JAKARTA – Usai Lombok dihantam gempa bertubu-tubi pada pertengahan Agustus lalu, kini Pulau Seribu Masjid itu mulai bangkit. Salah satunya kegiatan belajar mengajar di Desa Menggala, Lombok Utara yang sempat terhenti akibat ruang kelas yang ambruk.
Kini keceriaan ratusan siswa dari berbagai tingkatan pendidikan kembali menghiasi wajah bocah Menggala. Ia kembali mengisi ruang-ruang kelas di sekolah darurat yang didirikan oleh Dompet Dhuafa di tempat bekas pondok pesantren Assafuiyah.
Ponpes Assyafiiyah adalah komplek sekolah yayasan yang dihuni oleh lebih dari 500 murid. Terbagi dari MA, MTs, dan MI Assyafiiyah, serta memiliki 35 tenaga pengajar. Sekolah tersebut dulunya menjadi tumpuan pendidikan di wilayah Desa Menggala, Lombok Utara.
Namun, semenjak gempa kedua terjadi pada awal Agustus, kegiatan belajar-mengajar di Ponpes Assyafiiyah lumpuh total. Baik murid maupun guru sudah tidak lagi dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Selain karena gedung sekolah yang sudah roboh, murid dan guru pun semua mengungsi.
Melihat peran Pondok Pesantren Assyafuiyah yang begitu penting, tim Lombok Recovery (LOVER) menjadikan lokasi tersebut sebagai fokus utama untuk menggerakkan kembali pendidikan.
Mendirikan sekolah darurat menjadi langkah utama untuk menghidupkan kembali kegiatan belajar mengajar di Desa Menggala.
“Senang sekali kak, bisa bertemu teman-teman lagi, bisa belajar lagi, bisa bermain lagi. Kami rindu dengan segala aktivitas di sekolah,” terang Andi, salah satu murid MI Assyafuiyah.





