JAKARTA – Dengan berjalan kaki Jahid (60) memulai hari. Tongkat bambu yang bersandar di sudut rumah segera berpindah ke bahunya. Dipikulannya tersebut terikat kantung plastik bening berisi opak berwarna kecokelatan.
Di Jakarta Jahid tinggal bersama anak pertamanya yang bekerja sebagai supir cabutan di Rawadas, Jakarta Timur.Sementara istri beserta anak-anaknya yang lain menetap di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Karena penghasilannya yang hanya cukup untuk membuat dapur ngebul Jahid jarang pulang menengok istri. Setiap harinya Jahid berjualan opak di wilayah Prumnas Klender tak jauh dari kampus UHAMKA di jalan delima Jakarta Timur.
“Penghasilan saya tidak tentu, itu juga harus dipotong untuk bayar kontrakan Rp 600 ribu perbulan,” ucap Jahid seperti dikutip dari laman resmi Komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta.
Kendati terik Jakarta begitu menyengat namun Jahid tetap bertahan. Sambil memikul tangan kanan Jahid juga memegang tongkat. Tongkat itu ia gunakan sebagai alat bantu akibat katarak yang ia derita sejak usia muda. Sedangkan di malam harinya Jahid bekerja sebagai tukang urut di wilayah kavling DKI Pondok Kelapa.
Di usia yang sudah tidak lagi muda dan mengalami kekurangan fisik pada matanya, Jahid masih terus mau bekerja dan mencari uang yang halal dan tidak ada niat sedikit pun dalam dirinya untuk mengemis mau pun meminta belas kasih orang lain dalam menghidupi keluarganya.
Padahal pada zaman modern seperti ini, kita bisa lihat masih banyak orang kuat yang malah mengeluh akan kondisinya yang bisa dikatakan jauh lebih baik dari kakek Jahid. Mereka terkadang berpura-pura kehilangan anggota tubuhnya agar mendapat belas kasihan dari orang lain. Jika di pikirkan lagi, tidakkah kita bersyukur akan apa yang kita miliki saat ini?





