
LUPAKAN segala kendala, halangan dan keterpurukan prestasi olahraga Indonesia akhir-akhir ini dan mari kita dukung atlit-atlit nasional untuk mendulang medali dan mengukir prestasi di event olahraga Asian Games ke-18 (AG 18) yang digelar di Jakarta dan Palembang, 18 Agustus sampai 2 September.
Dalam sisa waktu menjelang hari “H” tersisa lima hari, tidak ada lagi kesempatan untuk menoleh ke belakang, segenap daya dan upaya harus fokus hanya untuk mengukir prestasi setinggi mungkin.
Kontingen Indonesia selaku tuan rumah beranggotakan 938 atlit di seluruh cabang olahraga (cabor), 365 ofisial dan tim pendukung, seluruhnya berjumlah 1.383 orang ditargetkan paling tidak untuk mendulang 16 medali emas atau masuk dalam 10 besar dari 40 cabor yang diperlombakan oleh 45 negara peserta AG 18.
Di atas kertas, atlit-atlit Indonesia berpotensi untuk meraih 27 medali emas, 14 diantaranya pada delapan cabor olimpiade seperti angkat besi (1), atletik (1), balap sepeda (4), bulu tangkis (2), karate (3), taekwondo (1) kano (1) dan panahan (1) serta 13 medali emas pada tujuh cabor non-olimpiade yakni bridge (2), bowling (2), panjat tebing (2), paralayang (2), pencak silat (2), jetski (2) dan wushu (1).
Sebagai cerminan, prestasi atlit-atlit Indonesia di ajang AG sebelumnya, di Doha, Qatar pada 2010 (AG ke-16) dan kemudian di Incheon, Korea Selatan pada 2014 (AG 17), juga di event pesta olahraga tingkat Asia Tenggara ( SEA Games 2017) di Kuala Lumpur tidak moncer.
Di AG ke-17 di Incheon, kontingen RI terdiri dari 186 atlit yang bertanding di 23 cabor meraih 20 medali terdiri dari empat medali emas (atletik/1, bulu tangkis/2 dan wushu/1), lima perak dan 11 perunggu.
Sedangkan pada AG sebelumnya di Doha (AG ke-16), dengan 214 atlit untuk 26 cabor, kontingen RI mengumpulkan 26 medali terdiri dari empat emas (perahu naga/3 dan bulu tangkis/1), sembilan perak dan 13 perunggu.
Di level Asia Tenggara, pencapaian atlit-atlit Indonesia juga kurang menggembirakan. Pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Indonesia terpuruk pada peringkat kelima di bawah tuan rumah Malaysia, disusul Thailand, Vetnam dan Singapura.
Tuan rumah, Malaysia menyabet juara umum dengan 145 medal emas, 92 perak dan 86 perunggu, sementara Indonesia hanya kebagian 38 emas, 63 perak dan 90 perunggu.
Prestasi tertinggi atlit-atlit Indonesia di kancah Asia, diraih saat RI menjadi tuan rumah Asian Games 1962, menempati peringkat kedua setelah Jepang yang menjadi juara umum dengan 77 medali (21 emas, 26 perak dan 30 perunggu), namun sejak AG Hiroshima 1994, peringkat RI terus melorot di atas 10 besar, bahkan pada AG 2010 di Doha, Qatar anjlok ke posisi ke-22, sedangkan pada AG Incheon, Korsel 2014 di peringkat ke-17.
Persaingan olahraga di era now semakin ketat, sehingga persiapannya tidak saja dilakukan berjenjang dan jangka panjang, melalui kompetisi-kompetisi kelompok umur sedini mungkin, termasuk melengkapi sarana dan pasarana yang diperlukan, melibatkan multiinstansi dan disiplin.
AG 18 sudah di hadapan mata, apa pun persoalannya, semoga atlit-atlit kita tetap mampu mempersembahkan prestasi tertinggi buat negara dan bangsa!




