Bencana Likuifaksi di Palu Bisa Terjadi di Bandung, Ini Penjelasannya

Ilustrasi Kerusakan Kampung Petobo yang terendam lumpur/ VOA indonesia

BANDUNG – Bencana gempa bumi dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada September lalu bisa pula terjadi di Bandung, Jawa Barat.

Prediksi tersebut diungkapkan Budayawan T Bachtiar, saat menjadi narasumber dalam acara “Workshop Memperkuat Pendidikan Mitigasi Bencana Gempa Bumi Bagi Guru Pembina EKstrakurikuler Serta Guru Sekolah Dasar” di  Bandung, Rabu (17/10/2018).

Ia mengatakan Gempa berkekuatan 6,5 hingga 7 magnitudo dapat saja terjadi di wilayah cekungan Bandung.

“Bisa dibayangkan dasar cekungan Bandung ini sejak 105.000-16.000 tahun yang lalu tergenang, selama tergenang itu mengendap, lumpur dan terus mengendap. Itu ada yang 100 meter ketebalannya, ada yang 75 meter dan itu jenuh air. Jadi ketika ada goyangan kekuatan goyangan dari gempanya bisa saja naik”, tuturnya.

Ditambahkannya, ancaman gempa memang harus diwaspadai, karena akan berdampak pada bangunan-bangunan di atas tanah yang terendam air selama ribuan tahun.

“Walaupun tanah tersebut ikatannya masih kuat, tapi begitu dikocok atau digoyang ikatannya akan tercerai berai. Kalau ikatannya tercerai berai tekanannya akan pindah ke atas, sehingga lapisan yang dibawah tidak akan kuat, karena hal ini maka kekuatan gempa bisa semakin meningkat dan akan berdampak pada bangunan-bangunan yang ada diatasnya seperti bangunan bertingkat, jalan-jalan dan semuanya akan terdampak”, paparnya, dilansir PR.

Dia menyebut ada beberapa wilayah di Bandung yang memiliki potensi besar dan memiliki dampak cukup riskan jika terjadi gempa. Wilayah tersebut diantaranya adalah jalan Merdeka serta Rumah Sakit Sariningsih.

Kedua wilayah tersebut merupakan wilayah 0 meter pantai danau di cekungan Bandung.

Dia menambahkan, kondisi cekungan Bandung dikelilingi oleh sesar-sesar turut membuat kondisi ibu kota Provinsi Jawa Barat ini rawan terjadi gempa bumi, karena terdapat patahan-patahan seperti yang membentang dari Lembang bahkan hingga ke Cicalengka dan Jatinangor.

 

Advertisement