Mengganti Nama GBK

Stadin Gelora Bung Karno (GBK) dibangun Presiden Sukarno tahun 1960 atas bantuan Soviet.

STADION utama GBK (Gelora Bung Karno) baru saja direhab dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 2,75 triliun. Agaknya pemerintah sedang kehabisan dana, maka ketika Kemenpora mau menggelar event-event olahraga seperti turnamen bulutangkis termasuk Indonesia Open 2018, mengandalkan kepada swasta. Masuklah perusahaan asing yang namanya Blibli.Com. Dia siap menyeponsori turnamen-turnamen bulutangkis RI di GBK (Gelora Bung Karno) Senayan, asalkan nama GBK yang melegenda itu dihanti jadi Blibli Arena. Benarkah seperti itu?

Jika sampai terjadi, berarti pengelola dan sponsornya benar-benar ahistoris! GBK bukan sekedar tempat arena pesta olahraga, tapi juga warisan sejarah. Nama itu jaman Orde Baru pernah “dieliminasi” menjadi Stadion Utama Senayan, karena demi de-sukarnoisasi. Tapi ketika Orde Baru tumbang, di masa pemerintahan Presiden Gus Dur nama GBK dikembalikan lagi, lewat Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.

Kenapa dinamakan Gelora Bung Karno? Gelora itu kepanjangan nama: gelanggang olah raga. Tapi kata “gelora” itu sendiri mengandung makna gelora jiwa dan semangat Bung Karno, dengan olahraga bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bersama bangsa lain di dunia. Demi mencapai itu semua Bung Karno tahun 1958 punya gagasan membangun Istora Senayan atau GBK dengan segala cara dan daya.  Dengan bantuan lunak Soviet Rp 117,6 miliar (12,5 juta dolar AS), tahun 1960 dimulailah pembangunannya, dan tahun 1962 diresmikan untuk menggelar Asian Games IV.

Jaman itu, dibangunnnya stadion GBK, Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, Monumen Nasional dan mesjid Istiqlal, dianggap sebagai proyek mercusuar. Karena negara sedang krisis keuangan, tapi Presiden Sukarno memaksakan diri bangun ini itu. Di antara proyek tersebut, sampai Bung Karno lengser di tahun 1967, memang belum terselesaikan, misalnya: Mesjid Istiqlal dan Wisma Nusantara.

Pemerintah Orde Barulah yang meneruskan, termasuk menyempurnakan GBK yang berganti nama jadi Stadion Utama Senayan tersebut. Kemudian di era reformasi, tak hanya nama yang dikembalikan ke asal menjadi GBK, tapi juga rehabilitasi dan modernisasi sesuai tuntutan zaman.

Semuan dibiayai dengan dana APBN. Tapi di masa pemerintahan Jokowi-JK agaknya mengandalkan APBN saja tidak cukup, karena banyak dana tersedot untuk menggeber infrastruktur. Maka sangat diperkukan peran swasta. Lalu masuklah perusahaan asing Blibli.Com. Perusahaan itu siap menyeponsori event-event itu tapi dengan syarat nama stadion Gelora Bung Karno diganti menjadi Blibli Arena. “Ini menunjukkan totalitas kami untuk mendukung semua kegiatan positif masyarakat Indonesia.”, kata CEO Blibli.com Kusumo Martanto.

Keruan saja publik heboh. Analoginya, si Polan anak orang miskin ingin sekolah tinggi, lalu Pak Arief Uyuhono tetangganya sanggup membiayai. Meski jadi penyandang dana, apakah Pak Arief akan memaksakan Polan ganti nama jadi Arief Uyuhono pula? Tentu takkan sampai ke situ. Misalkan iya pun, pastilah si Polan tidak mau.

Pengelola GBK memahami penolakan publik, sehingga dikatakannya itu baru wacana. Tapi ironisnya Dirut GBK Winarto sempat pula mengatakan bahwa kalaupun sampai perubahan nama itu direalisasikan, maka sama sekali tidak ada masalah. “Seperti kita ketahui Blibli.com kerap menjadi sponsor di setiap turnamen bulu tangkis yang diadakan di Indonesia,” ujarnya.

Ditilik dari nama pihak sponsor dan pengelola, semuanya orang Indonesia asli. Tapi jangan-jangan saat sekolah dulu, ketika pelajaran Sejarah tidak masuk, atau nilainya dapat lima. Mereka jadi tidak ada sensitivitas kesejarahan, bila tak mau dibilang ahistoris. Ingat, Bung Karno pernah mengatakan: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jasmerah).

Sebegitukah tongpesnya keuangan negara, sampai-sampai untuk membiayai event-event olaharaga harus cari sponsor swasta. Jika pemerintah sampai rela saja nama GBK yang melegenda diganti jadi Blibli Arena, ini sama saja menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia. Maka rakyat terpaksa pinjam istilah Rhoma Irama: terlalu..! (Cantrik Metaram).

Advertisement