PAPUA – Sejumlah warga pengungsian dari Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua, mengaku sangat membutuhkan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan.
Sarce Rumaropen Beanal (28), salah satu pengungsi dari Kampung Banti, mengatakan putranya bernama Jeferson Beanal (8) yang masih duduk di kelas 1 SD Negeri Banti sudah berbulan-bulan tidak bersekolah.
“Anak saya sudah tidak sekolah sejak ada kejadian longsor di Utikini bulan Agustus. Apalagi setelah situasi di kampung tidak aman karena ada kasus penembakan maka anak-anak tidak pernah sekolah lagi. Makanya kami putuskan untuk turun ke Timika,” kata Sarce, kepada Antara.
Dia mengaku suaminya tidak ikut dievakuasi ke Timika pada Senin petang lantaran harus bekerja di PT Freeport Insonesia di Tembagapura.
Menurut Sarce, warga mendapat pemberitahuan akan dievakuasi ke Timika pada Minggu (19/11/2017) di gereja Kingmi Jemaat Banti. Namun menurutnya tidak ada paksaan dan masih banyak warga Banti yang tinggal di kampung.
Selama tiga pekan Kelompok Kriminal Bersenjata/KKB menduduki Kampung Banti, Sarce sekeluarga mengaku tidak mengalami tindakan intimidasi dari kelompok tersebut.
Ia berharap selama mengungsi sementara ke Timika, putranya Jeferson Beanal bisa bersekolah kembali.
Selain dari Banti, warga pengungsi lainnya berasal dari Kampung Opitawak.
Warga yang mengungsi dari ketiga kampung itu ke Timika sebanyak 804 orang, dimana sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.
Hingga Senin malam, para petugas Pemkab Mimika masih melakukan pendataan identitas para pengungsi bertempat di Gedung Eme Neme Yauware Timika yang dijadikan sebagai Posko penampungan pengungsi Tembagapura.
Beberapa warga pengungsi harus diangkut dengan tenda dari bus yang membawa mereka menuju Posko kesehatan karena sakit dan pingsan selama perjalanan lebih dari dua jam dari Tembagapura.




