Air India -171 jatuh karena tombol Bahan Bakar “off”

Potongan pesawat Boeing B-787-8 Dreamliner AIr India yang jatuh beberapa menit setelah take-off dari Bandara Int'l Ahmedabad, India 12 Juni lalu (foto: skynews)

TEMUAN  investigasi awal jatuhnya pesawat Boeing B-787-8 Dreamliner Air India AI-171 mengungkapkan, tombol kontrol bahan bakar mesin jet berpindah dari posisi “run” ke “cutoff” sesaat sebelum pesawat jatuh pada 12 Juni 2025.

AFP melansir, Sabtu (12/7), laporan awal setebal 15 halaman Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara India (AAIB) menyebut,  tidak ada kesimpulan atau penentuan pihak yang bertanggung jawab terkait musibah itu.

Namun, laporan mengungkapkan, salah satu pilot terdengar dalam rekaman kokpit bertanya kepada rekannya mengapa bahan bakar dimatikan.

Pilot lainnya menjawab, “Saya tidak melakukannya”. Pesawat nahas itu tengah terbang dari Ahmedabad, India, menuju London, membawa 230 penumpang dan 12 awak.

Dari penumpang itu, tercatat 169 warga India, 53 warga Inggris, tujuh warga Portugal, dan satu warga Kanada.

Dari hasil laporan, setelah mencapai kecepatan tertinggi, tombol pemutus bahan bakar Mesin 1 dan  2 berpindah dari posisi “RUN” ke “CUTOFF” hanya berselang 0,1 detik.

Tidak lama setelah itu, pesawat kehilangan ketinggian dan saat pilot mengembalikanny ke posisi “RUN”, mesin mulai menyala kembali, tetapi pilot sudah sempat mengirimkan panggilan darurat, “Mayday mayday mayday”.

Kontrol lalu lintas udara sempat menanyakan situasi, namun tak lama kemudian melihat pesawat jatuh dan segera memanggil petugas penyelamatan darurat.

Penyelidikan atas kecelakaan ini masih berlangsung. Awal pekan ini, situs aviasi The Air Current melaporkan, penyidik fokus pada pergerakan tombol  bahan bakar, dan analisis lengkap bisa memakan waktu berbulan-bulan dan fokus investigasi pun dapat berubah seiring adanya temuan baru.

AAIB juga mencatat, Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) sempat mengeluarkan buletin informasi pada 2018 terkait potensi hilangnya fitur pengunci sakelar kontrol bahan bakar, namun hanya bersifat anjuran, bukan kewajiban.

Air India menyatakan pihaknya tidak melakukan inspeksi yang direkomendasikan karena tidak diwajibkan.

“Air India mematuhi semua arahan kelaikan udara dan buletin layanan peringatan pada pesawat,” tulis laporan itu, sebagaimana diberitakan AFP.

Selain itu, tidak ditemukan rekomendasi tindakan kepada operator maupun produsen pesawat Boeing 787-8 dan mesin GE GEnx-1B. Artinya, sejauh ini tidak ditemukan indikasi masalah teknis pada pesawat maupun mesinnya.

Boeing dan Air India dukung

Boeing dan Air India dalam pernyataannya menyatakan, akan terus mendukung investigasi dan pelanggan serta  menyatakan ikut  prihatin terhadap mereka yang terdampak bencana ini”.

Sementara itu, Air India melalui platform X menyatakan, akan terus bekerja sama sepenuhnya dengan AAIB dan otoritas lainnya seiring perkembangan investigasi.

Dari kecelakaan ini, hanya satu penumpang yang selamat, yakni warga negara Inggris yang secara ajaib berhasil berjalan keluar dari reruntuhan dan kini sudah dipulangkan dari rumah sakit.

Penyelidik kecelakaan dari AS dan Inggris turut dilibatkan dalam penyelidikan. Sesuai ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), negara yang memimpin investigasi wajib menyerahkan laporan awal dalam 30 hari pascakecelakaan.

Pejabat kesehatan di Gujarat awalnya melaporkan 279 korban tewas. Namun, setelah proses identifikasi forensik terhadap jenazah yang berserakan dan terbakar parah, jumlah korban dipastikan 260 orang, termasuk korban di darat, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka. (AFP/kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here