
BAGI Jepang, nilai-nilai luhur budaya bangsanya selain tidak lekang oleh perubahan zaman, tetapi juga memberikan kontribusi besar, menempatkannya berada di klub negara industri terkemuka, G-7.
Penjulukan era pemerintahan merupakan salah satu fenomena penting bagi negeri Matahari Terbit itu dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa penting seperti kelahiran, kematian, gunjang-ganjing politik, musibah atau bencana alam.
Kaisar Jepang Akihito yang dinobatkan pada 1989 akan lengser keprabon dan menyerahkan tahtanya pada Putera Mahkota, Pangeran Naruhito pada 30 April 2019.
Berkaitan dengan suksesi kekaisaran, pemerintah Jepang, Senin (2/3) mengumumkan era baru bernama Reiwa yang bermakna sebagai keindahan (budaya-red) untuk mewujudkan mimpi atau cita-cita bangsa.
“Nilai-nilai tradisional tidak boleh ditinggalkan di tengah terjadinya perubahan-perubahan besar, “ ujar PM Jepang Shinzo Abe seraya menambahkan, Reiwa mengandung pesan, “budaya bangsa lahir, tumbuh dan di dilukis dengan indah di lubuk sanubari rakyat.
Lengsernya Akihito menandai akhir era Heisei (perwujudan perdamaian) antara 1989 – 2019, sebelumnya era Showa (1926 -1989), era Taisho (1912 – 1926) dan Meiji (1868 – 1912) yang dikenal sebagai awal era sejarah modern negari Sakura itu.
Diskusi soal nama era tersebut diikuti a.l. oleh Ketua Federasi Bisnis Jepang Sadayuki Sakakibara, peraih nobel Bidang Fisiologi dan Kedokteran Prof. Shinya Yamanaka dari Kyoto University serta novelis Mario Hayashi .
Kata Reiwa yang mengawali era Kaisar Naruhito mulai Mei nanti juga menandai pertama kalinya nama era berasal dari antologi puisi Jepang kuno bernama Manjoshu, berbeda dari nama era sebelumnya yang bersumber dari teks China.
Karakter Reiwa berasal dari puisi tentang musim semi ditandai angin sepoi-sepoi di tengah bunga prem yang sedang mekar.
Jepang pantas ditiru, sukses menjadi negara yang modern dan menguasai teknologi tanpa meninggalkan budaya tradisional dan kearifan lokal bangsanya.
Indonesia jangan sampai menjadi kebalikannya. Belum “sampai” menjadi negara modern, budaya luhur dan kearifan malah sudah terkikis.
Budaya cerminan dan wajah suatu bangsa!




