
RUSIA dan China menggelar Latihan Perang terbesar pasca runtuhnya era Uni Soviet pada 1991 berkode “Vostok 2018 ” (Timur 2018) sebagai upaya untuk melindungi diri dari situasi internasional yang kerap tidak bersahabat.
Tidak tanggung-tanggung, 300 ribu serdadu, 36.000 kendaraan militer termasuk tank-tank dan howitzer swagerak dan peluncur roket atau rudal, 1.000 pesawat tempur termasuk Sukhoi SU-35 (yang dijuluki Barat Flanker E) dan 80 kapal perang berbagai jenis disertakan dalam latihan.
Vostok 2018 yang juga diikuti 3.200 tentara China dan berlangsung dari Selasa lalu (11/9) hingga 17 September, kata Menhan Uni Soviet Sergei Shoihu, digelar di sembilan wilayah yang dijadikan titik simulasi pertempuran dan di Laut Jepang, Laut Bering dan Laut Okhots.
Menurut catatatan, latihan terbesar terakhir kali digelar di era Uni Soviet pada 1981 dengan kode Zapad 1981 (Barat 1981) melibatkan 150.000 prajurit termasuk dari negara-negara anggota Pakta Warsawa.
Vostok 2018 mensimulasikan latihan untuk mengukur kesiapan tempur pasukan saat digerakkan ke palagan yang jauh, mengecek koordinasi antara satuan infantri di darat dan armada laut, memperbaiki alur komando serta supervisi dalam skenario defensif atau ofensif.
Latihan perang tersebut bersamaan dengan terjadinya ketegangan akibat sanksi yang dikenakan pihak Barat atas Rusia terkait tudingan aneksasi wilayah Krimea oleh Rusia, dugaan campurtangan Rusia dalam Pemilu AS 2016 dan perang dagang antara AS dan China.
Sejumlah pengamat menilai, kesertaan China dalam latgab Vostok 2018 sebagai “PDKT” untuk menghidupkan kembali aliansi lama China dan Rusia yang retak pada dekade 1960-an karena dianggap melunaknya sikap Soviet terhadap AS atau dicap revisionis oleh China.
Saling sanjung dilontarkan oleh Presiden China Xi Jinping dan mitranya Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Xi yang sedang menghadiri forum ekonomi di Vladivostok, ikut menyaksikan jalannya latgab Vostok 2018 yang juga diikuti oleh 3.500 anggota pasukannya.
“Sikap saling percaya antara kami terjalin di bidang politik, keamanan dan pertahanan, “ kata Putin dalam sambutannya di forum ekonomi kedua negara yang “berbalas pantun” oleh sambutan Xi yang menyebutkan, persahabatan kedua negara semakin erat.
Tidak Seperkasa Era Soviet
Militer Rusia memang tidak lagi seperkasa seperti di era Uni Soviet dulu, karena selain sempal
menjadi 15 negara merdeka, kekuatan blok tersebut yang semula tergabung dalam Pakta Warsawa juga dipreteli anggotanya yang malah bergabung ke Aliansi Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS.
Negara ex-Uni Soviet yang bergabung ke NATO yakni Latvia, Estonia dan Lithuania, sedangkan negara-negara satelitnya yang dulu berada di Pakta Warsawa yakni Albania, Bulgaria, Ceko, Hongaria, Polandia, Rumania, Slowakia, juga Slovenia dan Kroasia (ex-Yugoslavia).
Sementara China, negara yang dulunya sangat tergantung pasokan peralatan militer Soviet, kini tampil sebgai raksasa militer dunia, memiliki kapal induk dan mampu membuat sendiri pesawat tempur termasuk yang berkategori siluman (J-20 Chengdu) dan kapal selam nuklir.
China saat ini juga menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia, mengekspansi investasinya ke berbagai negara termasuk ASEAN dan negara-negara di Afrika.
Vostok 2018 kemungkinan akan direspons AS atau NATO dengan melakukan latihan serupa, walau tidak bisa dimaknai, kedua belah kubu sedang beranjak menuju teater perang sesungguhnya.
Senjata pemusnah massal yang dimiliki kubu Barat pimpina AS maupun lawannya, Uni Soviet dan China saat ini sudah melebihi yang dibutuhkan untuk saling menihilkan lawan, sehingga perang merupakan pilihan paling akhir bagi kedua belah pihak.
Jadi, Vostok 2018 yang digelar di tengah era now agaknya hanya ritual sentimental nostalgia Perang Dingin.




