Ubah Taktik, NIIS Berencana Ledakkan Pesawat

NIIS merancang peledakan pesawat maskapai UEA Etihad dari Sydney ke Dubai l5 Juli lalu (tempo.com)

TAKLUK di palagan utama di Irak dan Suriah, tidak membuat kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) menghentikan aksi-aksi terornya, dan diduga mulai mengubah taktik, salah satunya  dengan merencanakan peledakan pesawat udara.

Hal itu terungkap dengan dicokoknya empat tersangka perancang peledakan pesawat milik maskapai Uni Emirat Arab, Etihad Airways dengan rute penerbangan Sydney – Abu Dhabi oleh kepolisian federal  Australia Kamis lalu (3/8).

Beruntung, dinas rahasia Inggeris dan Amerika Serikat berhasil menyadap pembicaraan antara para eksekutor di lapangan dan pimpinan mereka di Suriah mengenai rencana peledakan pesawat itu dan kemudian meneruskan informasi pada aparat Australia.

Bahan peledak rakitan yang akan digunakan dikirim dengan pesawat kargo dari Turki ke Sydney, sempat lolos dari bandara pemberangkatan karena disamarkan sebagai alat pencacah daging yang dikemas dan dimasukkan ke dalam koper.

Rencana aksi teror terungkap saat petugas bandara Sydney tidak meloloskan koper berisi bom rakitan itu saat akan diangkut lagi untuk diterbangkan dengan pesawat Etihad Airways yang dijadwalkan terbang dari Sydney menuju Dubai, 15 Juli lalu.

Petugas yang mencurigai isi koper karena beratnya tidak wajar, menahan barang kiriman itu dan kemudian rencana peledakan terkuak setelah polisi berhasil menangkap empat tersangka.

Selain Mahmoud Khayat (32) dan dan Khaled Khayat (49) , tersangka lain, Abdul Merhi dibebaskan karena tidak terbukti, sementara yang satunya lagi, Khaled Merhi  masih berada di dalam tahanan.

Walaupun kali ini, konspirasi peledakan pesawat bisa digagalkan, pakar keselamatan penerbangan di Universitas Deakin Melbourne  Greg Berton mengingatkan, tidak mustahil jika aksi-aksi serupa dirancang pula di tempat-tempat lain.

“Di Melbourne kali ini mereka gagal, tetapi mereka bisa mencoba lagi di tempat-tempat lain yang risikonya tidak terduga, “ ujar Berton mengingatkan.

Era kejayaan NIIS sejak diproklamasikan di masjid al-Nuri di Mosul, Irak 10 Juni 2014 memang semakin mereda setelah kota tua bersejarah yang dijadikan ibukota itu direbut pasukan koalisi Irak bersama milisi Kurdi dan Legiun Arab.

Benteng terakhir NIIS di kota Raqqa, Suriah juga kembali diambil alih oleh pasukan koalisi Suriah (SDF) yang didukung gempuran udara dari AS dan Rusia pekan lalu.

Selain mencari front pertempuran baru seperti di Afghanistan dan Marawi, Filipina, aksi-aksi teror oleh perorangan (lone wolf) atau kelompok-kelompok  kecil berafiliasi dengan NIIS, termasuk meledakkan pesawat,  perlu terus diwaspadai. (AP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement