BURISRAWA GUGAT

Betari Durga kaget, digugat Burisrawa dengan cara di luar etika. Masak ketemu dewa tangannya malangkerik?

GARIS nasib Raden Burisrawa sesungguhnya nyaris sama dengan Pangeran Charles dari kerajaan Inggris. Sama-sama menjadi perjaka tua, sama-sama gagal mempersunting gadis yang sangat dicintai. Dan yang paling menyakitkan, katanya calon raja tapi tak kunjung dilantik lantaran raja yang harus diganti tak mangkat-mangkat. Kalau ada perbedaan, Pangeran Charles akhirnya kawin dengan gadis belia Putri Diana, Raden Burisrawa kerjanya ngisengi pembantu-pembantu di perumahan.

Ayah Burisrawa adalah Prabu Salya raja dari negeri Mandaraka, yang sangat berpengaruh bagi negeri-negeri sekelilingnya. Meski PAD (Pendapatan Asli Daerah)-nya kecil, tapi karena dapat setoran dari Ngastina, Ngawangga, Mandura, dan ada juga sedikit dari Ngamarta; rakyatnya hidup makmur. Di sana harga BBM sangat murah, rakyat boleh pakai minyak tanah. Soalnya perusahaan patih Mandaraka tidak ngobyek jadi distributor gas melon. Korupsi juga nihil, karena pejabatnya terjamin dalam kebutuhan pisik maksimum. Maklum, revolusi mental di Mandaraka sudah selesai, rakyat tak ada yang abai.

”Pejabat Mandaraka sampai korupsi, saya potong jarinya. Potong beneran, bukan cuma retorika macam Akil Mochtar saat di MK dulu.” kata Prabu Salya sekali waktu pada pers.

”Siapa itu Akil Mochtar? Kok pakai kil kil, apa kerabatnya Cakil si Gendir Penjalin?” kejar pers.

”Bukan. Dia orang paling perkasa di Indonesia. Bayangkan, gedung Gedung Mahkamah Konstitusi setinggi 16 lantai, bisa diambrukin olehnya.”

Prabu Salya ini juga termasuk penguasa yang demen membangun dinasti kekuasaan, tapi tak pernah ada yang meributkan. Bayangkan, raja Ngastina Prabu Duryudana, itu anak menantunya karena dia menikahi si bungsu Banowati. Lalu raja Mandura Prabu Baladewa, juga anak menantunya, karena Dewi Erawati sang istri, adalah anak sulung Prabu Salya juga. Begitu pula adipati Ngawangga, itu juga anak menantu Prabu Salya, karena istrinya yang bernama Surtikanti, juga anak Prabu Salya nomer dua.

Ternyata Prabu Salya juga membangun dinasti hingga wilayah Ngamarta. Bagaimana tidak? Itu kesatria Sawojajar dan Sawomanila Nakula – Sadewa, adalah juga ponakan sendiri, karena ibu mereka Dewi Madrim, adalah adik kandung Salya yang waktu muda bernama Narasoma. Cuma Madrim ini tak berumur panjang. Dia seda konduran (mati saat melahirkan), menyusul Pandu suaminya  yang mati di atas perut, di kala tengah menjalankan sunah rosul. Makan obat kuat, ngkali.

”Enak betul raja kita ini, ya. Semua menantu dan ponakannya jadi petinggi negara,” kata warga Mandaraka.

“Karena dia atut runtut (rukun) membina keluarga, bukan Atut Khosiah gubernur yang korup.” jawab warga yang lain.

Begitulah, dinasti Prabu Salya terus berjalan lancar tanpa kendala. Setiap tahun negeri Mandaraka dapat bantuan Dais (Dana Istimewa)  ratusan  miliar rupiah dari Ngastina, Ngamarta, Mandura, Ngawangga. Semua resmi dikeluarkan dari APBN mereka masing-masing. LSM juga tak ada yang mempermasalahkan, karena tak ada yang keluar dari akal sehat. Mantu ngirim bantuan kepada mertua kok dilarang, itu dungu namanya.

Cuma minggu belakangan ini situasi negeri Mandaraka agak kurang kondusif. Prabu Salya selalu bermuram durja. Apa bantuan ekonomi dari para mantu distop? Bukan. Gara-garanya, Burisrawa putra mahkota calon penerus kekuasaannya tiba-tiba menghilang. Rukmarata adik kandung Burisrawa juga telah mencarinya ke mana-mana termasuk jejaring sosial di internet, tapi tak ada jejak sama sekali. Burisrawa hilang laksana ditelan bumi. Atau mungkin dicomot Tim Siber karena terlibat ujaran kebencian di medsos.

”Capek gua. Biarkan sajalah rama, nanti kan pulang sendiri. Kalaupun tak pulang, juga nggak ada ruginya,” kata Rukmarata dalam laporannya pada sang ayah.

”Oo, ketahuan sekarang. Maksudmu, jika Buris tak ada, kamu nanti yang bakal jadi raja Mandaraka, begitu? Tak akan…..!” potong Prabu Salya kesal.

Lalu ke mana sebetulnya kesatria dari Cindekembang ini? Ternyata diam-diam dia pergi ke Pasetran Gandamayit, sowan Betari Durga. Burisrawa ingin menggugat nasibnya,  katanya putra mahkota tapi kok tidak jelas statusnya. Bini tidak punya, posisi di pemerintahan juga mengambang. Makanya, dia menemui Eyang Bethari dalam rangka minta restu dan semangat untuk merintis masa depan yang gemilang lewat jalur independen, yakni memperebutkan Wahyu Cakraningrat.

”Ngapain kamu ikut berburu Wahyu Cakraningrat, bukankah kamu calon pewaris tahta Mandaraka?” tegur Betari Durga agak terheran-heran.

”Percuma saja, pukulun. Wong bapak  saya Prabu Salya nggak mangkat-mangkat,” jawab Burisrawa jujur dan polos, tanpa basa-basi.

”Lho, bapakmu suruh mangkat nyang ngendi?” potong Betari Durga sok bodo.

Dewa di kahyangan memang tengah menurunkan paket wahyu calon raja, namanya Wahyu Cakraningrat. Dengan wahyu tersebut konon si penerima bakal menjadi raja di kelak kemudian hari, minimal raja ketoprak. Nah, Burisrawa yang pesimis dengan nasibnya, mencoba jadi raja lewat jalur Wahyu Cakraningrat. Mengingat peminatnya cukup banyak, diharapkan Betari Durga bisa menjadi tim suksesnya.

”Sorry ya Buris, sekarang tak bisa lagi, kondisinya sudah berbeda. Biar saya termasuk petinggi negara, tapi jaminan saya tidak laku lagi. Maka kalau kamu macem-macem, penahananmu tak bakal ditangguhkan.” ujar Betari Durga apa adanya.

”Jika Eyang Betari tak mau bantu, berarti nasib saya tetap ngebelangsak. Bukan tokoh, tak punya jodoh, betul-betul bodoh….!” Burisrawa mengutuk dirinya sendiri.

Burisrawa akhirnya pulang dengan tangan hampa. Tiba di Mandaraka, Prabu Salya justru memarahinya pula. Mengapa cari wahyu-wahyuan segala, toh bila tiba saatnya nanti, Burisrawa akan menjadi raja Mandaraka. Bila menjadi raja lewat jalur lain, berarti sama saja merusak atau menggoyang dinasti Salya yang sudah terbangun selama ini. Namun ternyata Burisrawa bergeming, terus memaksakan diri mau ikut konvensi Wahyu Cakraningrat.

”Kalau begitu, minggat saja kamu. Anak nggak nurut orangtua, buat apa.” kata Prabu Salya marah sekali. Berminggu-minggu dirindukan, sekarang malah diusir.

”Minggat ya minggat kok le…..,” jawab Burisrawa setengah joged, niru Prabowo.

Sepeninggal putranya, Prabu Salyo merenung. Apakah ini yang namanya hukum karma? Dulu dia berani sama mertua, Begawan Bagaspati, bahkan membunuhnya. Kok ini putranya berani juga sama orangtua. Samai membunuh ayah sendiri? Ih hororrrnya!

Burisrawa segera tinggalkan Istana Mandaraka, langsung menuju  ke Gunung Jamurdwipa yang diyakini akan menjadi arena turunnya Wahyu Cakraningrat. Ternyata dia sudah menjadi wayang peserta paling belakang. Di sana sudah ada pemburu wahyu lain sebagaimana Abimanyu, Sarjokesuma, Samba putra Prabu Kresna.

Semua pada bikin tenda, begadang semalaman menunggu masuknya si Wahyu Cakraningrat. Pendukung sudah dilarang ikut, eh….malah gelar tikar salat berjamaah di pinggir jalan dan sela-sela pohon. Wudlunya pakai air belik, banyak pula yang pakai akwa galonan secara patungan.

“Kalau Burisrawa tak dapat wahyu itu, berarti dewa curang secara TSM,” kata pendukung Burisrawa.

“Jangan asal menuduh kalau posita dan petitumnya tidak jelas.” Bela wayang lain, sepertinya dia pernah jadi pengacara.

Tapi dalam prakteknya, ketika si wahyu menjelma jadi prempuan cantik, Sarjokesuma dan Samba tergoda, bahkan sicantik sempat dibawanya ke hotel. Tapi begitu mau dieksekusi, menjelma jadi wahyu Cakraningrat dan kabur.

Pada akirrnyua hanya Raden Abimanyu yang memperolehnya. Kepada peminat lain, si wahyu hanya mampir sebentar. Masalahnya Cakraningrat memang alergi pada peserta yang doyan perempuan dan ada bakat korupsi. Burisrawa secara jantan mengucapkan selamat pada Abimanyu.

”Nggak mencari celah konsitusi yang lain Oom?” tanya pers.

”Keputusan dewa kan sudah final dan mengikat, saya harus legawa.” jawab Burisrawa serius. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

Advertisement