Diplomasi Kuliner Korea

Presiden Korut Kim Jong Un (kiri) dan Presiden Korsel Moon Jae-in tampak berjalan bersama dalam KTT pertama sejak 2007 pimpinan kedua negara serumpun yang berseteru tersebut di wilayah demiliterisasi (DMZ) di Panmunjom, Jumat (27/4). Dunia berharap terwujudnya perdamaian di Semenjung Korea.

PAMEO Jerman “Liebe geht durch den Magen” yang artinya “Cinta bersemi dari perut (selera makan-red)” agaknya dipahami benar oleh para perancang pertemuan kedua pemimpin negara serumpun yang saling berseteru, Korea Selatan dan Korea Utara.

Di tengah sikap skeptis bakal rujuknya kedua negara yang secara teknis masih dalam keadaan perang – hanya sebatas gencatan senjata sejak Perang Korea (1951 – 1953) – Kosel menyiapkan jamuan khusus menyambut pertemuan kedua pemimpin, di zona demiliterisasi (DMZ) Panmunjom, Jumat (27/4)pagi.

Untuk santap malam,disiapkan menu pilihan masing-masing yang menjadi simbul harapan bersatunya kembali kedua bangsa dan negara yang dipisahkan akibat perbedaan ideologi di era awal-awal Perang Dingin lalu.

Presiden Korsel Moon Jae-in yang akan menjamu mitra kerjanya, Presiden Korut Kim Jong Un yang datang bersama sembilan anggota delegasi termasuk adiknya, Kim Yo Jong a.l. mengusulkan soba, menu asli asal Korut. Koki atau juru masaknya juga tidak sembarangan, didatangkan dari restoran terkenal di Pyongyang, Okryu-gwan. Soba dingin biasanya disajikan bersama kaldu dingin disertai potongan daging dan sayuran.

Makanan tradisional dari Swiss, rosti atau kentang goreng juga akan disajikan dan diharapkan menggugah nostalgia pemimpin Korut Kim Jong Un saat kuliah di negeri yang dikenal dengan pegunungan Alpen itu.

Minuman keras tradisional Korea, munbaeju yang berkadar alkohol 40 persen, juga akan ikut menghangatkan suasana pertemuan dalam lawatan pertama presiden Korut ke korsel sejak 65 tahun lalu.

Bahan mentah seperti ikan, daging dan beras, kabarnya akan didatangkan langsung dari kampung halaman Presiden Korsel Moon Jae-in dan presiden terdahulu Kim Dae-jung dan Roh Moo-hyun yang pernah menggelar KTT serupa dengan Kim Jong Ill (ayah Kim Jong Un) pada 2004 dan 2007.

Rakyat Korsel Ogah Unifikasi
Namun di tengah harapan yang menggumpal untuk menyatukan kedua bangsa, hasil survei Institut Korea untuk Unifikasi Nasional menyebutkan, dukungan publik Korsel terhadap unifikasi dengan Korut justeru anjlok.

Saat ini hanya 58 persen penduduk Korsel mendukung unifikasi, dibandingkan 70 persen pada 2004, bahkan 90 persen pada 1969. Penyebabnya? Rakyat tidak ingin berkorban terlalu besar secara ekonomi jika penyatuan terwujud.

Sebagian warga Korsel saat ini berfikir, kedua negara dan bangsa serumpun bisa hidup berdampingan dengan damai tanpa ketegangan politik. Itu sudah cukup, tidak perlu bernaung di bawah satu bendera.

Unifikasi tentu disambut baik rakyat Korut yang mayoritas hidup miskin karena sebagian anggaran negara selama ini terkuras untuk membiayai ujicoba rudal dan nuklir, belum lagi terkekang akibat rezim otoriter yang berkuasa egeri itu.

Dari sisi geopolitik, proses menuju perdamaian kedua Korea juga membuat peran China, sekutu utama Korut baik yang memberikan bantuan ekonomi di tengah embargo internasional terhadap negeri itu, juga dukungan di forum PBB dan internasional, menjadi terpinggirkan.

Jika Korsel, Korut dan AS bernegosiasi langsung khususnya terhadap isu yang paling krusial yani perlucutan program nuklir Korut, China tentu cuma bakal menjadi penonton di luar lapangan, padahal, pada Perang Korea lalu, mengorbankan nyawa sekitar 145.000 anggota pasukannya yang berada di pihak Korut.

Presiden AS Donald Trump yang kepemimpinannya kontroversial dengan sikapnya yang “meledak-ledak”, tentu akan memperoleh “credit point” besar, baik di dalam negeri maupun di mata internasional, jika mampu mendamaikan kedua Korea dan berhasil menegosiasikan perlucutan program nuklir Korut.

Saat berita ini diturunkan, pertemuan sudah berlangsung dimana kedua kepala negara berjabatan tangan dengan erat, kemudian melakukan upacara simbolik, melangkah mundur beberapa meter ke dalam wilayah Korut sebelum menuju Gedung Perdamaian yang barada di wilayah Korea Selatan.

Setiap perubahan pasti ada yang diuntungkan dan dirugikan. Yang jelas kedua Korea yang damai, bersatu atau hidup rukun berdampingan, akan mendorong kemakmuran terutama bagi warga Korut dan berandil besar bagi perdamaian di Semenanjung Korea dan juga dunia. (AP/AFP/Ruters/NS)

Advertisement