ALAP-ALAPAN SITI SENDARI

Begitu banyak cewek dirayu Sarjokesuma, tapi tak satupun menerima cintanya.

DALAM urusan perjodohan, putra pejabat tinggi dan tertinggi di Ngastina, Sarjokesuma ini sangat buruk peruntungannya. Tak satu pun perempuan sudi diperistri olehnya. Maka dalam usia 40 tahun sekarang ini, dia terus hidup tanpa pendamping. Maklum, setiap wanita yang dilamar olehnya, jawabnya demikian sinis,  “Aku sampai dinikahi Sarjokesuma? Mending tak cantelke nggetek (disangkutkan pagar) itu barang.”

Barang apa itu? Barangnya almarhum Sutan Bathugana, ngkali. Nggak tahulah! Yang jelas, Sarjokesuma ini memang  tokoh yang tak laku dijual di Ngastina. Lho, dia kan anggota DPR? Memang iya sih, tapi bisa jadi karena pengaruh sosok ayahnya, Prabu Duryudono. Lihat saja selama jadi wakil rakyat, bikin komentar selalu standar, bernada keniscayaan. Ada teroris tertangkap, komentar Sarjokesuma: Harus diusut sampai ke akar-akarnya! Memangnya kalau dia tak bicara, lalu negara mendiamkan saja?

“Kabarnya Mas Sarjo mau melamar Siti Sendari putra Prabu Kresna?” tanya pers di kala memergoki Sarjokesuma bolos sidang kedewanan.

“Lho kok tahu? Baru pedekate saja kok, doakan saja ya.” Jawab Sarjokesuma  tersipu-sipu.

Isyu yang berkembang memang begitu, Sarjokesuma tengah ngudak-udak Siti Sendari. Padahal gadis itu telah dilamar oleh Abimanyu putra Harjuna, bahkan mereka sudah ring segala. Tapi Sarjokesuma yang mengandalkan nama besar orangtuanya, mencoba menggagalkan kesepakatan Dwarawati – Madukara. Seperti biasa, yang dijadikan tim pelobi adalah Pendita Durna yang dikenal punya akses baik ke Harjuna.

“Tenang saja kamu Sar. Jampi-jampi Eyang Durna lebih manjur dari dukun cabul. Sekali tak umak-umik, pasti Siti Sendari lengket kaya Super Glu.” Hibur Pendita Durna, tapi Patih Sengkuni malah tertawa.

“Kenapa Di Cuni tertawa, memangnya lucu? Gagal paham sampeyan!”

“Ya lucu, jadi dukun cabul kok ngaku. Bikin orang ingat skandalmu mencabuli kuda Wilutama, he he he……”

“Diam, kamu Di Cuni. Gua kepret nanti, kasus lama kok diungkit-ungkit.”

Kedua tokoh penting Ngastina itu ribut sendiri, seperti Cebong dan Kampret dalam Pilpres, sampai-sampai Sarjokesuma harus mengingatkan garansi Pendita Durna yang terlanjur gagal fokus. Wong tadinya topik Siti Sendari kok jadi belok ke kuda Wilutama.

“Betul ya Eyang Durna? Cintaku pada Siti Sendari bakal sukses?….,” kejar Sarjokesuma penasaran.

“Iya, iya. Pokoknya mak jleb lah!”

Benarkah garansi Pendita Durna? Mbelgedes! Tahu sendirilah karakter wayang Pendita Durna. Mau berjuang jika anggaran cukup. Padahal Prabu Duryudono ini pelitnya minta ampun. Nyuruh orang bikin proyek tapi enggan keluar dana sepeser pun, katanya silakan cari sponsor. Walhasil semangat juang Pendita Durna jadi kurang maksimal: berhasil sukur, nggak berhasil ya salah sendiri, mbayar selawe kok njaluk slamet.

Padahal Sarjokesuma telah begitu mengharapkan idu geni (instruksi sakti) Eyang Durna. Sejak dua minggu lalu Satgas Lamaran Siti Sundari dibentuk, hingga kini belum ada tanda-tanda Dwarawati memberi lampu hijau pada Sarjokesuma. Sebagai wayang tak sabaran, akhirnya putra sulung Duryudono itu berjuang dengan caranya sendiri. Dia kerahkan wayang Durmogati, Kartomarmo, Aswatama dan Burisrawa untuk merebut Siti Sendari dari tangan Abimanyu secara kasar.

“Kalian berempat harus bisa menang lawan Abimanyu,” perintah Sarjokesuma tanpa tatakrama lagi. Masak paman-paman mereka hanya disebut kalian.

“Jadi harus lewat KLB, ta ini?” potong Durmogati.

“Apa itu?”

“Keroyokan Luar Biasa, ha ha ha…..!” lagi-lagi Durmogati cekakakan.

Kwartet Burisrawa – Kartormarmo – Durmogati – Aswatama memang dikenal sebagai sosok tukang cari muka dan membebek pada para elit kekuasaan macam Sarjokesuma. Biru kata Sarjokesuma, biru pula kata Burisrawa Cs. Maka ketika disuruh menghabisi Abimanyu langsung bergerak tanpa reserve. Saat Abimanyu main di kafe “Mangga Mampir” kawasan Madukara dekat Gembongan Kartosura, langsung digebuki rame-rame. Tak sampai mati memang, tapi pacar Siti Sendari ini langsung masuk UGD dan diinfus.

Hubungan Pendawa –Kurawa yang selama ini kurang harmonis, menjadi makin memburuk gara-gara insiden “Mangga Mampir” ini. Tapi Prabu Duryudono yang selalu berkaok-kaok bahwa hukum selalu ditegakkan secara konsekuen, segera membentuk Satgas Kasus Mangga Mampir. Hasilnya, Burisrawa Dkk langsung dijebloskan ke dalam tahanan, dan Sarjokesuma selaku pemegang komando diadili lebih cepat.

“Meski anak saya sendiri, kalau salah harus dihukum,” tegas Prabu Duryudono kepada pers.

“Tumben-tumbenan Pak, prosesnya begitu cepat. Jutaan perkara kan masih numpuk di Pengadilan, Pak?”

“Siapa dulu dong bapaknya?” potong Patih Sengkuni, sampai dilirik Sang Prabu.

Dalam sidang yang hanya makan tempo 2 hari, Sarjokesuma divonis bersalah, sehingga dihukum 3 tahun dalam masa percobaan 5 tahun. Itu artinya, dia tidak perlu masuk kurungan, sehingga terus bisa berkarier. Dan hari berikutnya, hampir semua koran di Pendawa menjuluki putra Ngastina itu dengan nama: Sarjokesuma Priya Budicandala.

Jelas Harjuna berikut jajarannya tidak puas. Dia ingin bikin perhitungan dengan Kurawa, tapi dicegah oleh Betara Kresna. Sebab sesuai kode etik perwayangan, Pendawa perang besar-besaran melawan Ngastina itu hanya nanti pada Perang Baratayuda Jayabinangun. Maka Harjuna diminta sabar dulu, karena payung hukum Baratayuda sedang disusun di kahyangan Jonggring Salaka.

“Sabar, sabar gimana? Anak saya kadung cacat, mana mungkin Abimanyu bisa jadi senapati Baratayuda nanti?” kata Harjuna penuh ketidakpuasan.

“Sabar, dimas, sabar. Sabar itu subur, tapi jangan takabur,” kata Prabu Kresna memberi pencerahan.

Harjuna berhasil dikendalikan, sehingga pergesekan Pendawa – Kurawa bisa dicegah.  Tapi malam harinya terjadi berita mengejutkan, Burisrowo, Kartomarmo, Durmogati dan Aswatama yang dititipkan di LP itu mati mengenaskan. Mereka ditembak serentak dengan “mlinjo” di jidat masing-masing. Gegerlah kubu Ngastina. Eyang Durna nangis melololong-lolong kehilangan putra tercinta.

“Minggu kemarin dia baru masuk daftar Caleg. Kalau sudah mati begini, kapan saya punya anak anggota DPR, hu hu hu…..,” ujar Durna sambil bersedu sedan.

Lagi-lagi dengan alasan hukum harus ditegakkan, penyelidikan segera dilakukan. Siapa pelakunya? Berdasarkan saksi mata, mereka terdiri dari 4 orang yang semuanya bergerak cepat dan sangat terlatih. Pasti wayang luar Ngastina itu. Sebab wayang Kurawa sudah terbiasa nembak kaki kena kepala.

Ada kecurigaan mengarah ke Pandawa, tapi Prabu Baladewa langsung marah-marah dan menafikan kemungkinan itu. Alasannya, sebagai Pakde Galak, anak-anak Pendawa pasti takut padanya. Tapi apapun alasannya, tim penyelidik Pendawa dan Ngastina bergerak. Tim Kurawa beraninya hanya main di luar, sehingga baru menemukan sejumlah proyektil. Sedangkankan Tim Pendawa mengakui dengan jujur, ternyata pelakunya Antaseno, dibantu Gatutkaca, Sencaki dan Antarejo. Mendengar itu, kumis sekepel Prabu Baladewa langsung rontok.

“Malu aku punya ponakan seperti itu. Sudah kujamin jadi Pakde Galak, ternyata kok begini.” Ujar Prabu Baladewa, yang sekaligus panglima dan raja Mandura itu.

“Makanya, kangmas jangan terlalu emosi, bikin komentar seru tapi keliru….. Mau kayak Ahmad Dhani?” sindir Prabu Betara Kresna.

Jika mengikuti hukum sebenarnya, Antaseno Cs memang harus dihukum mati juga atas penginjakan-injakan hukum di negeri jiran. Tapi dengan cara itu apa Burisrawa Cs bisa hidup lagi? Maka kemudian Kresna menawarkan solusi. Dengan pusaka Kembang Cangkok Wijayakesuma dijamin Burisrowo Cs bisa dihidupkan, tapi Gatutkaca Dkk juga tak perlu dihukum mati. Ternyata Prabu Duryudono menerima solusi itu.

“Gitu juga bagus, yang penting Aswatama bisa terus nyaleg.” kata Durna.

Benar saja, berkat kembang Cangkok Wijayakesuma, jenazah Kartomarmo, Burisrowo, Durmogati dan Aswatama bisa dihidupkan lagi. Tapi Prabu Kresna pesan, Durmagati supaya istirahat dulu sebagai penyair politik.  Kasihan negara, sudah menggaji  dia Rp 5 miliar setahun, kerjanya hanya bikin puisi murahan nihil nilai sastra.  (Ki Guna Watoncarita).

 

 

 

 

           

 

Advertisement