan darat.

Berdasarkan penuturan saksi mata, kedua terduga pelaku saat kejadian mengenakan jaket hitam, berbadan tegap dan memelihara jenggot, sedangkan polisi memastikan kematian korban akibat berondongan 14 peluru yang dimuntahkan dari senjata api laras pendek (pistol).

Al-Batsh meregang nyawa di lokasi kejadian saat berjalan dari apartemennye untuk shalat subuh di masjid, sedangkan dari CCTV yang terpasang di sekitar TKP, tampak kedua pria terduga pelaku yang mengendarai sepeda motor sudah menunggu korban sekitar 20 menit.

Belum diketahui apakah kedua pelaku sudah meninggalkan Malaysia, dan Kepala Polisi Diraja Malaysia (PDRM) Moh. Fuzi Harun belum bisa memastikan adanya keterlibatan anasir asing dalam kasus pembunuhan itu.

Berdasarkan data PDRM, al-Batsh sudah bermukim di Malaysia selama tujuh tahun, berstatus penduduk permanen dan mengajar mata kuliah tehnik di salah satu perguruan tinggi disana setelah menyelesaikan studinya.

Sebagai dosen tehnik, Batsh sudah mempublikasikan sejumlah jurnal internasional dan kerap menjadi narasumber di berbagai forum tentang Palestina, dan menjelang kematiannya ia dijadwalkan akan ke Turki.

“Kami akan memastikan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui motifnya, jadi saya meminta agar publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan, “ pinta Harun.

Al-Batsh berdasarkan informasi beberapa pihak disebut-sebut ikut membantu Hamas mengembangkan roket-roket yang diluncurkan ke wilayah Israel dan juga pesawat nirawak (drone), namun PDRM sejauh ini tidak mengantongi data terkait keahlian insinyur berkebangsaan Palestina itu.

Para petinggi Hamas meyakini bahwa Batsh memang dihabisi oleh agen-agen rahasia Jahudi, walau tudingan itu disangkal oleh sejumlah menteri Israel, bahkan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman menyebut, Batsh adalah korban perseteruan antarfaksi di dalam tubuh Palestina.

Mossad sering dituding terlibat dalam sejumlah kasus pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Palestina yang berhaluan keras atau memiliki keahlian tertentu yang dianggap mengancam keamanan negara itu.

Pada dekade sebelum tahun ’60-an, operasi Mossad dipusatkan di sejumlah negara Arab seperti Mesir, Jordania, Irak, Libya dan Suriah yang menganggap Israel sebagai musuh bersama mereka.

Pasca Perang Arab-Israel pada Juni 1967, sasaran operasi Mossad beralih terhadap tokoh-tokoh Palestina setelah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berperan lebih besar dalam menggalang aksi perlawanan terhadap Israel.

Mematikan

Mossad dikenal dengan aksi-aksinya yang spektakuler dan mematikan, misalnya mendukung operasi pembebasan sandera di Entebbe, Uganda, mengelabui otoritas Perancis dengan melarikan kapal-kapal perang yang dipesan Israel dari pelabuhan di negara itu karena diembargo, atau mata-mata ulungnya Eli Cohen yang ditawari menjadi wakil menteri pertahanan Suriah.

Namun, Mossad juga pernah kecolongan, menganggap remeh laporan intelijennya sehingga tidak menyangka serangan mendadak Mesir di hari besar Jahudi, Yom Kippur pada Oktober 1973 walau kemudian Israel berhasil melakukan pukulan balik.

Yang jelas, Malaysia ketiban pulung menjadi lokasi pembunuhan tokoh negara lain yang bukan urusannya. Sebelumnya, pada Februari 2017, pembangkang Korut Kim Jong Nam yang juga adik tiri Presiden Kim Jong Un tewas diracun orang-orang tidak dikenal, diduga agen-agen Korut.

Seorang warga negara RI, Siti Aisyah diduga terlibat dalam pembunuhan itu karena ia agaknya diperdaya agen Korut yang merekrutnya dalam acara komedi TV untuk menyapukan sapu tangan ke wajah korban yang tanpa diketahuinya mengandung racun mematikan.

Agen rahasia kerap melakukan aksinya secara diam-diam, senyap, mematikan dan tanpa emeninggalkan jejak sehingga sulit dilacak.
(AP/AFP/NS)

Advertisement