Iran dan AS Memanas Lagi

Ilustrasi Iran dan AS kembali terlibat perang kata-kata dan saling ancam pasca pembatalan perjanjian nuklir enam negara pada 2015 (Iran, AS, Jerman, Perancis, Cina dan Rusia) oleh Presiden Donald Trump 8 Juli lalu.

AMERIKA SERIKAT dan Iran kembali terlibat perang kata-kata dan saling ancam pasca pembatalan sepihak kesepakatan nuklir yang ditandatangani kedua negara plus kekuatan nuklir lainnya yakni China, Jerman, Perancis dan Inggeris pada 14 Juli 2015.

Presiden AS Donald Trump (8 Mei lalu) menarik diri dari kesepakatan yang ditandatangani oleh pendahulunya Presiden Barrack Obama bersama empat negara lainya dan mengenakan sanksi baru terhadap Iran dengan alasan kesepakatan itu dianggap terlalua lunak dan gagal untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklir Iran.

Pada Agustus ini, AS mengenakan sanksi baru menyasar industri otomotif Iran, transaksi emas dan logam mulia lainnya serta pembelian dollar AS, dan menyatakan akan mengenakan sanksi terhadap ekspor migas dan sektor perbankan Iran.

Sejauh ini, sanksi ekonomi sudah berdampak terutama bagi warga kelas menengah dan bawah di Iran akibat kelangkaan sejumlah barang dan melonjaknya harga-harga tercermin dari semakin maraknya aksi-aksi unjukrasa di sejumlah kota di Iran akhir-akhir ini.

“Jika AS berani menyerang, AS dan sekutunya, Israel akan menjadi target Iran, “ demikian antara lain pesan yang disampaikan ulama senior Iran Ahmad Khatami di depan jamaah Idul Adha di Teheran, Rabu (22/8).

Khatami juga mengingatkan, negaranya tidak akan tunduk pada kehendak Trump untuk mengakui program pengembangan nuklir yang sedang dilakukannya. “AS meminta kami menerima apa yang mereka katakan dalam perundingan. Ini bukan negosiasi, tetapi kediktatoran, “ ujarnya.

Lebih jauh Khatami mengingatkan, AS akan membayar harga sangat mahal jika berperang atau menganggu Iran, karena jika terancam, Iran akan balik menyerang AS dan sekutunya, Israel.”Kota-kota di Israrel akan menjadi sasaran rudal-rudal balistik Iran atau Iran juga bisa menggunakan milisi Hisbullah di Lebanon untuk menyerang Israel, “ tandasnya.

Sementara Wakil Presiden Iran Eshaq Jahangiri mengakui, AS bersama Israel yang merupakan musuh bebuyutan Rpublik Islam Iran telah menciptakan persoalan ekonomi bagi negaranya, namun Iran akan mengatasinya dengan bantuan para sekutunya dan melakukan diplomasi yang cerdas.

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menampik tawaran Presiden Trump untuk melakukan perundingan tanpa syarat terkait negosiasi program nuklir baru, sedangkan Trump sendiri dengan nada datar mengemukakan,Jika pihak Iran ingin bertemu, bisa saja, tetapi kalau tidak ingin, ia juga tidak peduli.

Jika benar-benar pecah perang, antara AS dan Iran yang bakal menyeret Israel, tentu menjadi malapetaka, mengingat ketiganya memiliki mesin perang yang mematikan.

Perimbangan Kekuatan

Menurut catatan, AS sejauh ini menempatkan Armada ke-5 AL dengan dua kapal induk yakni USS Nimitz dan USS Thedore Roosevelt beserta 103 berbagai pesawat tempur yang diangkutnya, didukung 20 kapal perang berbagai jenis dengan 20.000 awak dan marinir yang bertanggungjawab atas wilayah Teluk Persia, Laut Arab, Laut Merah dan sebagian Samudera Hindia.

AS juga menempatkan sekitar 55.000 personilnya di 14 negara Arab, terbanyak di Kuwait (15.000), dipangkalan udara AL Ubeid, Doha, Qatar (120 pesawat dan 10.000 personil), Irak (9.000) dan Jordania (1.500). Satuan AS juga ada digelar a.l. di Bahrain, Turki, Uni Emirat Arab dan Oman.

Israel, sekutu AS dan seteru Iran, walau dengan personil sedikit (sekitar 168 ribu plus 550.000 anggota cadangan) dibandingkan Iran dengan 534 ribu tentara plus 400 ribu cadangan didukung Garda Revolusi, dikenal sangat terlatih, memiliki banyak pengalaman tempur dan dilengkapi senjata modern.

Negara Yahudi itu unggul dalam jumlah tank (2.620 buah) termasuk tank tempur utama (MBT) Merkava buatannya, dibandingkan Iran dengan 1.616 tank ex-Uni Soviet seperti T-72 dan T-62 yang relatif lawas.

Di laut, Iran lebih perkasa a.l. memiliki 33 kapal selam, tiga korvet dan 32 kapal patroli cepat, sedangkan Israel hanya memilik enam kapal selam dan beberapa kapal kelas korvet serta puluhan kapal paroli cepat.

Di matra udara, Israel lebh unggul dengan 242 pesawat tempur a.l. F-15 dan F-16 serta yang terbaru F-35 “Lightning” buatan AS ditambah 243 pesawat serang darat dari berbagai jenis, sementara Iran mengoperasikan 137 pesawat tempur termasuk Mig-29 ex-Rusia, F-1 Mirage (Perancis), dan pesawat F-4 Phantom serta F-14 Tomcat buatan AS era dekade ’80-an.

Sebaliknya, Iran walau bertahun-tahun diembargo oleh AS dan negara-negara Barat lainnya, masih bisa mengembangkan sendiri rudal-rudal balistik yang bisa menjangkau wilayah Israel dan juga didukung sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia.

Sedangkan Israel memayungi wilayahnya dari serangan rudal lawan dengan sistem Iron Dome atau Kubah Baja menggunakan rudal-rudal buatan lokal dan Patriot buatan AS yang terbukti cukup efektif menangkal serangan rudal Scud ex-Soviet yang diluncurkan Irak dalam Perang Teluk 1 (1990).

Iran dilaporkan mengandalkan sistem pertahanan udaranya dengan rudal-rudal S-300 buatan Rusia yang terintegrasi dengan radar, penjejak dan kanon anti pesawat sedangkan Israel juga disebut-sebut memiliki senjata nuklir yang bisa digunakan sewaktu-waktu jika terdesak.

Jika perang tidak terhindari, yang jelas kobannya rakyat jelata. (AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement