Anak Keluarga Tak Mampu ini Derita Lumpuh Layu, Butuh Biaya Pengobatan

Ilustrasi

MAKASSAR – Nurul Jannah, anak berusia sembilan tahun mengalami lumpuh layu dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki biaya pengobatan.

“Awalnya anak saya lahir normal, tapi beberapa lama terkena demam tinggi, lalu step, setelah itu begini kondisinya sampai sebesar ini,”tutur Riri, sang ibu, yang tinggal di  jalan Andi Mangerangi lorong 11 Kelurahan Bongayya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (7/11/2017).

Sebagai ibu rumah tangga yang membesarkan anaknya sendiri dengan hidup sangat miskin, dirinya pasrah sambil berdoa kepada Tuhan agar diberikan ketabahan merawat anaknya, hingga terus berharap ada bantuan baik dari pemerintah maupun dermawan lainnya.

“Dulu pernah dapat KIS (Kartu Indonesia Sehat) tapi tidak bisa saya gunakan penuh, selain keterbatasan biaya transportasi juga beban hidup berat terpaksa anak saya rawat seadanya. Kadang kami dapat makanan dari keluarga jauh, biasa pun Jannah makan nasi campur kecap,”ucapnya lirih.

Riri harus menghidup anaknya karena suaminya,  Yan Arfandi (43)  pergi bekerja di Jakarta, tetapi belakangan juga tidak dapat pekerjaan tetap, sehingga tidak dapat mengirimkan uang untuk Riri dan anaknya.

Tidak hanya itu, kondisi rumahnya sangat tidak layak huni dan sangat kecil, terkadang air masuk ke dalam rumahnya akibat atap bocor. Sedangkan anaknya hanya terbaring kaku diatas lantai semen beralaskan tikar plastik usang, itupun pemberian dari tetangganya yang prihatin melihat kondisinya.

Anak semata wayangnya ini, kata dia, terkena lumpuh layu sejak usia satu tahun, dengan berbesar hati anaknya pun dibesarkan dengan semampu tenaganya. Tidak hanya itu, terkadang dirinya memasak mengunakan kayu, karena kompor saja tidak dia punya untuk memasak buat anaknya tersebut.

Kendati demikian, dirinya pantang untuk mengemis, apalagi mencari cara tidak halal untuk buat makan anaknya. Namun selalu saja ada bantuan dari keluarga dan orang disekitarnya yang iba melihat kondisinya itu.

“Kami biasanya makan berdua, saya tidak mau mengemis karena itu bukan perbuatan mulia. Mungkin semua sudah diatur oleh Allah SWT, apapun resikonya ini tanggunjawab dan amanah buat saya,”paparnya, dikutip Antara.

Wanita yang kini berusia 35 tahun itu, tetap berusaha dan berdoa kepada tuhan agar diberikan kekuatan dan jalan menghadapi hidup ini, meskipun berat dan terkadang rasa jengkel merawat anaknya datang, namun dirinya selalu mengembalikan kepada yang Maha Kuasa.

 

Advertisement