Waspada! Banjir dan Tanah Longsor

Tanah longsor di Perumahan Pesona Kalisari, Ps Rebo, Jaktim, Senin (26/11). Musim hujan mulai tiba, semua pihak termasuk warga harus bersiap siaga menghadapi kemungkinan banjir dan longsor.

MEMASUKI musim hujan yang sudah mulai tiba di beberapa tempat di Indonesia termasuk wilayah Jabodetabek jelang penghujung tahun ini, warga diminta agar lebih waspada terhadap kemungkinan bencana tanah longsor dan banjir.

Rumah warga bernama Syarifudin di Kompleks Perumahan Pesona Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, menjadi korban tanah longsor pada Senin (26/11) sore akibat lubang di ruas jalan di depan rumahnya setelah turun hujan lebat.

Menurut dia, lubang tersebut terbentuk pada hari Minggu (25/11) sekitar pukul 11.00 WIB lalu. Saat mobil warga lainnya melintas ke luar kompleks, tiba-tiba terjebak di tengah jalan karena ban kiri depan tiba-tiba terperosok di dalam lubang berdiameter kurang dari satu meter tersebut.

Dari hasil jepretan kamera Syarifudin, lubang tersebut ternyata memiliki rongga di bawah aspal jalan yang akhirnya membuat pemilik rumah yang juga ketua RT tersebut, bersepakat dengan warga lainnya untuk memperbaikinya.

Akhirnya pengerjaan disepakati akan dimulai pada keesokan harinya, yaitu Senin (26/11) dengan penggalian dan pelebaran lebih dulu untuk kepentingan menimbun rongga tersebut dengan material kuat seperti batu, setelah itu barulah diaspal. Namun sebelum pengaspalan dilakukan, hujan deras mengguyur ibukota termasuk wilayah tersebut sekitar pukul 12.30 WIB.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun dua sepeda motor Syarifudin yang diparkir di dalam garasi turut terseret dan akhirnya tertimbun longsoran.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengunjungi lokasi, menemukan, banyak hunian yang dibangun di jalur hijau tersebut tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

“Setelah kami cek status lahannya, ini lahan hijau yang tidak seharusnya didirikan bangunan, namun kita saksikan sekarang semua penuh dengan rumah dan tidak punya IMB,” kata Anies selepas peninjauan.

Sebaliknya Syarifudin memastikan bahwa rumahnya memiliki IMB dan sertifikat lengkap. Tanah dan bangunan itu dibelinya sekitar tahun 2008. “Sudah ada bangunan dan sertifikatnya,” kata Syarifudin.

Kendati demikian, dia menyatakan dirinya akan mengikuti kebijakan dari Pemprov DKI Jakarta yang diyakininya solusi terbaik walaupun harus membongkar bangunan tempat tinggalnya tersebut.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Teguh Hendrawan mengakaui, sekitar 70 persen wilayah bantaran kali di ibukota sudah dipadati bangunan hunian sehingga membuat bantaran kali labil.

Anies mengatakan bila pengerukan hanya dilakukan di tengah tidak efektif untuk mengurangi banjir. Dia akan mengevaluasi rencana pengerukan sungai yang dilakukan oleh jajarannya.

“Di sisi lain, ketika dilakukan pengerukan hanya di tengah, efektivitasnya menurun. Jadi nanti bagian dari koreksi untuk jangka panjang kita,” sebut Anies.

Sementara itu musibah tanah amblas juga terjadi di lkasi yang sedang diperbaiki akibat longsor yang pernah terjadi beberapa pekan lalu di wilayah Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakata Utara Minggu lalu (18/11) sehingga menurut keterangan Camat Pademangan Mumu Mujahid, enam KK berjumlah 21 jiwa terpaksa diungsikan.

”Tanah itu sedang diturap oleh Dinas SDA, namun belum selesai, kembali amblas, “ tutur Mumu.
Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindsutrian dan Energi DKI Jakarta Ricki M Mulya mencatat, terjadi penurunan muka tanah di Jakarta antara 2014 – 2017 sekitar 25 cm atau setahun rata-rata tujuh sampai delapan cm akibat konsolidasi tanah yang relatif muda, eksplotasi air tanah, beban bangunan, gempa tektonik dan struktur biologi.

Bahaya banjir dan tanah longsor mengintai sehingga diminta kewasapadaan warga, jajaran kelurahan dan segenap pemangku kepentingan lainnya, apalagi musim penghujan baru mulai dan bakal masih berlangsung beberapa bulan ke depan.

Advertisement