
JAKARTA – Seorang anakĀ pengungsi Afghanistan di Jakarta, Amir Bahoduri (11) mengeluhkan kondisinya di pengungsian yang tidak ada kejelasan.
Ia tinggal dengan orang tua dan kakak perempuannya bersama 30an pengungsi lainnya asal Afghanistan di Kalideres, seberang Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta.
Lewat seorang penerjemah, Amir mengatakan dulu ia dan temannya kerap bermain sepak bola, namun kini sudah tidak bisa bermain lagi karena sudah tidak ada bola lagi. Ia juga merasa tidak nyaman saat tidur pada malah hari karena takut ada binatang berbahaya yang masuk ke tenda.
“Di sini terkadang hujan, ada ular dan banyak tikus. Banyak suara mobil dan motor di sini kalau malam tidak berhenti suaranya,” tuturnya, kepada VOA.
Amir juga mengeluhkan gangguan pernapasan setelah hampir setahun tinggal di tenda terpal pinggir jalan raya tersebut. Ia berharap situasi seperti ini segera berakhir dan dapat sekolah di negara yang aman.
Ayah Amir, Habibulloh Bahoduri menceritakan ia bersama istri dan kedua anaknya terpaksa meninggalkan Afghanistan pada tahun 2018 karena takut dibunuh oleh teroris. Ia beralasan teroris tidak suka dengan keluarganya yang termasuk keluarga Hazara.
“Kita naik pesawat ke India, lalu ke Malaysia dan lanjut ke Indonesia. Kita berempat membayar 17 ribu dolar AS. Waktu itu kami ingin mencari tempat yang aman saja dan kabur dari Afghanistan,” jelas Habibulloh.
Habibulloh yang pernah memiliki toko baju di Afghanistan sudah tidak dapat bekerja lagi selama mengungsi di Indonesia. Ia bersama keluarganya hanya hidup dari belas kasihan warga sekitar dan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Karena itulah, istri Habibulloh, berharap agar suaminya dapat diizinkan bekerja di pengungsian untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sebab, ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika anak-anaknya jatuh sakit.




