SABTU malam 22 Desember 2018 adalah malam Minggu kelabu bagi penduduk Banten dan Lampung. Pukul 21.30 saatnya orang-orang hendak berangkat ke peraduan, atau kalangan wisnu (wisatawan nusantara) sedang menikmati musik-musik di pantai Tanjung Lesung Banten, tiba-tiba datang air laut bergulung-gulung. Panggung ambruk, pemain dan penonton terseret ombak laut. Hiburan malam itu berubah jadi bencana. Sampai Selasa siang hari ini, 25 Desember 2018, korban tewas tercatat 429 orang,1.485 luka-luka dan 154 hilang. Musibah tsunami kok sampai berjilid, dari Palu-Donggala pindah ke Banten. Sebetulnya ini bencana atau azab Allah Swt, sih?
Kebetulan musibah ini datang bertepatan dengan musim liburan Natal dan Tahun Baru, karenanya warga masyakat yang berlebih uangnya berbondong-bondong ke DTW (Daerah Tujuan Wisata), baik itu Wisnu maupun Wisman (Wisatawan Manca Negara). Di antaranya yang menjadi tujuan daerah pantai. Pantai selatan misalnya Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Ketawang (Purworejo), Parangtritis (Yogyakarta), Karangbolong (Kebumen), Mbaron (Gunung Kidul), dan lain sebagainya.
Yang bertujuan ke pantai barat pulau Jawa, yang dikunjungi adalah: Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang dan Pantai Carita. Dan pada 22 Desember 2018 itu, musibah menyapa para wisnu tersebut. Tahu-tahu pukul 21.30 datang tsunami. Terbawa arus laut setinggi 4 meter, mereka terpisah dengan anggota keluarganya, bahkan nyawanya.
Sebagaimana kata Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Sutopo Purwonugroho, korban tsunami di Banten ini banyak dari kalangan wisatawan. Tragis memang. Mereka ke tempat ini demi menghilangkan kejenuhan di kota, eh….malah nyawa banyak yang ikut hilang pula.
Aa Jimmy dari Cianjur misalnya, dia bersama istri dan dua anaknya, meninggal dalam musibah itu. Hanya anak bungsunya yang selamat. Lalu dari grup band Seventeen, tiga personalnya tewas, ditambah Dylan Sahara istri Ifan yang juga personal band tersebut. Mereka ini pengisi gathering PLN, sehingga 32 karyawan PLN juga ikut tewas dalam acara itu, karena disapu tsunami Selat Sunda. Dan masih banyak kisah pilu dari para korban, yang sengaja rekreasi malah ngeterke nyawa (mengantar nyawa).
Di Jakarta dulu wisata pantai kebanyakan ke Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Tapi setelah orang-orang kota sadar wisata, khususnya yang ada di Jakarta, TIJA bukan lagi pilihan satu-satunya. Akibatnya kini pamor TIJA mulai meredup. Indikasinya, Pasar Seni sudah banyak ditinggalkan para senimannya. Target pemasukan 2018 yang dipatok Rp 68,4 miliar, hanya tercapai Rp 59,9 miliar.
Wisata pantai di Pantai Banten memang sudah lama dikenal. Tapi pernahkah membayangkan bahwa pada saatnya nanti bancana tsunami akan menyapanya? Dan Sabtu malam 22 Desember itu benar-benar terjadi. Banyak orang menjadi korban. Hingga Selasa siang hari ini, 25 Desember 2018, korban tewas tercatat 429 orang,1.485 luka-luka dan 154 hilang.
Orang pun mempertanyakan, kenapa Indonesia bertubi-tubi ditimpa bencana? Setelah gempa NTB, menyusul Palu-Donggala disapu tsunami akhir September 2018. Duka dan luka belum juga sembuh, tsunami pantai Banten-Lampung menyusul beberapa hari lalu. Apakah ini pertanda bahwa Tuhan mulai bosan dengan tingkah manusia yang penuh dengan dosa-dosa, sehingga dikirimkan azab berupa bala bancana bertubi-tubi?
Tapi menurut Mahfud MD, bencana tsunami di Aceh, Palu-Donggala dan terakhir pantai Banten-Lampung, adalah sunatullah atau hukum alam biasa. Sebab jika dikatakan adzab, korban tsunami banyak juga orang-orang baik, di samping tentunya orang-orang jahat. Mungkin juga koruptor yang belum terjangkau KPK. Maka kata Mahfud MD mantan Ketua MK itu, “Allah Swt tak mungkin membabi buta, sampai mengadzab orang baik-baik juga.”
Sejalan dengan pendapat Mahfud MD, Mbah Rono ahli vulkanologi dari Yogyakarta menilai, kemungkinan tsunami itu terjadi akibat longsor di gunung anak Krakatau. Longsoran tanah dan bebatuan berjuta-juta M3 itu mendesak volume air laut sehingga meluber ke pantai Banten dan Lampung. (Cantrik Metaram).





