BANGLADESH – Anak-anak rohingya masih menderita trauma dan belum mampu menghilangkan ingatan kekejaman yang dilakukan tentara Myanmar terhadap saudara-saudaranya bahkan orangtua mereka sendiri.
Mereka mencoba menggambarkan lewat sebuah sketsa di atas secarik kertas yang menurut mereka bisa menghilangkan kekesalannya yang masih terpendam hingga detik ini.
Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun mengungkapkan, “Di desaku, mereka melakukan ini,” katanya, mengacu pada sketsanya tentara yang membunuh orang dan keluarga di rumah-rumah yang terbakar.
Salah satu gambarnya, jelasnya, menunjukkan sebuah taman bermain tempat tentara datang dan membunuh anak-anak, di tempat lain, dengan helikopter ungu dan hitam, dia menunjuk sosok seorang tentara yang membunuh seorang anak dengan menginjak dadanya”.
“Kami disiksa oleh tentara Myanmar. Ketika saya menggambar gambar-gambar ini, saya merasa baik [setelah itu],” katanya, menjelaskan bahwa gambar itu membantu dia mengungkapkan apa yang dia alami, sebagaimana dilansir Al jazeera, Rabu (11/10/2017).
Mereka menggambarnya di ruang aman untuk anak-anak yang dikelola oleh Pusat Pengembangan Komunitas LSM setempat (CODEC) dalam kemitraan dengan United Nations Children’s Fund (UNICEF), serta ruang dan sekolah serupa lainnya di kamp-kamp pengungsian, yang memungkinkan anak-anak Rohingya untuk berinteraksi satu sama lain. . Menurut UNICEF, sekitar 60 persen pendatang pengungsi baru adalah anak-anak.
Awalnya, ketika para guru dan petugas penjangkauan pergi dari pintu ke pintu untuk memberitahu orang tua tentang ruang ini, banyak orang dewasa bertanya apakah anak mereka akan selamat, jelas Lutfur Rahman dari CODEC.
Ketika anak-anak pertama kali datang, mereka tidak mau saling berbicara, dan mereka juga bingung apakah tempat ini aman atau tidak. Mereka tidak nyaman saat diberi bahan kertas dan gambar. Namun kini mereka menikmatinya dan dapat meluapkan kesedihan dan kekesalannya.





