JAKARTA, KBKNEWS.id – Sebanyak 45 desa dan kelurahan di wilayah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Tapanuli Selatan masih terisolasi setelah banjir dan longsor melanda kawasan tersebut.
Data BPBD Sumatera Utara mencatat, desa-desa itu tersebar di dua kabupaten, yakni Tapanuli Utara (dua kecamatan) serta Tapanuli Tengah (11 kecamatan).
Bantuan terus dikirim, namun akses darat belum dapat dilalui kendaraan. Sejumlah wilayah hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, sementara beberapa lokasi—seperti di Adian Koting—mengandalkan distribusi menggunakan helikopter dibantu anggota TNI.
Di Tapanuli Utara, empat desa di Kecamatan Adian Koting dan empat desa di Kecamatan Parmonangan masih terisolasi. Sementara di Tapanuli Tengah, wilayah terdampak mencakup 11 kecamatan, di antaranya Sosor Godang, Sorkam, Kolang, Sitahuis, Lumut, Badiri, Tukka, Pasaribu Tobing, Pinang Sori, Sibabangun, dan Tapian Nauli.
Kabid Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menjelaskan bahwa pengiriman bantuan dilakukan melalui dapur umum di tiap kecamatan. “Belum bisa dilalui roda dua maupun roda empat, sehingga sebagian bantuan disalurkan lewat udara dan jalan kaki,” ujarnya.
BPBD Sumut juga merilis data terbaru korban banjir dan longsor. Hingga Minggu (7/12/2025) pukul 17.00, total korban meninggal mencapai 330 orang, sementara 136 lainnya masih dilaporkan hilang. Tapanuli Tengah menjadi wilayah dengan korban terbanyak, yakni 102 meninggal dan 91 hilang. Disusul Tapanuli Selatan dengan 85 korban meninggal, serta Kota Sibolga dengan 53 korban jiwa.
Tim SAR gabungan masih terus menyisir lokasi terdampak untuk mencari warga yang belum ditemukan, sementara pemerintah daerah bekerja mempercepat pemulihan akses menuju desa-desa yang hingga kini terputus.





