Tidak seperti biasa yang hanya mengirim Da’i laki-laki ke luar negeri, sejak tahun 2018 Dompet Dhuafa juga mengirim Da’iyah sebagai Ambassador.
Mulai tahun 2018, Dompet Dhuafa sudah membuka rekrutmen terbuka bagi Da’iyah yang berminat dikirim berdakwah ke luar negeri. Salah satu yang lulus menjadi Da’iyah Cordofa adalah Ustadzah Kuni Afifah Hasan, M.Hi., kelahiran Jombang tahun 1979. Ia akan ditempatkan berdakwah di Hongkong dan Macau, di Ramadhan 1440 H ini. Saat ini, Ustadzah ini berprofesi sebagai pengajar (guru) di Madrasah Ibtidaiyyah Mumtaza Islamic School, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan.
Awalnya Kuni Afifah Hasan, tahu ada rekrutmen Da’i Ambassador Dompet Dhuafa dari temannya. Kebetulan sekali teman ibu dari Hannah Syahida Rahmadina, 14 tahun dan Hasan Wirayuda Kesuma, 11 tahun ini, merupakan adik ipar dari Ustad Syarif yang Ramadhan 1439 H lalu, dikirim Dompet Dhuafa untuk berdakwah ke Jepang.
Langkah Kuni yang pertama ketika mendapat kabar itu, adalah membuka laman web dompetdhuafa.org. Setelah membuka laman resmi Dompet Dhuafa tersebut, Kuni agak kecewa karena dipersyaratannya semuanya hanya untuk laki-laki. Tapi setelah dikonfirmasi ke Dompet Dhuafa ternyata perempuan juga boleh.
Akhirnya Kuni bersemangat mengirim formulir tidak lama setelah pengumuman rekrutmen keluar, 24 Januari 2019. Ia bahagia, karena tahap awal persyaratan administrasi ia dinyatakan lolos. “Saya bersyukur sekali ketika lolos administrasi, karena memang kualifikasi yang dibutuhkan sangat berat, ” kata Kuni mengisahkan awal ia mendaftar kepada Swara Cinta, Maret 2019 lalu.
Lolos pada tahap pertama, Kuni mengaku berkerja lebih keras untuk mempersiapkan diri menghadapai Ujian tahap kedua.
“Setelah diumumkan hasil finalnya, alhamdulillah rasanya seperti mimpi dan bagi saya ini semata-mata karena rahmat Allah SWT. Dan semua itu atas doa keluarga, teman guru dan semua orang yg mengenal saya,” ungkap Kuni senang.
Intinya, lanjut Kuni, faktor paling utama atas kelulusan ini adalah atas izin dan ridho Allah SWT dan orangtua serta do’a semua orang yang tulus untuknya. “Karena itulah saya amat sangat bersyukur atas nikmat ini. Dan syukur itu saya implementasikan dengan mempersiapkan diri semaksimal mungkin, lahir dan batin. Karena ini adalah amanat yang harus saya jaga,” ujarnya.
Sebagai ibu rumah tangga, ia sudah mendapat dukungan dari semuanya, termasuk ayah, ibu, kakak, adik dan anak-anak. “Saya semuanya turut bersyukur dan bahagia, mereka sangat mendukung saya menjadi Dai Ambassador ini,” tegasnya.
Diakuinya ketika melihat para Da’i Ambassador ini ia agak rendah diri. “Sejujurnya saat saya mengamati Para Asatidz di Da’i Ambassador ini, saya makin sadar bahwa mereka semua ini orang-orang terpilih, orang-orang istimewa denga skill dan pengetahuan yang mumpuni dan membuat saya merasa tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Karena itu saya lebih bersyukur lagi bisa diterima di Da’i Ambassador Dompet Dhuafa ini dengan segala kekurangan dan keterbatasan saya,” unkap Ustadzah Kuni.
Kuni merupakan lulusan S1 Fakultas Syariah di UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta 2004. Dan S2 Pemikiran Hukum Islam di UNHASY Tebuireng Jombang, 2008. Saat ini ia mengemban amanat sebagai Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarana Prasana dan TU
Terkait dengan diberinya kesempatan Da’iyah untuk dikirim menjadi Da’i Ambassador Dompet Dhuafa ke luar negeri Direktur Dakwah Dompet Dhuafa Ustadz Ahmad Sonhaji mengatakan Potensi mad’u yang menjadi objek da’wah di luar negeri sangat variatif. Peran Dompet Dhuafa dalam mengoptimalkan Cordofa harus jeli melihat tingkat kebutuhan masyarakat dan umat.
Karena itu, dari pengalaman Ambasador Dompet Dhuafa yang berlalu, merekomendasikan juga diperlukan menurunkan Da’iyah ke luar negeri. Alasannya, Pertama, ada beberapa negara yang sentuhan da’iyah lebih menyentuh untuk pencapaian target dakwah. Kedua, ada persoalan kedekatan dan emosional dakwah untuk menjawab persoalan agama yang lebih terbuka dengan da’iyah, baik persoalan fiqih maupun problem solving bagi wanita dan Ketiga, ada negara yang jumlah Mad’unya didominasi oleh kaum wanita, sehingga peran da’iyah akan cepat menyentuh untuk mendekati sasaran dakwah yang lebih maksimal.
Alasan itulah, kata ustad Sonhaji, mulai 2018, Dompet Dhuafa memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Da’iyah yang ingin berkiprah menjadi pendakwah di luar negeri.





