MEREKA adalah jurnalis-jurnalis milenial, yang karena tuntutan teknis kerjanya menjadi praktis, ekonomis sekaligus pragmatis. Meskipun, untuk itu semua media online sekarang banyak melanggar 5 W 1 H. Mereka hobi banget angkat berita yang berasal dari gosip di medsos, yang tak jelas sumbernya. Mereka sengaja menghilangkan “where”-nya secara lengkap, kadang hanya kotanya doang. Mereka juga males mengolah informasi-informasi itu dengan bahasa yang enak dibaca dan perlu, sehingga berita yang ditayangkan sekedar sekumpulan data mentah belaka.
Media sekarang juga selalu menggiring publik untuk mengagumi dan tahu mobil sosok yang tengah menjadi pokok berita. Sebentar-sebentar turunkan judul: intip garasinya! Padahal ini tindakan berbahaya. Coba saja jika jurnalisnya bener-bener mengintip garisi orang yang sedang ramai diberitakan, bisa ditangkap Satpam karena dikira maling.
“Paling kaco, jurnalis sekarang tak bisa bedakan penggunaan kata wafat dan meninggal. Masak korban Corona disebut wafat, kerbau mati dimakamkan. Tak bisa pula membedakan antara kata mau dan ingin. Herannya, kenapa redakturnya tak berusaha membetulkannya, atau memang sama-sama goblok,” keluh Gatutkaca sekali waktu.
“Hei Bung, redaktur tak sempat koreksi. Jurnalis sekarang langsung dari lapangan turunkan beritanya sendiri. Karenanya mereka tak peduli tata bahasa, yang penting isinya dipahami, habis perkara,” kata Antaseno memberi penjelasan.
Sebetulnya dalam pertemuan Prabu Puntadewa – Begawan Abiyasa, kedua putra Werkudara itu juga hadir. Tapi mereka di dalam istana Indraprasta saja, males keluar. Sebab jika keluar pasti dikerubuti pers, dan nanti beritanya dipelintir. Mereka tak mau bernasib seperti Effendi Gozali dosen jurnalistik di UI, lebih baik meletakkan jabatan karena malu wartawan anak didiknya kurang menghormati kode etik jurnalistik.
Benar saja. Patih Tambak Ganggeng yang menyelinap lewat pintu belakang tak bisa juga selamat dari gangguan pers. Dia langsung dicecar pertanyaan, puluhan mike mengeroyok mulut patih Ngamarta tersebut. Karena para jurnalist itu saling desak sampai lupa prokes, kadang mike tersebut nyodok bibir Patih Tambak Ganggeng.
“Prabu Puntadewa hanya klarifikasi, apakah saya kenal baik dengan Begawan Abiyasa? Ya saya jawab, kenal! Tapi meski kenal baik kan tak menjamin bahwa saya tahu karakter aslinya. Saya kan bukan Fadli Zon….,” kata Patih Tambah Ganggeng jujur.
“Mas Patih sempat ketemu Begawan Abiyasa sendiri? Kenapa dia memaksakan minta cantrik bisa mudik?” tanya pers lagi.
“Enggak tuh! Karena itu saya tidak tahu kenapa beliaunya ngotot para cantrik harus bisa mudik Lebaran. Di sinilah yang bikin ngganjel, saya ditanya soal Begawan Abiyasa, tapi tak diberi kesempatan ketemu. Ironis kan?”
Patih Tambak Ganggeng minta pembenaran, tapi para wartawan hanya tertawa. Dalam hati mereka merasa kasihan, Patih Tambak Ganggeng ini hanya diambil ide-ide dan gagasannya, tapi tak boleh terkenal. Jadi mirip Prananda Prabowo politisi PDIP, dia hanya diminta jadi pemikir dalam partai tapi tak pernah ditampilkan ke publik. Padahal dia putra mahkota.
Sementara itu Begawan Abiyasa di bangsal Dana Pratapa juga sendirian, sengaja tak diberi ruang untuk bertemu dengan para jurnalis. Tapi dari dalam dia bisa melihat bagaimana ngglibetnya para jurnalis ketika bertemu dengan Patih Tambak Ganggeng. Belum juga dia selesai melihat kerumuan pers lewat kaca, Begawan Abiyasa dihubungi ajudan Prabu Puntadewa, diminta untuk segera menghadap. Buru-buru dia pakai sandal munarmannya untuk bertemu Prabu Puntadewa.
“Bagaimana cucu Prabu, dikabulkan kan? Kalau nggak, kasihan cantrik-cantrik saya.” Kata Begawan Abiyasa GR duluan.
“Maaf Eyang Abiyasa, raja Ngamarta tak bisa menyayangi para cantrik Wukir Retawu, tapi mengorbankan rakyat Ngamarta seluruhnya. Kita harus belajar dari India, eyang begawan….” jawab Prabu Puntadewa.
“Jadi intinya, cantrik Wukir Retawu tetap tak dapat dispensasi?” suara Begawan Abiyasa meninggi.
“Memang begitu, Eyang begawan. Mohon maaf seribu maaf…..” jawab Prabu Puntadewa sambil menghatur sembah.
Begawan Abiyasa geleng-geleng kepala. Ini Prabu Puntadewa cap apa? Biasanya apa pun permintaan orang, akan selaku dikabulkan. Dia tak pernah bikin kecewa orang. Tapi kali ini kok lain? Di Indonesia ada isyu kriminalisasi ulama, di Ngamarta ada pelecehan begawan. Padahal yang jadi begawa kan masih eyang sendiri, kenapa masih dibegitukan juga. Ini benar-benar kelewatan.
Saking marahnya Begawan Abiyasa, Prabu Puntadewa langsung disergapnya, dan dibawa terbang ke langit biru. Ajudan Mustar Nyebelin hanya bisa teriak-teriak nggak keruan. Semua tak sadar bahwa baru saja kemasukan Begawan Abiyasa aspal. Dalam lakon atau pakem apapun, tak pernah ada ceritanya Begawan Abiyasa bisa terbang.
“Gatutkaca, tolong di-WA Pakdemu Dwarawati, suruh ke sini dia! Bilang saja, Puntadewa diculik…..” perintah Haryo Werkudara.
“Oke rama, segera Pakde Kresna saya kontak. Maaf ya rama….” Jawab Gatutkaca ada perasaan bersalah.
Gatutkaca merasa bersalah, karena tahu raja Ngamarta diculik orang bisa terbang kok tak segera mengejarnya. Ini gara-gara tadi keasyikan nonton Youtube penangkapan Munarman oleh Densus-88. Ketinggalan 10 menit! Tapi dalam urusan penerbangan, terlambat 10 menit saja selisih jaraknya sudah bisa puluhan kilometer.
Ternyata Prabu Kresna sendiri juga tak bisa datang. Tapi dari pelacakan di Kaca Paesan segera diketahui bahwa telah terjadi pemalsuan identitas secara nyata. Begawan Abiyasa yang asli ada di padepokannya, tak pernah ke mana-mana selama pandemi Corona, apa lagi belum dapat giliran vaksin. Pesannya pada Prabu Kresna, Begawan Abiyasa akan menuntut siapa saja yang berani mencatut namanya.
“Dimas Seno, yang bisa membereskan persoalan ini hanya Kyai Lurah Semar.” kata Prabu Kresna lewat WA-nya.
“Semar? Kalau begitu biang keroknya dia lagi, dia lagi…..” guman Werkudara.
Sesuai dengan instruksi para junjungannya di Ngamarta, Kyai Lurah Semar yang baru rapat pembagian bingkisan Lebaran, segera menuju ke Pasetran Gandamayit. Ternyata yang ada hanya jin Jarameya-Jaramaya. Tapi mereka tak tahu ke mana bossnya pergi, karena tak pernah pamit sama anak buah.
Benar saja, tak berapa lama kemudian nampak meluncur dari udara Begawan Abiyasa sambil menggendong Puntadewa. Begitu mendarat Abiyasa aspal kaget sekali karena sudah ditunggu oleh Lurah Semar. Tak ada kesempatan untuk meloloskan diri. Dan begawan aspal itu tahu persis akibatnya.
“Dari mana kamu? Ngapain momonganku kamu culik segala? Ngambek kamu ya? Kembalikan nggak, masih kurang ya “bom atom” dari Karang Kebolotan?”omel Kyai Semar sambil menjewer dan memelintir kuping Begawan Abiyasa keras-keras.
“Ampun-ampun kakang Semar.”
Kyai Semar tak peduli, pelintiran di telinga Abiyasa semakin diperkuat sampai nyaris putus. Setelah melolong kesakitan berapa lama, tahu-tahu Begawan Abiyasa berubah ujud sebagai Betari Durga. Dan Prabu Puntadewa yang dalam kekuasaan Betari Durga segera dilepaskan.
“Kalau kamu masih macem-macem, saya laporkan Betara Guru, jadi apa kamu.”
“Ya, ya, kakang Semar, saya ngerti,” ujar Betara Durga sambil menyembah-nyembah.
Kyai Lurah Semar segera membawa kembali Prabu Puntadewa ke ngercapada dan langsung menuju istana Indraprasta. Bergembira dan bersyukurlah keluarga Pendawa, karena jujungannya kembali dengan selamat. (Ki Guna Watoncarita-Tamat)



