BAHWA Sanghyang Bethara Guru (SBG) kenal baik dengan Bethari Durga, itu memang tak terbantahkan. Bukan saja kenal luar, dalem-dalemnya juga kenal, karena dia dulu adalah bekas istrinya. Cuma karena kelakuan Dewi Uma –begitu nama istri SBG– terlalu banyak melanggar kode etik perwidodarian, akhirnya dia diusir dadi Jonggring Salaka dan wajahnya yang cantik itu diubah menjadi wajah raksasa, namanya pun ditabalkan sebagai Bethari Durga.
Sayangnya, meski sudah dihukum begitu berat, di ngercapada Bethari Durga masih suka bikin ulah. Suka bawa-bawa nama SBG bahkan mengaku bisa melancarkan urusan ini itu di kahyangan. Paling kurang ajar, dalam bahasa sandi Bethari Durga SBG disebutnya Pak Lurah, sementara dia sendiri lebih suka dipanggil ”Emak-Emak Militan” dari pada nama pemberian kahyangan yang terkesan serem itu.
”Bagaimana kakang Narada? Itu Bethari Durga masak sebut nama saya sebagai Pak Lurah. Itu kan sontoloyo,” keluh SBG dalam sidang di Bale Marcakunda.
”Ya nggak papa. Yang penting bukan ”Lurah Tekek” alias germo.” hibur Patih Narada.
Bethara Narada juga minta SBG untuk lebih mengontrol emosinya, jangan langsung marah hanya karena namanya dikait-kaitkan dengan Bethari Durga. Faktanya memang begitu, bukan saja rakyat biasa, bahkan sejarahwan Asvi Warman Adam juga sudah tahu itu. Jika SBG membantah tak kenal Bethari Durga, nanti malah bakal ditertawakan wayang sekotak.
Kenapa SBG tak mau dikait-kaitkan dengan Bethari Durga, karena eks bidadari Dewi Uma itu suka membocorkan kebijakan-kebijakan Bale Marcakunda yang belum dirilis ke ngercapada. SBG tak mau dituduh dia yang memberikan informasi itu, karena sesungguhnya yang bermulut ember juga para pejabat kahyangan itu sendiri.
”Bahkan penertiban WTS liar saja kurang membawa hasil, karena Bethari Durga yang membocorkan,” keluh SBG lagi.
”Itu juga kan staf Bale Marcakunda yang nggenthong umos (tak bisa simpan rahasia),” bela Bethara Narada.
Begitulah Bethari Durga terus memanfaatkan kedekatannya dengan SBG untuk perlancar bisnis paranomalnya. Di Pasetran Gandamayit tempatnya buka praktek, banyak tokoh-tokoh tanggung yang selalu minta tolong padanya. Misalnya Sarjokesuma, Prabu Dewasrani, Burisrawa. Bahkan Boma Nrakasura dadi Trajutrisna juga memanfaatkan jasa bosnya Jaramaya – Jarameya tersebut.
Ulah terbaru ”Emak-emak Militan” made in Pasetran Gandamayit adalah, bikin gosip bahwa Perang Baratayuda akan dibatalkan. Tentu saja kubu Ngastina senang sekali mendengar berita ini, karena itu berarti penguasaan bumi Ngastina takkan lagi diganggu gugat oleh Pandawa. Saking penasarannya hal ini, Patih Sengkuni pernah mencoba cek langsung pada sang Bethari.
”Eyang Bethari, eh Emak-emak Militan, kabar dari mana bahwa Perang Baratayuda dibatalkan. Bisa disebut sumbernya?” kejar Patih Sengkuni.
”Siapa lagi kalau bukan dari ”Pak Lurah”. Tapi itu semua atas lobi-lobi saya, lho. Saya kan biasa mengintervensi kebijakan Jonggring Salaka,” ujar Bethari Durga bangga.
Wah, betapa senangnya kubu Ngastina mendengar berita itu, terutama Prabu Duryudana. Dana APBN yang tempo hari dipatok hanya Rp 75 trilyun, ditambah lagi lewat APBN Perubahan jadi Tp 100 trilyun. Tapi sebagai balas jasa pada ”Emak-emak Militan”, 1 persen dari dana tersebut harus disetor kepada Pasetran Gandamayit. Bahkan saking senangnya Prabu Duryudana, meskipun APBN membengkak lagi akibat anggaran siluman, tak dipermasalahkan juga.
Bila selama ini SBG hanya marah ala kadarnya, kali ini betul-betul bramantya (marah sekali) karena sedemikian berani dan kurang ajarnya Bethari Durga mencatut namanya. Penguasa Jonggring Salaka ini segera memanggil Bethari Wilutama dan Bethari Warsiki, untuk segera menghadap ke Bale Marcakunda dalam tempo paling lambat 3 X 24 jam waktu kahyangan.
”Apa hubungannya adhi Guru? Yang bikin ulah Bethari Durga kok yang dipanggil Warsiki dan Wilutama?”
”Diem lu ah, mau tau aja……!” potong SBG kesal.
Kedua bidadari itu pun menghadap lebih cepat. Ternyata keduanya bukan mau dimarahi, melainkan untik didapuk menjadi duplikatnya Bethari Durga yang suka nyamar sebagai ”Emak-emak Militan”. Dewi Wilutama yang sudah berpengalaman hidup di ngercapada –ketika dikawin Kumbayana– dipersilakan tinggal di Pasetran Gandamayit. Sedangkan Dewi Warsiki didapuk jadi Bethari Durga yang suka gentayangan dalam aneka kegiatan pejabat ngercapada. Cuma, ”Emak-emak Militan” versi baru ini tak boleh suka mencatut nama SBG, dia harus jadi ”Bunda Putri” yang alim.
”Kok kami harus jadi duplikatnya Bethari Durga, pukulun. Memangnya eyang Bethari asli ke mana?” ujar Warsiki dan Wilutama mengkritisi penugasannya.
”Itu urusan ulun. Yang penting kalian jadi duplikat ”Emak-emak Militan” tapi jangan sekali-kali ada kesan kalian dekat dengan ulun, lho ya!” pesan SBG.
Keduanya segera masuk ke kamar rias, hanya dalam tempo 30 menit keduanya sudah kembali dengan wujud Bethari Durga. Hilang semua simbol kejelitaannya. Kulitnya yang putih bersih, jadi mbesisik macam cah angon. Betisnya yang mbunting padi, berubah jadi mirip bongkotan pring (pangkal bambu). Paling khas, gigi mereka yang gingsul menjadi taring menakutkan. Pendek kata, sudah persis Bethari Durga.
”Kami berangkat pukulun!” Warsiki dan Wilutama pamitan serentak.
”Hati-hati bawa kendaraan, jangan masuk jalur busway, nanti didenda Rp 1 juta.” pesan Patih Narada.
Sepeninggal Bethari Durga aspal, SBG segera perintahkan Patih Narada untuk memanggil Bethari Durga di Pasetran Gandamayit menit ini juga. Dengan HP yang sudah diprogram tm on, patih kahyangan itu segera kontak Bethari Durga. Dan memang benar, tak lama kemudian eks istri SBG itu hadir dengan penuh tanda tanya.
”Ada apa pukulun panggil saya?”
”Nggak usah banyak tanya. Kamu harus masuk Kawah Candradimuka sekarang juga. Itu hukuman bagi dewa yang suka mencatut pejabat Bale Marcakunda.” ujar SBG.
Bethari Durga mencoba meronta dan mohon ampunan, tapi terus digelandang para ajudan SBG dan kemudian dicemplungkan ke dalam kawah. Byurrrrr!! Legalah SBG, klilip di kahyangan sudah sirna. Dia yakin hilangnya Betari Durga takkan bikin geger, karena sudah ada Betari Durga duplikat. Tahunya publik kan itu si Betari Durga. (Ki Guna Watoncarita).



