JAKARTA – Kasus kekerasan perempuan dan anak bukan hanya terjadi di Indonesia saja, bahkan di negara-negara maju pun hal ini masih terjadi.
Dr. Bagus Riyono selaku Presiden Internasional Association of Muslim Psycologist mencontohkan, di Amerika kasus kekerasan terhadap anak bahkan banyak terjadi pada anak laki-laki.
“Bukan masalah gender, tetapi korban kekerasan bisa perempuan atau laki-laki,” ujarnya.
Begitupun dengan Swedia, negara yang sudah maju namun nilai liberalnya tertinggi di dunia, sehingga kebebasan di negara tersebut seringkali memicu seseorang melakukan tindakan asusila.
Sementara di Indonesia sendiri, Dr. Bagus menyoroti kasus yang sedang hangat yakni mantan guru honorer Baiq Nuril yang menjadi korban pelecehan Kepala Sekolahnya, namun dia yang harus dituntut hukuman UU ITE.
Kasus ini sudah lama terjadi yakni tahun 2012 namun penyebaran informasinya terjadi pada 2014, dan tahun 2018 Nuril diputuskan bersalah, karena Kepala Sekolah menuntutnya akibat rekaman pembicaraan tersebar.
Dr. Bagus menilai kasus ini karena korban tidak lebih dulu melaporkan pelecehan yang dia terima, sehingga lebih dulu dituntut setelah rekaman tersebut akhirnya tersebar.
Menurutnya, sistem hukum yang belum kondusif untuk melindungi korban, menjadi salah satu kemungkinan korban belum merasa aman untuk melaporkan, atau bisa juga karena faktor budaya yakni malu telah menjadi korban.
Berharap kasus-kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat dihapus, Dompet Dhuafa menyelenggarakan diskusi “Menghapus Kekerasan Terhadap Perempuan” yang digelar Kamis (29/11/2018) siang ini, di Hotel Sofyan Tebet, Jakarta.





