
ATLANTA (KBK) – Para peneliti dari Emory University School of Medicine di Atlanta telah menemukan bahwa tes darah dapat membantu menentukan obat yang tepat untuk diberikan kepada pasien yang mengalami depresi.
“Ini bisa menjadi langkah penting menuju personalisasi pengobatan untuk pasien depresi,” kata Dr. Ebrahim Haroon, seorang psikiatri dan ilmu perilaku di Emory University School of Medicine.
“Secara tradisional, berkaitan dengan pengobatan depresi selama ini, hanya seperti menebak permainan. Anda memberi mereka [pasien] obat, dan tidak bekerja, dan Anda mencoba lagi dengan obat lain, ” jelasnya.
Namun dengan mengidentifikasi biokimia dalam darah pasien, lanjutnya, maka akan dapat memberitahu kita obat yang baik untuk pasien tersebut.
Selama ini dokter mengandalkan Ketamin, untuk mengobati pasien sakit jiwa, dan obat ini kata Haroon juga digunakan dalam kedokteran hewan. Obat ini menjadi terkenal sebagai obat halusinogen di tahun 1990-an.
Namun para ilmuwan terkejut obat tersebut telah membantu pasien yang menderita depresi, tetapi tidak membantu terapi bicara.
Ketamine bekerja untuk mengganggu neurotransmitter yang disebut glutamat, yang berperan dalam mediasi impuls sinaptik pada otak. Beberapa ilmuwan percaya bahwa dengan memblokir reseptor glutamat dengan ketamine dapat membantu membangun hubungan yang lebih antara sel-sel saraf di otak, dan meringankan beberapa efek dari depresi.
Dijelaskan Haroon dalam jurnal Molecular Psychiatry, Selasa (12/1/2016), bagi orang depresi terlihat ada peningkatan kadar glutamat di bagian-bagian tertentu dari otak mereka, situasi ini dapat merusak neuron dari waktu ke waktu
Orang yang menderita depresi – sekitar 20 sampai 30 persen, juga mengalami peningkatan kadar peradangan dalam tubuh mereka, yang berarti sistem kekebalan tubuh mereka memuncak untuk menanggapi serangan yang dirasakan pada tubuh.
Haroon mengatakan, peradangan dalam tubuh dapat bekerja untuk menaikkan tingkat glutamat, yang pada gilirannya menyebabkan depresi.
Lebih penting lagi, tes darah dapat menjadi penanda peradangan yang bisa menjadi cara yang baik untuk menentukan pasien untuk mendapat perawatan depresi-glutamat terkait, seperti penggunaan ketamin.
Seperti dilansir Al Jazeera, Rabu (13/1/2016), sekitar 7 persen orang dewasa Amerika, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, telah menderita depresi utama dalam beberapa tahun terakhir. Ditandai dengan perasaan depresi, kesulitan berkonsentrasi dan perubahan kebiasaan makan dan tidur yang berlangsung selama dua minggu atau lebih.




