TAMPANGNYA sih culun bin lholak-lholok, tapi karena dia putra raja Ngastina, nama Sarjokesuma demikian beken di jagad perwayangan. Semua pejabat dan politisi sangat hormat padanya, lantaran dia juga bisa bikin merah-birunya nasib mereka. Paling hebat, meski sekolahnya di Universitas Ngatasangin tak selesai, dia dijadikan penasehat Partai Ngastina Makmur (PNM), bentukan ayahnya. Kartomarmo selaku ketua umumnya tahu persis kwalitas Sarjokesuma ini, namun demi mangun karyenak tyas sang rama (menyenangkan sang ayah), dipaksakan juga.
“Anak kemarin sore kok jadi penasehat partai, yok apa se (bagaimana ini),” kritik Durmogati yang sekjen PNM.
“Sst, kayak nggak tahu saja kamu. Ini kan demi kelanggengan kita bersama. Dia itu tokoh strategis, meski sebetulnya tidak logis,” terang Kartomarmo sang Ketum PNM.
Begitulah, Sarjokesuma demikian ngetop karena figur Prabu Duryudana ayahnya. Sebagai makhluk homo sapiens, si Sarjo memang bukan homo. Buktinya dia ingin menikahi Dewi Antiwati putri patih Ngastina, Haryo Sengkuni. Maklum, meski tampang orang nomer dua di Ngastina ini nggak ketulungan, putri tunggalnya dikenal sangat cantik, sekel nan cemekel (enak dipegang). Kalangan politisi Ngastina pun mengatakan, jika Sarjokesuma berhasil kawin dengan Antiwati, koalisi PNM dengan Partai Plasajenar Sejahtera (PPS) semakin mesra hingga 2019.
Patih Sengkuni memang juga Ketua Umum PPS, sesusai dengan omongannya yang sering pepesan kosong. Tapi bagaimana lagi, itulah resiko politisi poligami jabatan. Sudah jadi patih, eh masih mau saja merangkap jadi Ketum partai. Akibatnya ya itu tadi, sebagai patih nggak maksimal, sebagai ketua partai juga tidak total. Tapi nggak apalah, yang penting kan jadi tambah kapital.
“Benarkah Sarjokesuma naksir anak kita?” istri Haryo Suman mencoba klarifikasi pada suami.
“Ah, itu baru isu. Tapi jika terlaksana, kita semakin beruntung. Raja dan patih berkoalisi ranjang, jarang lho ini.” Ujar Sengkuni sembari senyum simpul.
“Katanya Sarjokesuma ini dulu pengidap narkoba, suka nyuntik. Maka dia selalu pakai baju lengan panjang.” Bisik-bisik istri Haryo Suman.
“Husy, ngaco kamu! Itu kan isyu saja……” tangkis Patih Sengkuni.
Namun di lubuk hatinya yang dalam, sebetulnya ada kecemasan juga dalam diri sang mahapatih. Soalnya dia tahu persis, Dewi Antiwati sudah kadung pacaran dengan Udawa patih Dwarawati. Memang sih belum ada lamaran resmi, tapi mereka sudah semakin intens membangun jaringan asmara, dari emil-emilan hingga cemal-cemolan.
Kecemasan itu menjadi kenyataan, ketika Prabu Duryudana memanggil Sengkuni secara khusus di Istana Gajahoya. Bukan soal politik, tapi masalah rencana Sarjokesuma mau beristrikan Antiwati. Dan posisi Patih Sengkuni makin terpojok, ketika Prabu Duryudana hanya memberi dua opsi. Menerima lamaran Sarjokesuma, Sengkuni tetap eksis jadi patih. Tapi jika menolak, besok pagi patih Ngastina diresahufle dan posisi diberikan pada Aswatama anak Pendita Durna.
“Saya pikir-pikir dulu, anak prabu. Soalnya, meski saya ini bapaknya, tapi bukan dalam posisi untuk memutuskan,” jawab Ketum PPS itu.
“Baik. Tapi bagaimana pun juga ini kan menyangkut masa depan anak kita, jadi ya harus fokus….,” kata Prabu Duryudana.
Bagi patih Sengkuni, bermenantukan putra mahkota Gajahoya sungguh pilihan bak buah simalakama. Dimakan, ayah mati, tak dimakan ibu yang mati. Lalu apa mungkin diemut saja? Tapi bagaimana pula cara ngemutnya? Pusinglah sang mahapatih. Untung saja masih ada Bodrex sisa kiriman Dede Jusuf.
Di istana Jenar Plaza Patih Sengkuni sempat berdebat dengan istri. Sang istri condong membahagiakan putrinya, tapi Sengkuni cenderung mengamankan posisi. Makanya, meski bertentangan dengan hati nurani selaku orangtua, dia memilih si culun Sarjokesuma sebagai mantunya.
“Saya nggak mau Pak, punya suami tampang tukang nyeret begitu,” kata Dewi Antiwati ketus.
“Jaman sekarang ndhuk, witing tresna itu merga atusan lima…” sergah Sengkuni.
Patih Sengkuni segera kirim WA ke Prabu Duryudana bahwa menerima opsi pertama. Esuk paginya jubir Istana Gajahoja, Tumenggung Jaya Karneli, menggelar konperensi pers, mensosialisasikan rencana perkawinan akbar Sarjokesuma – Antiwati, yang sekaligus bisa dimaknai sebagai koalisi berkelanjutan PNM – PPS.
“Ee, ee…..perkawinan Sarjokesuma ee….ee Dewi Antiwati, direncanakan dua minggu lagi. Tapi ee…..soal siapa jadi saksinya, ee bapak baginda raja belum memberi petunjuk,” kata jubir Jaya Karneli.
“Cepetan dong ah, ngomongnya. Macam mensesneg jaman Orde Baru saja…,” protes wartawan serempak.
Hari perkawinan Sarjokesuma – Antiwati makin mendekat. Direncanakan resepsi berlangsung di Balai Gendari, dengan MC Tina Talisa. Bertindak sebagai saksi pengantin lelaki Prabu Baladewa, sedangkan dari pihak pengantin wanita adalah Durmagati. Semula Kartomarmo yang ditunjuk, tapi dia tidak mau cenderung takut.
“Jangan saya deh, yang lain saja. Jadi saksi itu berat, kalau salah ngomong bisa naik status jadi tersangka.” Kata Kartomarmo beralasan.
“Ini saksi perkawinan, bukan OTT KPK, goblooooog!” kata Pendita Durna.
Demikianlah, jauh-jauh hari Patih Sengkuni sudah pasang pengumuman bahwa tidak menerima sumbangan bentuk apapun, karena takut dianggap gratifikasi. Tapi jika langsung transver ke rekening banknya, itu nggak apa-apa, karena di Ngastina belum ada lembaga PPATK.
Namun celaka tiga belas, di kala Sarjokesuma sudah berangkat ke Plasajenar dengan pakaian kebesaran pengantin, justru Antiwati menghilang misterius, kabarnya dibawa kabur Udawa. Daripada malu, Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni sepakat menggati pengantin putrinya dengan Limbuk, perempuan dari Seksi Rumahtangga Istana. Wajah sih lumayan, cuma tubuhnya saja yang OTB (Orang Tanpa Bentuk)
“Elho, Dewi Antiwati kok jadi antikasur, to ini?” keluh Sarjokesuma.
“Nggak apa-apa, yang penting kan mendut-mendut.” hibur Pendita Durna. (Ki Gunawatoncarita)



