EVENT Asian Para Games 2018 yang sedang berlangsung di Jakarta hendaknya mengawali upaya berkesinambungan bagi penyediaan sarana, prasarana dan fasilitas serta penciptaan kesetaraan dan kesempatan sama bagi segenap penyandang cacat di Indonesia.
Tidak kurang dari 2.762 atlet dari 43 negara ikut ambil bagian, belum lagi 1.900 ofisial, 8.000 relawan, 5.000 pekerja lapangan, ratusan tenaga medis dan diliput lebih 1.000 media. Paling tidak, kontingen Indonesia ditargetkan meraih 16 medali emas atau di peringkat keenam atau ketujuh.
Sebagai ajang prestasi, APG 2018 juga diharapkan akan menginspirasi dan memotivasi segenap penyandang cacat untuk bekerja keras, tidak menyerah pada takdir mereka dan terus mengukir prestasi, baik di bidang olahraga maupun di bidang-bidang lainnya.
“Olahraga berperan penting mengubah pola hidup dan persepsi masyarakat pada penyandang disabilitas, oleh sebab itu, mengapa event ini sangat penting karena dapat mmbangun gerakan paralimpiade Asia, “ kata Presiden Komite Paralimpiade Asia Majid Rashed.
Namun memang perlu terus diingatkan agar APG 2018 tidak sekedar acara seremoni yang hanya “menggelegar” sesaat, berkesan bagi atlit-atlit, ofisial dan pihak-pihak yang terlibat lainnya atau hanya tontonan sesaat bagi publik yang berlalu begitu saja begitu helat usai.
Faktanya, saat ini ada sekitar 25 juta peyandang disabilitas di Indonesia, sebagian besar dari mereka masih terperangkap dalam stigma negatif dan mengalami kesulitan untuk mandiri akibat keterbatasan fisik mereka dan minimnya akses dan fasilitas bagi mereka.
Lihat saja, di kota-kota besar termasuk Jakarta sekali pun, ketersediaan prasarana dan sarana serta fasilitas yang ramah bagi difabel bisa dihitung dengan jari. Sebut saja, trotoar, angkutan dan toilet umum serta fasilitas lain yang memudahkan penyandang disabilitas. Dimana saja yang sudah tersedia?
Sebanyak 61,1 persen responden jajak harian Kompas, September lalu menilai, fasilitas umum di Jakarta belum memadai, padahal 93,2 responden menganggap penting bagi pemerintah menyediakan fasilitas khusus untuk membantu fasilitas difabel di tempat umum. Sebanyak 46,2 responden menganggap tempat penyeberangan perlu disediakan, 28,1 persen trotoar, 13,6 persen toilet dan 5,5 persen sarana transportasi.
Kampung Branding
Pemilihan lima kampung branding di Jakarta dalam pawai obor menjelang pekan olahraga atlit berkebutuhan khusus se-Asia 2018 juga suatu gagasan yang baik guna menyosialisasikan pada warga tentang kegiatan APG 2018 sehingga mereka merasa sebagai tuan rumah untuk ikut menyambut atlit-atlit manca negara.
Namun lebih dari itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum bagi segenap pemangku kepentingan agar lebih “care” dan lebih ramah bagi para penyandang disabilitas, termasuk menyediakan lapangan kerja sesuai kondisi dan kompetensinya.
Beruntung, sudah ada Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas sebagai pemenuhan hak ekonomi, politik, sosial dan budaya. Terbitnya UU ini diharapkan menjadi payung perlindungan hukum bagi setiap penyandang disabilitas agar terhindar dari segala bentuk ketidak adilan, kekerasan dan diskriminasi.
Berbicara tentang kaum difabel, masih banyak yang harus dilakukan untuk mendekati, apalagi menyamai fasilitas-fasilitas yang tersedia di negara-negara maju, sedangkan dibandingkan dengan negara jiran seperti Malaysia dan Singapura masih tertinggal.
Semangat APG 2018 harus terus digelorakan setelah pekan olahraga ini usai, baik oleh pemangku kepentingan termasuk politisi untuk mengangkat harkat dan martabat penyandang disabilitas, dan juga agar mereka sendiri bangkit melawan keterbatasan yang dimiliki.





