Mudik: Utamakan Keselamatan!

Angkutan mudik baru mulai, sudah merenggut empat nyawa pengemudi dan penumpang kendaraan KIjang Innova B2395 NN di KM 391 Batang - Semarang, Selasa (28/5) lalu.

BARU berjalan, angkutan mudik sudah merenggut empat nyawa sekelurga akibat kecelakaan maut tabrakan kendaraan di ruas jalan tol Batang – Semarang Km 391 Kab. Kendal, Jawa Tengah, Selasa (28/5).

Kejadiannya, berawal dari kendaraan minivan Kijang Innova nomor polisi B-2395 NN diisi enam orang yang bertalian keluarga berbelok tajam dari lajur kanan arah Semarang hendak memasuki rest area di KM 391.

Menghindari truk yang melaju dari lajur kiri, kendaraan Kijang balik banting kemudi ke kanan hingga menabrak mobil Honda BRV B2951 dari arah sejajar yang dikemudikan Edward Syahrir (39) dari belakang.

Edward bersama isteri dan ketiga anaknya selamat walau kendaraannya menabrak media jalan, sedangkan Kijang yang menabraknya ringsek setelah tak terkendali menabrak pembatas sebelah kiri jalan.

Seluruhnya enam korban ada di mobil Kijang. Empat yang meninggal yakni Sukirno (64), Budi Mulyo (51), Sri Utami (56) dan Ismail (2) warga Ponorogo, sedangkan yang luka parah Sri Peni (61) dan Kania Tria (28) warga Magetan, Jatim.

Pemudik diminta meningkatkan kehati-hatiannya karena perjalanan panjang yang menguras energi, apalagi pengemudi jika puasa di tengah kemacetan, kemudian memacu kendaraan akibat euphoria di ruas tol setelah meliwati titik-titik macet dan halhal lain yang tak terduga.

Bahaya selalu mengintai para pemudik terutama kendaraan angkutan jalan raya. Selama angkutan mudik tahun lalu dari H-8 hingga H+8 lebaran 2018 terjadi 1.921 kecelakaan, 454 orang meninggal dunia.

Diperkirakan sekitar 150.000 kendaraan akan memadati ruas jalan tol
Trans-Jawa sepanjang 965 Km untuk mengangkut para pemudik atau terjadi peningkatan lebih dua kali lipatnya dari 70.000 kendaraan per hari dibandingkan hari-hari biasa.

Mayoritas perantau, mudik
Dari jajak pendapat yang digelar Kompas pada 620 responden berusia minimal 17 tahun di 16 kota besar pada 25-26 Mei lalu, 66,7 persen mengaku pernah mudik, bahkan empat dari 10 mudik tiap tahun.

Sebagian besar responden (83,4 persen) mengakui mudik bertujuan untuk bersilaturahmi, 7,9 persen menganggapnya sebagai tradisi dan 6,2 persen untuk mengisi liburan.

Mobil pribadi atau sewaan dipilih oleh 38,9 persen responden, 17,7 persen memilih bus/travel, 15,4 persen menggunakan sepeda motor, 10,6 persen dengan KA, 10,4 persen pesawat dan 3,9 persen kapal.

Berbagai prasarana dan sarana angkutan ditingkatkan oleh pemerintah terutama saat arus mudik dan arus balik lebaran. Ruas jalan tol Trans-Jawa sudah terhubung sepanjang 965 Km, frekuensi KA, penerbangan dan layanan kapal laut ditingkatkan.

Untuk angkutan jalan raya, khususnya di Jawa, sejumlah kebijakan diambil demi kenyamanan pengendara, a.l. penghentian pengerjaan proyek jalan tol layang Cikampek dan larangan operasi truk sementara, rekayasa arus lalulintas (a.l. contra flow) dan penambahan rest area.

Tentu saja, walau sarana dan prasarana terus diperbaiki, demand akan keselamatan dan kenyamanan serta jumlah pemudik juga terus meningkat, sehingga pemudik juga harus bertanggungjawab akan keselamatan dirinya dan pemudik lainnya.

Siapkan mental dan fisik, juga kelayakan kendaraaan serta tertib berkendara dengan mematuhi aturan lalin demi keselamatan bersama.
Semoga selamat sampai kampung halaman dan kembali ke kota masing-masing.

Tol Trans-Jawa Primadona Pemudik
DIPERKIRAKAN sekitar 150.000 kendaraan angkutan lebaran akan memadati ruas jalan tol Trans-Jawa sepanjang 965 Km atau terjadi peningkatan lebih dua kali lipatnya dari 70.000 kendaraan per hari dibandingkan 2018.
Animo pengendara berasal dari wilayah Jabodetabek, menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Minggu (26/5), cukup tinggi untuk menjajal ruas jalan tol baru dari Merak hingga Probolonggo yang mulai dioperasikan musim lebaran tahun ini.
Hasil survei Balitbang Perhubungan menyebutkan, 40 prsen dari sekitar satu juta kendaraan pribadi dengan 4,3 juta penumpang yang berasal dari wilayah Jabodetabek akan melintas ruas jalan tol Trans-Jawa saat musim lebaran kali ini.
Sejumlah kebijakan diambil untuk meningkatkan kenyamanan pengendara di ruas tol, misalnya menerapkan sistem satu arah pada ruas-ruas padat, menambah gerbang tol (GT) dan juga rest area serta penghentian pekerjaan proyek dari 26 Mei pukul 00.00 WIB hingga 15 Juni pukul 24.00 WIB.
Sistem satu arah diberlakukan sepanjang 24 jam pada 30 Mei hingga 2 Juni di GT Cikarang Utama (Km 29) hingga Gerbang Tol Brebes Barat di Km 262.
Sebaliknya Sistem satu arah juga diberlakukan pula sepanjang 24 jam pada arus balik antara 8 sampai 10 Juni antara GT Palimanan (Km 189) hingga GT Cikarang Utama (Km29).
Sistem lawan arah (contra flow) dari pukul 06.00 hingga 21.00 dipersiapkan di ruas tol Cikampek (Km29 – Km61) dengan menambah satu jalur untuk kendaraan yang keluar Jakarta pada arus mudik dan sebaliknya penambahan satu jalur bagi kendaraan menuju Jakarta pada arus balik.
Selain menambah 20 rest area sepanjang ruas tol Trans-Jawa yang pada musim-musim angkutan lebaran tahun-tahun sebelumnya menjadi titik-titik kemacetan, antrian panjang di GT-GT saat pembayaran toll juga diantisipasi oleh pengelelola jalan tol.
Angkutan darat melaui ruas jalan tol di lintas Trans-Jawa diminati masyarakat untuk angkutan mudik tahun ini selain adanya sejumlah penambahan jalan baru, juga karena tingginya harga pwsawat dan terbatasnya kapasitas angkutan KA.
Berkendara melalui ruas tol juga memangkas waktu perjalanan cukup signifikan, seperti yang dilakukan tim Kompas hanya dalam 3,5 jam untuk jarak 328 Km dari Semarang ke Surabaya dibandingkan 8 jam 48 menit melalui ruas non-tol Jalur Pantura sepanjang 315 Km.
Prasarana jalan sudah semakin baik, namun diharapkan para pengendara waspada untuk tidak memacu kendaraannya secara berlebihan dir ruas tol, karena kecelakaan dan maut mengintai anda.
Menurut catatan, jumlah kecelakaan lalu lintas dari H-8 hingga H+8 lebaran 2018 sebanyak 1.921 kejadian, 454 orang meninggal dunia.
Hari “H” Idul Fitri semakin mendekat. Bagi pemudik, siapkan mental, fisik dan kendaraan sebelum berangkat dan semoga selamat sampai tujuan dan juga sampai saat kembali.
Tol Trans-Jawa Primadona Pemudik
DIPERKIRAKAN sekitar 150.000 kendaraan angkutan lebaran akan memadati ruas jalan tol Trans-Jawa sepanjang 965 Km atau terjadi peningkatan lebih dua kali lipatnya dari 70.000 kendaraan per hari dibandingkan 2018.
Animo pengendara berasal dari wilayah Jabodetabek, menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Minggu (26/5), cukup tinggi untuk menjajal ruas jalan tol baru dari Merak hingga Probolonggo yang mulai dioperasikan musim lebaran tahun ini.
Hasil survei Balitbang Perhubungan menyebutkan, 40 prsen dari sekitar satu juta kendaraan pribadi dengan 4,3 juta penumpang yang berasal dari wilayah Jabodetabek akan melintas ruas jalan tol Trans-Jawa saat musim lebaran kali ini.
Sejumlah kebijakan diambil untuk meningkatkan kenyamanan pengendara di ruas tol, misalnya menerapkan sistem satu arah pada ruas-ruas padat, menambah gerbang tol (GT) dan juga rest area serta penghentian pekerjaan proyek dari 26 Mei pukul 00.00 WIB hingga 15 Juni pukul 24.00 WIB.
Sistem satu arah diberlakukan sepanjang 24 jam pada 30 Mei hingga 2 Juni di GT Cikarang Utama (Km 29) hingga Gerbang Tol Brebes Barat di Km 262.
Sebaliknya Sistem satu arah juga diberlakukan pula sepanjang 24 jam pada arus balik antara 8 sampai 10 Juni antara GT Palimanan (Km 189) hingga GT Cikarang Utama (Km29).
Sistem lawan arah (contra flow) dari pukul 06.00 hingga 21.00 dipersiapkan di ruas tol Cikampek (Km29 – Km61) dengan menambah satu jalur untuk kendaraan yang keluar Jakarta pada arus mudik dan sebaliknya penambahan satu jalur bagi kendaraan menuju Jakarta pada arus balik.
Selain menambah 20 rest area sepanjang ruas tol Trans-Jawa yang pada musim-musim angkutan lebaran tahun-tahun sebelumnya menjadi titik-titik kemacetan, antrian panjang di GT-GT saat pembayaran toll juga diantisipasi oleh pengelelola jalan tol.
Angkutan darat melaui ruas jalan tol di lintas Trans-Jawa diminati masyarakat untuk angkutan mudik tahun ini selain adanya sejumlah penambahan jalan baru, juga karena tingginya harga pwsawat dan terbatasnya kapasitas angkutan KA.
Berkendara melalui ruas tol juga memangkas waktu perjalanan cukup signifikan, seperti yang dilakukan tim Kompas hanya dalam 3,5 jam untuk jarak 328 Km dari Semarang ke Surabaya dibandingkan 8 jam 48 menit melalui ruas non-tol Jalur Pantura sepanjang 315 Km.
Prasarana jalan sudah semakin baik, namun diharapkan para pengendara waspada untuk tidak memacu kendaraannya secara berlebihan dir ruas tol, karena kecelakaan dan maut mengintai anda.
, jumlah kecelakaan lalu lintas dari H-8 hingga H+8 lebaran 2018 sebanyak 1.921 kejadian, 454 orang Menurut catatan meninggal dunia.
Hari “H” Idul Fitri semakin mendekat. Bagi pemudik, siapkan mental, fisik dan kendaraan sebelum berangkat dan semoga selamat sampai tujuan dan juga sampai saat kembali.

PEMUDIK menggunakan angkutan jalan raya dari ujung barat Sumatera sampai Jawa Timur diharapkan lebih nyaman dengan penambahan dan perbaikan ruas jalan tol dan alternatif serta rekayasa lalu lintas.
Sistem satu arah diberlakukan guna mengantisipasi kemacetan di ruas toll Jakarta – Cikampek akibat pengerjaan empat proyek yakni LRT Jakarta – Bekasi Timur, jalur KA cepat Jakarta – Surabaya, tol elevasi Jakarta – Cikampek dan tol Cibitung-Cilincing.
Seluruh kegiatan proyek tersebut juga dihentikan sementara pada H-10 sampai H+10 Lebaran 2019, sedangkan sistem satu arah diberlakukan 24 jam dari Km29 di Gerbang Tol (GT) Cikarang Utama hingga Km262 di GT Brebes Barat selama empat hari dari 30 Mei hingga 2 Juni.
Sistem satu arah diberlakukan pula sepanjang 24 jam pada arus balik antara 8 sampai 10 Juni antara GT 189 di Palimanan hingga Km29 di GT Cikarang Utama.
Pembatasan mobil pengangkut barang yang juga ikut berkontribusi menimbulkan kemacetan di ruas tol kecuali mobil pengangkut bahan bakar, bahan kebutuhan pokok dan barang impor-ekspor diberlakukan pada H-3 sampai H-3.
Berdasarkan data Korlantas Polri, 1,3 juta kendaraan melintas GT Cikarang Utama pada musim lebaran 2018 antara 7 – 24 Juni 2018 didominasi (75 persen) kendaraan ke arah timur, sedangkan tahun ini diprediksi 10,6 juta kendaraan pribadi dimana 7,2 juta diantaranya menuju arah timur.
Pengaturan penggunaan rest area, menurut Dirjen Hubdar, Kementrian
Perhubungan, Budi Setiadji perlu dilakukan karena tingginya animo pemudik mengunjunginya sehingga memicu kemacetan sehingga ia mengimbau agar pemudik tidak memaksakan diri mampir di rest area.
Jalur alternatif non-tol di pantai utara dan selatan Jawa juga cukup nyaman untuk dilalui dan mengurangi kepadatan ruas tol.
Sejumlah perbaikan jalan masih dikebut di ruas tol Trans-Jawa (15/5) seperti di Km 135 dan Km 145 Cikampek – Palimanan dan Km204, Km262 dan Km281 ruas tol Palimanan – Kanci, serta di Km 798 hingga Km 799 di ruas Pasuran – Probolinggo.
Khusus bagi para pengguna toll Cipali diminta meningkatkan kehati-hatiannya mengingat tingginya kecelakaan lalu lintas di ruas tersebut yang menyebabkan 71 orang tewas dari 1.197 kecelakaan lalulintas sepanjang 2018.
Pengerjaan pembanguna jembatan dan pengerasan jalan di ruas Kayu Agung – Palembang yang merupakan bagian tol Trans-Sumatera juga terus dilakukan agar pada H-10 bisa dilalui para pemudik.
Kesiapan mental dan fisik pengemudi, juga kendaraan yang akan digunakan mudik dengan melakukan pemeriksaan dan penggantian sukucadang yang perlu diganti harus dilakukan.
Selamat mudik dan semoga selamat sampai tujuan!.

Bagikan :
Jumlah kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan tahun ini sebanyak 3.754 unit, dengan korban meninggal mencapai 454 orang. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta, CNN Indonesia — Jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) sejak delapan hari sebelum Lebaran (H-8) hingga H+8 Lebaran 2018 tercatat sebanyak 1.921 kejadian. Jumlah itu turun 30 persen bila dibandingkan dengan laka lintas pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.745.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Yusri Yunus memaparkan, 454 orang meninggal dunia dari total kecelakaan yang terjadi hingga H+8 Lebaran 2018, sedangkan tahun lalu jumlah korban meninggal dunia mencapai 683.

“Adanya penurunan perbandingan data jumlah laka lantas selama Operasi Ketupat 2018 sebanyak 824 kejadian dan penurunan perbandingan data jumlah korban meninggal dunia sebanyak 229 orang,” papar Yusri dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (24/6).

Lihat juga:
Kereta Tambahan Mudik Beroperasi Sampai 26 Juni

Sementara, total kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan tahun ini sebanyak 3.754 kendaraan. Jumlah itu turun 26 persen bila dibandingkan dengan data Operasi Ketupat 2017, yakni sebanyak 5.083 kendaraan.

Terkait jumlah pelanggaran sendiri, Yusri menyatakan pihaknya paling banyak melakukan teguran kepada pengendara jalan sebanyak 117.912 teguran, dan tilang sebanyak 59.187. Dengan demikian, total pelanggaran selama masa Operasi Ketupat 2018 sebanyak 177.099.

Lebih lanjut Yusri menjelaskan untuk 23 Juni 2018 saja total kecelakaan tercatat sebanyak 94 kejadian. Kecelakaan itu menyebabkan 30 orang meninggal dunia, luka berat 31 orang, dan luka ringan sebanyak 116 orang.

Bila dirinci, mayoritas kecelakaan terjadi di jalur non mudik, yakni 82 kejadian dan 12 kejadian di jalur mudik. Kemudian, jumlah orang yang meninggal dunia di jalur non mudik sebanyak 24 orang, luka bakar 27 orang, dan luka ringan 103 orang.

Lihat juga:
Arus Balik, 650 Ribu Kendaraan Tiba di Jakarta

Dari sisi pelanggarannya, kepolisian mengeluarkan 6.636 teguran kepada pengendara jalan dan tilang sebanyak 3.500. Sehingga, total pelanggaran pada Sabtu (23/6) kemarin tercatat sebanyak 10.136.

Yusri menambahkan masih ada mobil barang yang melewati jalan tol selama masa Operasi Ketupat, sehingga menyebabkan kemacetan di jalan tol tersebut. Menurutnya, hal itu terjadi karena sosialiasi aturan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kurang efektif.

“(Selain itu) kurang tegasnya anggota lalu lintas yang ada di lapangan dalam melakukan penegakkan hukum khususnya terhadap pelarangan operasional mobil penumpang pada tanggal 12-14 Juni dan tanggal 23-24 Juni,” pungkas Yusri.

PEMUDIK menggunakan angkutan jalan raya dari ujung barat Sumatera sampai Jawa Timur diharapkan lebih nyaman dengan penambahan dan perbaikan ruas jalan tol dan alternatif serta rekayasa lalu lintas.
Sistem satu arah diberlakukan guna mengantisipasi kemacetan di ruas toll Jakarta – Cikampek akibat pengerjaan empat proyek yakni LRT Jakarta – Bekasi Timur, jalur KA cepat Jakarta – Surabaya, tol elevasi Jakarta – Cikampek dan tol Cibitung-Cilincing.
Seluruh kegiatan proyek tersebut juga dihentikan sementara pada H-10 sampai H+10 Lebaran 2019, sedangkan sistem satu arah diberlakukan 24 jam dari Km29 di Gerbang Tol (GT) Cikarang Utama hingga Km262 di GT Brebes Barat selama empat hari dari 30 Mei hingga 2 Juni.
Sistem satu arah diberlakukan pula sepanjang 24 jam pada arus balik antara 8 sampai 10 Juni antara GT 189 di Palimanan hingga Km29 di GT Cikarang Utama.
Pembatasan mobil pengangkut barang yang juga ikut berkontribusi menimbulkan kemacetan di ruas tol kecuali mobil pengangkut bahan bakar, bahan kebutuhan pokok dan barang impor-ekspor diberlakukan pada H-3 sampai H-3.
Berdasarkan data Korlantas Polri, 1,3 juta kendaraan melintas GT Cikarang Utama pada musim lebaran 2018 antara 7 – 24 Juni 2018 didominasi (75 persen) kendaraan ke arah timur, sedangkan tahun ini diprediksi 10,6 juta kendaraan pribadi dimana 7,2 juta diantaranya menuju arah timur.
Pengaturan penggunaan rest area, menurut Dirjen Hubdar, Kementrian
Perhubungan, Budi Setiadji perlu dilakukan karena tingginya animo pemudik mengunjunginya sehingga memicu kemacetan sehingga ia mengimbau agar pemudik tidak memaksakan diri mampir di rest area.
Jalur alternatif non-tol di pantai utara dan selatan Jawa juga cukup nyaman untuk dilalui dan mengurangi kepadatan ruas tol.
Sejumlah perbaikan jalan masih dikebut di ruas tol Trans-Jawa (15/5) seperti di Km 135 dan Km 145 Cikampek – Palimanan dan Km204, Km262 dan Km281 ruas tol Palimanan – Kanci, serta di Km 798 hingga Km 799 di ruas Pasuran – Probolinggo.
Khusus bagi para pengguna toll Cipali diminta meningkatkan kehati-hatiannya mengingat tingginya kecelakaan lalu lintas di ruas tersebut yang menyebabkan 71 orang tewas dari 1.197 kecelakaan lalulintas sepanjang 2018.
Pengerjaan pembanguna jembatan dan pengerasan jalan di ruas Kayu Agung – Palembang yang merupakan bagian tol Trans-Sumatera juga terus dilakukan agar pada H-10 bisa dilalui para pemudik.
Kesiapan mental dan fisik pengemudi, juga kendaraan yang akan digunakan mudik dengan melakukan pemeriksaan dan penggantian sukucadang yang perlu diganti harus dilakukan.
Selamat mudik dan semoga selamat sampai tujuan!.

Bagikan :
Jumlah kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan tahun ini sebanyak 3.754 unit, dengan korban meninggal mencapai 454 orang. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta, CNN Indonesia — Jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) sejak delapan hari sebelum Lebaran (H-8) hingga H+8 Lebaran 2018 tercatat sebanyak 1.921 kejadian. Jumlah itu turun 30 persen bila dibandingkan dengan laka lintas pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.745.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Yusri Yunus memaparkan, 454 orang meninggal dunia dari total kecelakaan yang terjadi hingga H+8 Lebaran 2018, sedangkan tahun lalu jumlah korban meninggal dunia mencapai 683.

“Adanya penurunan perbandingan data jumlah laka lantas selama Operasi Ketupat 2018 sebanyak 824 kejadian dan penurunan perbandingan data jumlah korban meninggal dunia sebanyak 229 orang,” papar Yusri dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (24/6).

Lihat juga:
Kereta Tambahan Mudik Beroperasi Sampai 26 Juni

Sementara, total kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan tahun ini sebanyak 3.754 kendaraan. Jumlah itu turun 26 persen bila dibandingkan dengan data Operasi Ketupat 2017, yakni sebanyak 5.083 kendaraan.

Terkait jumlah pelanggaran sendiri, Yusri menyatakan pihaknya paling banyak melakukan teguran kepada pengendara jalan sebanyak 117.912 teguran, dan tilang sebanyak 59.187. Dengan demikian, total pelanggaran selama masa Operasi Ketupat 2018 sebanyak 177.099.

Lebih lanjut Yusri menjelaskan untuk 23 Juni 2018 saja total kecelakaan tercatat sebanyak 94 kejadian. Kecelakaan itu menyebabkan 30 orang meninggal dunia, luka berat 31 orang, dan luka ringan sebanyak 116 orang.

Bila dirinci, mayoritas kecelakaan terjadi di jalur non mudik, yakni 82 kejadian dan 12 kejadian di jalur mudik. Kemudian, jumlah orang yang meninggal dunia di jalur non mudik sebanyak 24 orang, luka bakar 27 orang, dan luka ringan 103 orang.
Lihat juga:
Arus Balik, 650 Ribu Kendaraan Tiba di Jakarta

Dari sisi pelanggarannya, kepolisian mengeluarkan 6.636 teguran kepada pengendara jalan dan tilang sebanyak 3.500. Sehingga, total pelanggaran pada Sabtu (23/6) kemarin tercatat sebanyak 10.136.

Yusri menambahkan masih ada mobil barang yang melewati jalan tol selama masa Operasi Ketupat, sehingga menyebabkan kemacetan di jalan tol tersebut. Menurutnya, hal itu terjadi karena sosialiasi aturan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kurang efektif.

“(Selain itu) kurang tegasnya anggota lalu lintas yang ada di lapangan dalam melakukan penegakkan hukum khususnya terhadap pelarangan operasional mobil penumpang pada tanggal 12-14 Juni dan tanggal 23-24 Juni,” pungkas Yusri.

Advertisement