
Jakarta, KBKNews.id – Perusahaan kedirgantaraan milik miliarder Elon Musk, SpaceX, dikabarkan tengah memasang target valuasi yang sangat ambisius untuk aksi Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO). Perusahaan penyedia jasa roket, satelit, dan kecerdasan buatan (AI) tersebut membidik angka valuasi melampaui 2 triliun USD atau setara dengan sekitar Rp33.950 triliun.
Jika target ini tercapai, nilai pasar SpaceX akan melonjak hampir dua pertiga hanya dalam hitungan bulan sejak laporan terakhirnya. Angka ini secara otomatis akan menempatkan SpaceX di jajaran elite korporasi global, melampaui raksasa teknologi seperti Meta (induk Facebook) hingga perusahaan otomotif milik Musk sendiri, Tesla. Dalam indeks S&P 500, posisi SpaceX nantinya hanya akan berada di bawah “raksasa abadi” seperti Nvidia, Apple, Alphabet, Microsoft, dan Amazon.
Strategi Gabungan: Roket, Starlink, dan AI
Loncatan valuasi yang signifikan ini tidak lepas dari integrasi bisnis antara SpaceX dengan entitas kecerdasan buatan terbaru milik Musk, xAI. Langkah merger dan IPO ini dirancang untuk mendanai visi jangka panjang yang futuristik, termasuk pembangunan pusat data berbasis luar angkasa dan fasilitas manufaktur di bulan.
Analis Bloomberg Intelligence, George Ferguson dan Wayne Sanders, menilai dominasi SpaceX di sektor peluncuran roket dan broadband satelit Starlink masih menjadi mesin uang utama perusahaan.
“Bisnis peluncuran dan Starlink diperkirakan akan mencetak pendapatan mendekati 20 miliar USD pada 2026. Sementara xAI, meski mungkin menyumbang kurang dari 1 miliar USD, menjadi pelengkap strategis. Keduanya memimpin industri dengan selisih keunggulan yang sangat jauh dari kompetitor,” ujar Ferguson dan Sanders dikutip Sabtu (4/4/2026).
Potensi Pecahkan Rekor IPO Terbesar Sepanjang Sejarah
IPO SpaceX bukan sekadar aksi korporasi biasa, melainkan potensi sejarah baru di dunia keuangan. Perusahaan diperkirakan mampu menghimpun dana segar hingga 75 miliar USD. Angka ini jauh melampaui rekor IPO terbesar dunia saat ini yang dipegang oleh perusahaan minyak asal Arab Saudi, Saudi Aramco, yang meraup 29 miliar USD pada tahun 2019.
Dana jumbo tersebut diproyeksikan akan mengalir ke proyek-proyek lintas perusahaan di bawah kendali Musk. Salah satunya adalah proyek “Terafab”, sebuah inisiatif ambisius antara Tesla dan SpaceX untuk memproduksi chip khusus robotika, AI, dan pusat data yang ditempatkan di orbit Bumi.
Jadwal dan Persiapan Melantai di Bursa
Meski SpaceX masih menutup rapat informasi resminya, laporan menyebutkan perusahaan telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia. Pelaksanaan pencatatan saham perdana ini diprediksi akan berlangsung pada Juni 2026.
Untuk memuluskan langkah tersebut, SpaceX telah menunjuk sindikasi bank investasi papan atas sebagai penjamin emisi (underwriter), termasuk Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, Bank of America, dan Citigroup. Rangkaian pertemuan dengan para analis dan calon investor besar dijadwalkan akan semakin intensif mulai akhir April mendatang.
Aksi SpaceX ini diperkirakan akan menjadi pembuka dari gelombang IPO besar di sektor teknologi tahun ini, yang kemungkinan besar akan diikuti oleh raksasa AI lainnya seperti OpenAI dan Anthropic. Meski demikian, detail penawaran ini masih bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai dengan kondisi pasar serta hasil kesepakatan akhir dengan para investor.




