Kashmir, Sengketa Tak Berujung India – Pakistan

Tentara India sedang mengamati dari pos penjagaan di Kashmir. Sejak merdeka dari Inggeris pada 1947, India dan Pakistan terlibat tiga kali perang (1947, 1965, 1999). Apakah keduanya akan perang lagi keempat kalinya? Jika terjadi, bakal menjadi petaka bagi umat manusia karena keduanya memiliki senjata nuklir pemusnah massal

KONFLIK antara India dan Pakistan terkait wilayah sengketa Kashmir seolah-olah tidak ada matinya sejak kedua negara bertetangga yang kemudian menjadi seteru, merdeka dari Inggeris pada 1947.

Otoritas Pakistan mulai mengevakuasi puluhan pekerja asal China, yang sedang mengerjakan proyek konstruksi bendungan di titik pertemuan Sungai Neelam dan Jhelum, Kashmir, Selasa lalu (30/7) menyusul kontak tembak antara kedua pasukan di wilayah itu.

Eskalasi ketegangan terasa pasca serangan bom bunuh diri oleh kelompok Jaish-e- Mohammad (JeM) berbasis di Pakistan di Distrik Pulwana, Kashmir yang menewaskan 42 anggota paramiliter India, Februari lalu.

Konflik yang belum terselesaikan itu juga yang mendorong kedua negara terlibat lomba persenjataan dan mengantarkannya menjadi kekuatan nuklir dunia.

Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) mencatat, India yang memiliki 1,4 juta tentara mengalokasikan USD 58 milyar (sekitar Rp812 triliun), sedangkan Pakistan dengan 653.800 tentara menganggarkan USD 11 miliar (Rp154 triliun) untuk belanja militer pada 2018.

India memiliki rudal balistik yang mampu membawa kepala nuklir Agni-3 (berdaya jangkau 3.000 – 5.000 km), sebaliknya, Pakistan, didukung China, mengembangkan rudal Shaheen 2 berjarak jangkau 2.000 Km dan rudal-rudal jarak pendek guna menangkal serangan kekuatan konvensional lawan yang lebih besar.

Sedangkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyebutkan, Pakistan memiliki 140 hingga 150 hulu ledak nuklir, dibanding India dengan 130 sampai 140.

Militer India, Lebih Besar
Secara umum, India dengan jumlah penduduk 1,35 milyar jiwa memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar, baik jumlah personil mau pun alutsista dibanding Pakistan yang penduduknya cuma 207 juta jiwa. Menurut Global Firepower, India berada di ranking ke-4 militer dunia setelah AS, Uni Soviet dan China, sementara Pakistan pada urutan ke-17.

Di matra darat, dengan 1,2 juta personil, India lebih unggul dalam jumlah tank (3.565) termasuk tank Arjun yang dibuat di dalam negeri, kendaraan tempur lapis baja (3.100), pengangkut personil (336) dan artileri (9.719) pucuk.

AD Pakistan didukung 560.000 personil, mengoperasikan 2.496 tank,termasuk tank al-Khalid yang dikembangkan bersama China(type T-90 Rusia yang dimodifikasi China), 1.605 pengangkut personel lapis baja, dan 4.472 pucuk artileri, termasuk 375 howitzer swagerak.

Di udara, didukung 127.200 personel dan 814 pesawat tempur, India juga lebih perkasa, didukung a.l. oleh skuadron MiG-21, MiG-29 dan Sukhoi SU-30 (semua buatan Rusia) serta Mirage 2000 (Perancis). India juga mengembangkan sendiri pesawat tempur ringan (Light Combat Aircraft-LCA) Tejas Mk-1.

India sedang memproses pembelian pesawat siluman generasi ke-lima F35 Lightning buatan AS untuk menggantikan skadron MiG -21ex Soviet di era ’60-an yang sudah usang, dan juga mendatangkan sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumph buatan Rusia. Jika ini diwujudkan, kedua alutsista mutakhir itu tentu akan melipatgandakan keunggulan militernya.

Sebaliknya, AU Pakistan mengoperasikan 425 pesawat tempur,antara lain F-7PG (MiG-21 modifikasi China), F-16 Fighting Falcon (AS) dan pesawat tempur ringan JF-17 Thunder yang dikembangkan bersama China.

Punya kapal Induk
Di laut, AL India juga lebih unggul dengan satu kapal induk, 16 kapal kapal selam, 14 perusak, 13 fregat, 106 kapal patroli pantai dan 75 pesawat dukungan tempur dan mengembangkan sendiri di dalam negeri berbagai jenis kapal perang permukaan dan kapal selam.

Sedangkan Pakistan yang memiliki garis pantai jauh lebih kecil, AL-nya mengoperasikan sembilan fregat, delapan kapal selam, 17 kapal patroli pantai.

Kedua negara sudah terlibat paling tidak tiga kali perang terkait isu Kashmir (1947, 1965 1999) dan insiden-insiden sporadis sejak 1984 untuk memperebutkan wilayah Gletser Siachen.
India yang mengklaim seluruh wilayah Kashmir sejak 2010, menguasai hampir separuhnya (43 persen) termasuk Jammu, Lembah Kashmir, Ladakh dan Gletser Siachen.

Sebaliknya,Pakistan menguasai sekitar 37 persen wilayah Kasmir di Azad Kashmir dan bagain utara Gilgit Baltisan, selebihnya (sekitar 20 persen) yakni wilayah Aksai Chin diklaim oleh China.

India juga menuduh Pakistan menyerahkan 3.220 mil persegi wilayah Kashmir ke China. Garis Kontrol membagi bagian-bagian Kashmir yang dikuasai India dan Pakistan dengan panjang 700 kilometer.

Apakah eskalasi ketegangan bakal berujung Perang Terbuka untuk keempat kalinya? Semoga para pemimpin kedua negara yang memiliki kekuatan nuklir itu mampu menahan diri.Jika tidak, tentu menjadi malapetaka dunia (AFP/AP/ns)

Advertisement