RI Proaktif Wujudkan Perdamaian Dunia

Presiden RI Joko Widodo diapit Dubes Korsel Kim Chang-beum dan Dubes Korut An Kwang il (kanan). RI sesuai amanat pembukaan UUD l945 siap menengahi perundingan antarnegara serumpun yang bertikai dan masih dalam status perang sejak l953

RI tidak sekedar mendukung, tetapi proaktif menawarkan peran sebagai mediasi proses perdamaian sesuai amanat pembukaan UUD 1945 yakni melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kesiapan Indonesia memfasilitasi pertemuan dan menjadi juru damai konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara disampaikan Jokowi pada Dubes Korsel Kim Chang-beum dan Dubes Korut An Kwang Il di Istana Merdeka, Jakarta (30/4).

Sebelumnya pada Januari lalu Jokowi juga berkunjung ke Afghanistan dan menawarkan pembentukan komisi ulama Afghanistan, Pakistan dan RI untuk mencari solusi konflik berkepanjangan yang berlangsung di Afghanistan.

Jokowi atas kegigihan dan keberaniannya mendorong perdamaian di Afghanistan dianugerahi Medal of Ghazi, medali tertinggi yang diberikan bagi tokoh asing yang berjasa terhadap negeri itu walau wacana terkait komisi ulama tersebut belum terwujud.

AkhirJanuari lalu, presiden juga mengunjungi kamp pengungsi kelompok etnis minoritas Islam Rohingya Jamtoli di Cox’s Bazaar Bangladesh dan menegaskan komitmen RI untuk memberikan bantuan kemanusiaan sepenuhnya.

Kamp tersebut dihuni sekitar satu juta pengungsi Rohingya asal negara bagian Rakhine, Myanmar, akibat pembakaran rumah-rumah, aksi persekusi dan pembunuhan yang dilancarkan aparat militer dan etnis mayoritas setempat.

Pertemuan lanjutan
Sebelumnya, kedua pemimpin bangsa serumpun yang bersteru dan masih dalam status perang, Moon dan Kim melakukan pertemuan bersejarah di zona demarkasi (DMZ) Panmunjom, 28 dan 29 April lalu yang diharapkan komunitas dunia membuka lembaran baru, mengawali proses perdamaian.

Pertemuan tripartit (AS, Korsel dan Korut) berikutnya yang kemungkinan digelar pada akhir Mei atau awal Juni dinilai sangat penting, karena diharapkan akan memasuki substansi negosiasi terkait perlucutan ujicoba rudal dan program nuklir Korut.

Semula sudah disebut-sebut Singapura yang dianggap netral sebagai lokasi pertemuan, namun Presiden AS Trump menginginkan di wilayah demarkasi militer di Panmunjom.

“Saya suka lokasi itu, karena isu Korea (selayaknya-red) dibahas di Korea, bukan di negara ketiga, “ kata Trump.

RI yang juga netral terkait konflik Korea, secara eksplisit tidak menawarkan diri menjadi lokasi pertemuan antara Trump, Kim dan Moon, kemungkinan a.l karena persoalan keamanan, mengingat bisa saja momen itu dimanfaatkan oleh unsur-unsur masyarakat untuk mendemo Trump atas kebijakannya terkait Palestina yang dianggap pro Israel.

Korsel dan Korut dalam status siaga militer diwarnai saling hujat dan propaganda permusuhan antara kedua pemimpin dan pemerintahan sejak Perang Korea pada 1951 sampai 1953 yang menelan korban sekitar setengah juta orang, lebih separuhnya warga sipil.

Perang Korea diawali penyerbuan mendadak pasukan Korut didukung tentara China dan peralatan militer Uni Soviet ke wilayah Korsel yang dipertahankan oleh pasukan negara itu didukung koalisi internasional PBB dipimpin AS.

Yang jelas RI telah berupaya mengemban amanat UUD untuk mewujudkan perdamaian dunia, terserah dari negara-negara yang memiliki persoalan, menerima atau tidak tawaran yang diberikan.

Advertisement