Aliran Senjata Perpanjang Perang Rusia vs Ukraina

Tentara Ukraina sedang menembakkan rudal panggul anti tank Javelin buatan AS. Aliran senjata ke kedua belah pihak yang berperang membuat perang bakal berlarut-larut.

ALIRAN pasokan persenjataan yang terus diterima para pihak yang bertikai, Rusia dan Ukraina membuat perang antara sesama negara sempalan Uni Soviet tersebut:  Rusia dan Ukraina terus bereskalasi.

Puluhan ribu tentara kedua belah pihak tewas, juga luka-luka, belum lagi jumlah warga sipil yang jadi korban serta delapan jutaan penduduk Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga, namun belum ada tanda-tanda, perang sejak invasi Rusia, 24 Februari tahun lalu bakal berakhir.

Kekuatan militer raksasa Rusia ternyata belum mampu melumat Ukraina yang jauh lebih kecil jumlah pasukan dan alutsista berkat aliran persenjataan dari Barat terutama AS yang meningkatkan moral pasukan Ukraina.

Sebut saja misalnya, rudal panggul anti tank Javelin (buatan AS) dan NLAW (Swedia) yang menjadi momok bagi tank-tank T-90 dan rudal Stinger (AS) yang memangsa sejumlah helikopter tempur Kamov Ka-50 dan Mi35 Hind Rusia.

Persenjataan yang sudah diterjunkan lainnya, paling tidak, sementara ini bisa mengubah keseimbangan militer antara Rusia dan Ukraina, misalnya peluncur roket multilaras M270, drone pengintai dan kamikaze (Scan Eagle dan Switchblade), semua buatan AS, artileri medan M777 (Inggeris) dan Caessar (Perancis).

Daya pukul pasukan Ukraina tentu bakal berlipat ganda, jika 300-an tank tempur utama (MBT) dunia seperti M1 Abrams (AS), Challenger 2 (Inggeris), Leclerc (Perancis) dan Leopard 2 (Jerman) yang dijanjikan, diturunkan di medan tempur.

Tak hanya negara-negara Barat, Korea Selatan sebagai pendatang baru produsen alutsista juga dilaporkan mengirimkan artileri medan kal. 155mm buatannya K-9 Thunder yang disamarkan sebagai Karb buatan Polandia.

Presiden Rusia, Vladimir Putin sudah mencurigai keberadaan meriam buatan Korsel tersebut yang menurut dia dapat merusak hubungan kedua negara dan mengancam, Rusia akan memasok Korut  dengan senjata yang diperlukan menghadapi Korsel.

Sebaliknya, industri militer raksasa Rusia ternyata juga masih kekurangan pasokan persenjataan di tengah perang berkepanjangan melawan Ukraina, tercermin dari drone-drone Iran yang dioperasikan.

Rusia dan Iran sama-sama membantah pengoperasian drone jenis Kamikaze Shaded-136 eks-Iran di palagan Ukraina, namun pihak Ukraina memastikan, drone-drone tersebut dimodifikasi oleh Rusia  selain untuk meningkatkan kemampuannya , juga mengelabui asalnya.

China yang juga termasuk negara pengekspor utama persenjataan dunia, kabarnya juga bersiap-siap memasok Rusia dengan jenis-jenis yang dibutuhkannya.

Perang Rusia vs Ukraina yang menyebabkan malapetaka dan duka bagi rakyat Ukraina yang menjadi korbannya, di sisi lain juga panen raya bagi para produsen senjata dan peralatan pendukungnya.

Negara-negara yang tidak terlibat perang pun, ikut-ikutan menaikkan belanja militer untuk berjaga-jaga dari situasi dunia yang tidak menentu, mengorbankan anggaran pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya. (AP/AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement