Aksi kriminal tentara Rusia pulang dari Perang Ukraina

Sejumlah tentara Rusia yang pulang dari palagan di Ukraina berulah sehingga meresahkan warga sipil.

SEBANYAK 242 warga Rusia terbunuh dan paling tidak 227 lainnya terluka akibat berbagai aksi kriminal oleh prajurit-prajurit Rusia yang baru kembali setelah pulang bertugas dari medan tempur di Ukraina.

Seperti pengakuan oleh perempuan bernama Irina baru-baru ini, sebuah situs independent Rusia, Verstka  menyebutkan, ia diserang oleh seorang pria di Artyrom, kawasan timur jauh Rusia baru-baru ini.

Pelaku mengaku ia adalah veteran Operasi Militer Khusus (OMK) , istilah resmi yang digunakan Rusia untuk menginvasi tetangga sempalan sesame eks-Uni Soviet, Ukraina pada 24 Feb. 2022.

“Saya veteran operasi militer khusus, saya akan membunuhmu!”. Tutur Irina menirukan ancaman pria tersebut saat ia sedang keluar rumah pada malam hari. Pelaku menendang dan memukulinya dengan tongkatnya.

Saat polisi tiba, pria itu menunjukkan dokumen menyebutkan keterangan bahwa ia pernah berada di Ukraina sehingga ia mengeklaim dengan pengabdiannya itu, ia bakal dibebaskan polisi.

Serangan terhadap Irina hanyalah satu dari sekian banyak aksi-aksi kekerasam yang dilaporkan dan dilakukan oleh tentara yang kembali dari Ukraina.

Sejumlah penyerang dengan catatan kriminal, sebelumnya dibebaskan dari penjara khusus untuk berperang di Ukraina yang menurut perkiraan BBC, kelompok tentara bayaran Wagner merekrut lebih dari 48.000 tahanan.

Ketika pemimpin Wagner Yevgeny Prigozhin tewas dalam kecelakaan pesawat tahun lalu, Kemenhan Rusia mengambil alih perekrutan di penjara.

Berdampak parah

Sosiolog Igor Eidman mengatakan, kasus-kasus kriminalitas oleh para prajurit veteran perang dari Ukraina  berdampak parah pada masyarakat Rusia.

“Ini masalah sangat serius, dan berpotensi menjadi lebih buruk. Semua gagasan tradisional tentang baik dan jahat sedang dijungkirbalikkan,” katanya kepada BBC.

“Orang-orang yang telah melakukan kejahatan keji seperti pembunuh, pemerkosa, dan kanibal, tidak hanya menghindari hukuman dengan berperang. Ini jadi hal yang belum pernah terjadi,dan mereka dipuji sebagai pahlawan,” terangnya.

Ada banyak alasan mengapa tentara Rusia yang cukup beruntung untuk kembali dari perang akan berpikir bahwa mereka berada di atas hukum.

Media resmi menyebut mereka “pahlawan,” dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menjuluki mereka sebagai “elit” baru Rusia dan mereka yang direkrut ke dalam tentara dari penjara telah dicabut hukumannya atau mereka diampuni.

Bukan hal yang aneh bagi narapidana yang dibebaskan setelah perang di Ukraina, melakukan kejahatan lagi, lalu lolos dari hukuman untuk kedua kalinya dengan kembali berperang.

Hal ini membuat beberapa polisi putus asa. “Empat tahun lalu, saya memenjarakannya selama tujuh tahun,” kata polisi Grigory kepada situs web Novaya Gazeta.

“Sekarang dia ada di hadapan saya lagi, berkata: Anda tidak akan bisa berbuat apa-apa, Pak Polisi,” tuturnya.

Pengadilan Rusia secara rutin menggunakan keikutsertaan dalam perang melawan Ukraina sebagai alasan untuk menjatuhkan hukuman yang lebih ringan.

Namun, banyak kasus tidak sampai ke pengadilan. Moskwa telah memperkenalkan undang-undang baru yang melarang mendiskreditkan angkatan bersenjata Rusia.

Karena itulah, beberapa korban kejahatan yang dilakukan oleh para veteran takut untuk melaporkannya.

Sementara itu, Olga Romanova, kepala LSM hak-hak tahanan Russia Behind Bars, mengatakan bahwa rasa impunitas meningkatkan angka kejahatan.

“Konsekuensi utamanya, terjadi kesenjangan antara kejahatan dan sanksi hukuman yang dikenakan, “ ujarnya.

Jika Anda melakukan kejahatan belum tentu Anda akan dihukum,” tutur Olga kepada BBC. Pada 2023, jumlah kejahatan serius yang tercatat di Rusia meningkat hampir 10 persen.

Perang Rusia di Ukraina membawa dampak ikutan selain kerugian dan kemunduran ekonomi, juga memicu berbagai persoalan sosial, termasuk aksi-aksi kejahatan oleh para veteran perang.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here