SITI ZUBAIDAH (25) berusaha tetap tegar saat diwawancarai TV One tentang peristiwa tragis suaminya yang meregang nyawa akibat diguyur bensin, kemudian disulut api oleh massa di Desa Hurip Jaya, Kec. Babelan, Bekasi, Kamis (3/8).
“Walau suami saya bersalah pun, apa pantas ia diperlakukan sekeji itu, “ protes Siti seraya menyebutkan bahwa almarhum suaminya, MA adalah sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab pada anak-isterinya.
Menurut Siti, MA seperti biasanya di hari naas itu keluar rumah, mencari peralatan audio seperti amplifier atau pengeras suara bekas di sekitar Bekasi yang akan diperbaiki di rumah, kemudian dijual lagi.
Di rumah kontrakan seluas 5 x 10 meter di Desa Cikarang, Cikarang Utara, Bekasi, MA saat hayatnya juga menerima pesanan perbaikan peralatan audio dari para tetangga atau orang yang sudah mengenalnya dengan penghasilan antara Rp20 sampai Rp70.000 sehari.
Namun di hari terakhirnya, MA dituduh mencuri amplifier di sebuah mushala di Desa Hurip Jaya, sekitar empat Km dari pasar Muara Bakti, Babelan, Bekasi.
Pengurus mushala, Rozali berusaha mengejar MA setelah mengetahui, amplifier di mushala hilang setelah korban shalat dan kemudian memergoki barang itu ada di jok sepeda motor milik MA yang diparkir di kawasan Jembatan Muara, dekat pasar.
Berdasar penuturan Rozali, MA malah melarikan diri meninggalkan sepeda motornya saat ia meminta amplifier itu dikembalikan, sehingga ia meneriaki dan mengejar korban diikuti massa di sekitar lokasi. MA sempat menceburkan diri ke sungai karena panik sebelum akhirnya dibekuk dan dihakimi massa.
Di negara Indonesia yang menjunjung tinggi hukum dan di bumi Pancasila ini, nasib yang menimpa MA sungguh ironis, tragis dan dan selayaknya tidak terjadi.
Entah apa yang dirasakan oleh kerumunan massa saat kejadian, bahkan seolah tak terusik rasa kemanusiaan mereka, sebagian malah asyik mengabadikan kejadian itu dengan ponsel, ketimbang berusaha menghentikan perbuatan biadab itu.
Mungkin itu lah cerminan masyarakat yang sakit, akibat akumulasi segudang persoalan, seperti krisis kepercayaan pada aparat penegak hukum dan krisis keteladanan, mati rasanya kemanusiaan dan toleransi, himpitan ekonomi, kemiskinan dan kebodohan.
Jika terbukti mencuri pun, hukuman yang ditimpakan pada MA sungguh sangat tidak setimpal, apalagi, bisa dibayangkan trauma berkepanjangan yang dialami isterinya, Siti Zubaidah yang sedang hamil enam bulan, begitu pula puteranya, Al.
Peristiwa yang menimpa MA juga mengusik rasa keadilan masyarakat,selain karena almarhum belum terbukti bersalah, sementara sejumlah napi narkoba dan koruptor yang jelas-jelas merugikan, menyengsarakan dan merusak jutaan orang mendapat perlakuan istimewa di lapas atau rutan.
Kehilangan nalar
Menurut sosiolog Musni Umar, di tengah kerumunan, orang cenderung kehilangan nalar atau akal sehat sehingga mudah digerakkan untuk melakukan sesuatu secara berjamaah. Setiap kejadian, ujarnya, hendaknya dijadikan pembelajaran untuk membenahi akar persoalannya yang ada di hulu.
Mungkin salah satu penyebabnya, ketidakpercayaan masa pada kinerja aparat penegak hukum sehingga orang mengambil tindakan sendiri, atau rendahnya sikap keteladanan di tengah masyarakat.
Sementara psikolog, Oriza Sativa menilai, di tengah kerumunan massa, kadang-kala terjadi overshare atau sikap kebersamaan berlebihan yang menyebabkan penurunan derajat moralitas, hilangnya kepekaan atau rasa kemanusiaan.
“Karakter diri (yang positif-red), tiba-tiba berubah menjadi sikap kelompok anonimitas yang berbahaya bagi pihak lain, “ tuturnya seraya menambahkan, rasa kesal akibat kemacetan lalu-lintas sepanjang hari di ibukota misalnya, bisa membuat orang menjadi agresif karena frustrasi.
Sangat disayangkan, DPR juga tidak pernah merespons atau merasa terpanggil dalam pencegahan aksi-aksi amuk massa. Mungkin terlalu sibuk mengurusi Hak Angket untuk menyelamatkan rekan-rekan mereka yang terjerat kasus korupsi atau menyimak isu pilkada dan pemilu.
Pendidikan karakter bangsa a.l. melalui Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) dan revolusi mental yang digaungkan Presiden Joko Widodo selayaknya juga tidak sekedar hapalan, tetapi menyentuh upaya membangun toleransi, kesetiakawanan, termasuk mencegah amuk massa.
Amuk massa, sebenarnya kejadian yang berulang-ulang terjadi, seperti baru saja yang menimpa suporter bobotoh di Bandung, aksi-aksi geng motor di berbagai kota, tawuran antaradesa atau antarsiswa, bahkan dalam bentuk kekerasan oleh senior terhadap junior siswa sesama sekolah atau mahasiswa sekampus.
Dari hulu, sikap toleransi, sadar hukum dan kemanusiaan harus ditanamkan mulai dari lingkungan rumah, pengajian atau kebhaktian dan di kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah
Sementara di sisi hilirnya sikap tanggap dan kehadiran aparat penegak hukum, baik untuk mencegah maupun menindak pelakunya perlu terus ditingkatkan.
Semoga tragedi maut yang menimpa MA, menggugah kesadaran bagi segenap pemangku kepentingan untuk bersama-sama merumuskan agar peristiwa amuk masa tidak terulang lagi.
Korban sudah berjatuhan, tunggu apa lagi untuk bertindak?





