Pasca Helat Usai

Berdasarkan hasil sementara perhitungan cepat sejumlah lembaga survei, paslon nomor urut 1 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin unggul pada kisaran 53 sampai 55 persen di sejumlah TPS dibandingkan kisaran antara 43 sampai 45 persen untuk paslon no. 2 Prabowo Subianto- Sandiaga Uno. Hasil Resmi dan lengkap akan diumumkan KPU, 22 Mei.

HELAT demokrasi Pemilu serentak 2019 berupa pemilihan calon presiden dan wakilnya serta pemilihan legislatif tlah usai, kini segenap pemangku kepentingan bangsa harus kembali berbenah diri.

Proses pilpres dan pileg yang menguras banyak energi dan dana, belum lagi gegap gempita dan dinamika kampanye  paslon presiden dan wapres yang membuat pengap medsos dengan narasi kebencian, fitnah , kabar bohong yang bahkan nyaris memecah belah bangsa.

Tentu jalannya Pemilu yang digelar di 813. 350 TPS di 34 provinsi tidak berjalan sempurna. Ada insiden kecil-kecilan, keterlambatan penyampaian logistik pemilu terutama kertas suara atau calon pemilih yang tidak bisa mencoblos karena masalah-masalah teknis.

Sambil menanti hasil resmi KPU, sistem penghitungan cepat atau “quick count” oleh sejumlah lembaga survei sudah bisa diketahui publik yang bisa digunakan sebagai prediksi awal.

Tidak jauh berbeda dari hasil-hasil survei yang digelar menjelang hari “H” Pemilu, paslon presiden dan wapres No. urut 1, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin menang dengan selisih antara sembilan hingga 10 persen dari  paslon No. urut 2 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Dari hasil quick count Litbang Kompas, paslon Jokowi –Amin  unggul dengan 54,2 persen suara, Prabowo-Uno 54,52 persen, sedangkan SMRC:  Widodo – Amin 54,83, Prabowo-Sandi 45,17, CSIS-Cirrus:  Jokowi-Amin 55,64, Prabwowo-Uno 44,36, Indobarometer: Jokowi-Amin 54,38, Prabowo –Uno 45,62, Poltracking Jokowi – Amin 55,21, Prabowo – Uno 44,79, Indikator: Jokowi-Amin 54,07, Prabowo-Sandi 45,93, Charta Politika Jokowi-Amin 54,47, Prabowo-Uno 45,53. (Data-data yang masuk berkisar antara 89,3 hingga 97,6 persen).

Sabar Menanti Hasil KPU

Jokowi pada para pendukungnya selain menyampaikan rasa syukur pada hadirat Allah atas hasil yang diraihnya sesuai hitungan quick count, meminta mereka bersabar, sambil menanti hasil final dan resmi yang akan diumumkan paa 22 Mei.

Sebaliknya, paslon Prabowo-Uno sendiri, berdasarkan hasil eksit pool yang namanya dirahasiakan di sekitar 300.000 TPS atau hampir 40 persen dari seluruh TPS, ia meyakini, unggul dengan 62 persen diatas paslon lawannya.

“Saya diyakinkan oleh para pakar statistik, sudah meraih 62 persen suara. Hasil finalnya, paling turun satu atau naik satu persen, “ ujar Prabowo, bahkan ia melakukan sujud syukur dan taqbir untuk merayakan kemenangan.

Sekarang segenap komponen bangsa diharapkan kembali lagi ke aktivitas  keseharian, melupakan segala kejengkelan, ketersinggungan atau kemarahan terhadap teman, rekan sekerja, saudara atau kerabat akibat perbedaan calon pilihan masing-masing dan merekat kembali silaturrahmi .

Bagi presiden dan wapres terpilih nanti, setumpuk”PR” menanti mereka, selain membangun perekonomian demi kesejahteraan rakyat, juga membangun SDM agar menjadi manusia-manusia yang tangguh, mumpuni dan berkarakter untuk menyongsong revolusi industri 4.0.

Revolusi Mental secara total seperti yang dilakukan Jepang, melalui Restorasi Meiji, China dengan Revolusi Kebudayaan atau Korea Selatan dengan Saemaul Undong agaknya perlu dilakukan, tentu disesuaikan dengan budya dan keaifan lokal.

Terkait karakter bangsa, daya tahan untuk membuat agar bangsa ini tidak begitu mudahnya terhasut oleh narasi hoaks, ujaran kebencian dan fitnah terutama menyangkut isu sensitif SARA perlu ditingkatkan dengan menggairahkan literasi.

Upaya untuk menarik minat kaum milineal, cendekiawan  yang  santun, berprestasi dan cinta bangsa terjun ke bidang politik perlu didorong terus agar panggung politik tidak diisi oleh mereka yang licik, ambisius dan bermental korup, apalagi preman.

Rekrutmen oleh parpol perlu terus diperbaiki agar mampu mencetak pemimpin bangsa dan negarawan sehingga tidak menempatkan lagi DPR sebagai salah satu lembaga terkorup atau menghasilkan politisi yang membabi-buta membela partai atau kepentingannya.

Dan, last but not least, perhitungan suara terus dilakukan secara manual dan berjenjang, mulai dari TPS, Kecamatan,Kabupaten, Porvinsi sampai pusat sehingga tidak mungkin terjadi kecurangan dalam penghitungan.

Jadi, kalau ada wacana sebelumnya untuk mendeligitimasi Pemilu melalui pengerahan massa atau “people power”, niat tersebut  sebaiknya diurungkan, karena selain tidak logis, aparat TNI dan Polisi serta segenap rakyat akan melawannya.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement