JAKARTA – Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan, masyarakat harus melarikan diriĀ dan tidak perlu menunggu peringatan dini tsunami jika sudah ada gempa kuat.
“Kalau ada gempa kuat lagi sedang di pantai jangan tunggu peringatan dini, langsung lari karena yang bisa menyelamatkan diri itu evakuasi mandiri,” katanya.
Gempa kuat yang dimaksud, kata Daryono, berdasarkan skala intensitas gempa. Patokannya bukan skala besaran atau magnitudo, karena itu terkait juga dengan jarak kedalaman sumber gempa.
Dia mencontohkan gempa bermagnitudo skala 4, tapi dangkal dengan kedalaman 10 kilometer, bisa menjadi gempa kuat. Sebaliknya andai gempa bermagnitudo 8 namun di kedalaman 600 kilometer lebih, guncanganya tidak signifikan. “Gempa kuat itu minimal berskala intensitas V-VI MMI,” katanya.
Berdasarkan keterangan BMKG, tanda gempa berskala intensitas V itu getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak yang terbangun ketika tidur, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, dan bandul lonceng dapat berhenti.
Adapun gempa berskala intensitas VI ditandai oleh getaran yang dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding berjatuhan dan cerobong asap pada pabrik rusak, atau terjadi kerusakan ringan pada bangunan.
BMKG merupakan lembaga resmi yang bertugas mengeluarkan peringatan dini tsunami ke publik. Namun teknologinya yang menggunakan Indonesia Tsunami Early Warning System (INA TEWS) itu diakui Daryono tidak bekerja efektif untuk pantai-pantai rawan yang dekat dengan sumber gempa.
“Yang paling bagus menjadikan gempa kuat itu sebagai peringatan dini tsunami, entah apa akan terjadi tsunami atau tidak, itu urusan belakangan yang penting nyawa selamat dulu,” tandasnya, dikuti[ Tempo.





