Amil dan Tradisi Menjaga Lisan 

"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." - (HR.Bukhori)

Nana Sudiana, Sekjend FOZ dan Direktur IZI. (Dok. Pri)

Amil adalah pekerjaan yang mulia. Dan para amil ini juga umumnya laksana para pejuang, senantiasa bersemangat membantu dan menolong sesama tanpa pamrih dan bahkan selalu siap berkorban.

Sepanjang kehidupan seorang amil, ada beragam kebaikan yang selalu ia lakukan. Kebaikan-kebaikan itu banyak sekali bentuknya, mulai dari membantu hal-hal berbentuk fisik, misalnya bantuan sembako dan kebutuhan hidup lainnya yang mengandung kemanfaatan bagi penerima manfaat (musathik).

Bantuan lainnya bisa juga berupa kebaikan yang disampaikan para amil melalui ucapan dan nasihat keagamaan yang berisi menyemangati seseorang agar terus semangat dan pantang menyerah.

Nasihat dan ucapan lisan dalam hal ini adalah bagian tak terpisahkan yang akan membawa kita pada beragam kesempatan untuk menuju kebaikan. Saat yang sama, sejatinya ia punya potensi mendorong kita pada kemaksiatan yang berujung pintu neraka.

Dengan posisi lisan seperti ini, tentu saja kita senantiasa berhati-hati dalam menjaga lisan kita. Dalam berbicara dengan siapa pun, kita terus menjaga lisan kita agar tak salah ucap dan bicara. Agar ia membawa pada hal-hal baik dan tanpa cela. Menjaga lidah dalam dengan begini tentu saja makin tak mudah, apalagi saat hati kita dikuasai emosi dan mulai muncul rasa marah.

Lidah dan Rasa Marah
Amil juga manusia. Sesekali ia bisa senang dan penuh rasa suka. Pun sekali waktu lain, ia bisa kecewa, berduka, bahkan bisa pula marah.  Ketika hati kita sedang terbakar rasa marah, ucapan yang keluar melalui lidah kita seolah api yang memerah. Ia siap membakar dan menghanguskan kebaikan-kebaikan yang ada di sekitarnya. Bahkan ia pun bisa memutus tali silaturrahim dan jalinan kebaikan lainnya yang bertahun-tahun sebelumnya telah terjalin kuat.

Rasa marah bisa mendorong lidah membakar apa saja kebaikan yang ada. Termasuk lidah bisa tiba-tiba mendeklarasikan putusnya persaudaraan atau bahkan sebuah ikatan agung yang disebut mitsaqan ghalidza dari sebuah pernikahan yang suci.

Bila selama ini kita mengenal istilah ‘mulutmu, harimaumu’, maka itu menunjukan betapa lisan kita yang bentuknya lidah tak bertulang itu ternyata berdampak luar biasa. Karena hal itulah, kita harus sekuat tenaga menjaga lisan kita dari mengucapkan sesuatu yang tak baik, yang bisa menjerumuskan kita pada keburukan, apalagi saat marah merayapi hati kita.

Saat marah, hati harus tetap kita dinginkan, dan pastikan lidah tak sembarang mengeluarkan kata-kata atau ucapan tanpa kendali dari hati.

Ucapan yang tak terkendali, bisa saja melahirkan ucapan berupa sumpah serapah. Dan ini tentu saja bisa menyakiti hati orang lain dan pada akhirnya menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa “lidah lebih tajam daripada pedang”. Hal ini tentu saja benar adanya. Karena lidah kita pada dasarnya bisa menyakiti dan menusuk perasaan terdalam orang lain yang mendengarnya.

Mari Kendalikan Lisan
Para amil yang mulia, mari kita terus belajar dan mengendalikan lisan kita. Sesungguhya lisan yang kita miliki ini adalah salah satu karunia dari Allah SWT untuk kita. Agar kita bisa berbicara dan berkomunukasi dengan mudah sesuai fitrah kemanusiaan kita. Dan karunia yang luar biasa ini sudah sepatutnya digunakan untuk menambah rasa syukur atas nikmat dan karunia dari-Nya. Sebagai manifestasi rasa syukur kita, dengan sendirinya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa dengan baik menjaga dan mengendalikan lisan kita.

Kenapa kita harus terus menjaga lisan kita, karena sejatinya lisan kita yang bentuknya sederhana ini pada dasarnya bisa menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Lisan kita ini juga bila tak terjaga, bisa juga akan mendatangkan keburukan-keburukan dari manusia lainnya saat kita di dunia ini.

Hal sederhana yang patut kita jaga misalnya, ketika kita tidak mengetahui sebuah perkara dengan pasti, sebaiknya kita pastikan tak ikut berkomentar atau malah menambah-nambahi informasi yang tak benar. Dalam situasi ini, jelas diam jauh lebih baik.

Termasuk dalam menjaga lisan ini adalah ketika kita bercanda. Awalnya karena ingin menghibur dan menyenangkan pihak lain, kita berbohong atau malah mengolok-olok orang lain. Nah, ucapan kita malah bisa sebaliknya, bisa saja malah tidak lucu, dan justru menyakiti hati seseorang.

Sejatinya, di akhirat kelak, semua perbuatan dan ucapan kita akan diminta pertanggungjawaban-nya. Oleh karena itu, sesederhana atau sependek apapun ucapan kita, usahakan hanya menghasilkan hal-hal baik yang bisa kita sampaikan.

Semua ucapan dari lisan kita tak terlepas dari pengawasan dan pengetahuan Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18).

Dan bila kita tak tahu menahu dan tak mampu menginformasikan atau menyampaikan sesuatu, maka kita juga harus jujur atas ketidaktahuan itu.

Allah SWT berfirman : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36).

Kiat lain untuk menjaga lisan ternyata kita diminta untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah SWT.

Rasullulah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Bersabda,  “Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah ; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras.” (HR. Tirmidzi).

Bila kita susah dan berat sekali untuk berdzikir, maka kiatnya adalah kita diam.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Syafi‘i menjelaskan pula : “Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.”

Akhirnya, sebagai amil zakat, yang juga pejuang kebaikan umat, harus kita akui, menjaga lisan memang tak mudah. Namun dengan kemampuan kita menjaga lisan, juga dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, berdizikir, mengucap asma-asma Allah Ta’ala dan berucap kebaikan-kebaikan akan membuat kita diridhai oleh Allah SWT. Dan Allah juga akan meninggikan derajat seseorang yang mampu menjaga lisannya. Bukankah kita semua berkeinginan kuat Allah meridhai kita dan memberikan kasih sayang-Nya yang terbatas pada diri kita, keluarga dan keturunan kita?.

Para amil yang mulia, mulai saat ini, mari kita jaga lisan kita dan pastikan hanya ucapan kebaikan yang keluar dari lisan kita.

Wallahu’alam Bishowwab.

#Ditulis di Ciawi Bogor, Menjelang fajar di hari libur moment Maulid Nabi, 20 Oktober 2021.

Advertisement